READING

Bila Mengalami Hipotermia, Ini yang Harus Kamu Lak...

Bila Mengalami Hipotermia, Ini yang Harus Kamu Lakukan

Hipotermia kerap memakan korban hingga meninggal. Ditemukan dalam kondisi telanjang karena merasa kepanasan padahal sebetulnya kedinginan. Pertolongan skin to skin sangat membantu dalam kondisi darurat, namun pencegahan dan persiapan pendakian yang matang jauh lebih bagus.

Sebuah berita viral di dunia maya tentang seorang pendaki perempuan yang disetubuhi teman laki-lakinya agar selamat dari hipotermia. Peristiwa ini diunggah oleh akun Twitter @willykurniawanid pada 18 Juli 2019. Tentu saja peristiwa ini menuai kritik warganet.

Sebetulnya, apa yang harus dilakukan ketika mengalami hipotermia? Simak pengalaman pendaki asal Madura, Puji Rahayu (Ayu) dan Paman yang membantu dua orang pendaki yang mengalami hipotermia.

Mereka mendaki Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada akhir Desember 2018 melalui jalur Cetho. Jalur ini lebih terjal dibandingkan jalur Cemoro Lawang atau Cemoro Kandang. Era tahun 1990-an ketika Ayu masih aktif sebagai di PMPA (Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Kompos) Fakultas Pertanian, UNS, jalur Cetho sangat sepi. Kini, tak ada gunung yang sepi. Pun jalur Cetho.

Ia naik bersama rombongan, bahkan mengajak anak-anak yang masih usia di bawah 10 tahun. Memang tidak menargetkan sampai puncak. Berangkat dari pos pendakian pukul 13.00 WIB. Menjelang gelap, mereka memutuskan mendirikan tenda di pos 3. Di sana pun penuh, sebab pendakian sedang ramai. Di sini, mereka bermalam dan memasak.

Baca juga: Menunggang Bahaya di Punggung Naga Gunung Piramid Bondowoso

“Kami memang jalan pelan dan memastikan anak-anak dan anggota tim lainnya perutnya kenyang,” kata Ayu. Kenyang, cukup kalori, adalah kunci agar bertahan dari hipotermia. Gangguan yang kerap dialami oleh pendaki. Kelaparan, udara dingin, oksigen tipis, dan kelelahan merupakan faktor-faktor yang mengundang hipotermia datang.

Korban akan menggigil kedinginan. Lama-lama justru menjadi gerah dan panas. Sebuah mekanisme tubuh untuk bertahan di hawa dingin. Efeknya, setelah merasa kegerahan, korban akan melepas satu demi satu pakaiannya. Tak heran, kerap kali korban hilang digunung, ditemukan dalam kondisi telanjang. Pun kerap kali ditemukan di dekat sungai/sumber air. Biasanya, mereka tersesat, jatuh di jurang, cidera, lalu akan mengalami hipotermia hingga meninggal.

Satu dua korban hilang dan ditemukan meninggal di Lawu biasanya mengalami hipotermia. Peristiwa tragis pernah terjadi di gunung ini pada pertengahan tahun 1987. Belasan orang ditemukan tewas karena hipotermia. Mereka adalah para santri dari salah satu ponpes di Solo yang sedang berkegiatan di Lawu.

Menginap dan memasak di pos III, jalur Cetho. Pastikan perut tidak kosong untuk mencegah hipotermia. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Bekal Cukup dan Jangan Terpisah dari Rombongan

Esok harinya, rombongan melanjutkan pendakian hingga pos IV tanpa membawa tenda dan ada yang menjaga. Mereka hanya membawa makanan secukupnya sebab hanya sampai pos IV. Bekal berupa kue, makanan yang bergula, dan air.

“Saya mengajari Bening (11 tahun), harus selalu menyisihkan bekal yang tidak boleh dibuka hingga kita sampai di peradaban,” kata Ayu yang juga instruktur MPRG (Manajemen Perjalanan dan Rimba Gunung). “Bekal abadi” ini harus lekat di badan, tidak boleh dibawakan oleh orang lain. Bekal ini berupa sebungkus kue manis, coklat atau permen, dan air minimal 500ml. Bekal ini akan digunakan jika terjadi hal-hal di luar keinginan. Misalnya tersesat, terpisah dari rombongan, atau waktu pendakian molor sehingga bekal reguler sudah habis.

Baca Juga :https://jatimplus.id/hipotermia-lebih-mengintai-pendaki-solois/

Lebih lengkap lagi, Ayu menyarankan untuk memiliki kotak survival. Isinya berupa peralatan P3K (obat luka, obat diare, perban, torniket), jarum jahit dan benang, coklat/gula merah, peluit (untuk SOS), minyak komando (minyak goreng yang ditambahkan dengan irisan bawang merah), korek (baiknya dimasukkan dalam wadah kedap air), cermin (untuk SOS), dan bila perlu alat berburu (pancing/pisau). Barang-barang ini kecil, sehingga bisa dikemas dalam satu kotak dan tak boleh lepas dari badan. Bila tersesat dan terpisah dari rombongan, masih bisa bertahan setidaknya bisa menenangkan diri.

Hal ini rupanya terjadi pada keesokan harinya. Usai turun dari Pos IV, mereka menginap lagi di Pos III. Menjelang siang, ketika packing, dua orang pendaki laki-laki usia 20-an tahun dari rombongan lain singgah di tendanya. Rupanya mereka ingin mengisi air, sebab tak jauh dari tenda memang sumber air.

Paman melihat kondisi kedua pendaki tersebut tidak sehat dan lumayan parah. Satunya gemetaran dan terduduk dengan muka sangat pucat, satunya lagi lemas dan sudah susah respon. Akhirnya Paman, setengah memaksa, meminta dua pendaki tersebut tinggal sejenak. Memang belum mengalami hipotermia, tapi kalau dibiarkan, tak lama lagi petaka itu bisa terjadi.

Paman membaluri seluruh tubuh dengan minyak kayu putih. Lalu Ayu merebus air untuk membuat teh manis hangat. Gula dan minuman hangat adalah cara mencegah hipotermia. Setelah minum, kondisinya berangsur membaik. Menjadi sehat dan bisa melanjutkan perjalanan setelah makan nasi.

“Mereka tertinggal dari rombongan,” kata Paman. Dua pendaki ini yang paling lemah. Makanya beban berat termasuk makanan diserahkan pada teman yang lain untuk dibawa turun. Sementara mereka hanya membawa sampah dan sedikit air. Jelas ini merupakan pembagian yang salah. Yang lemah justru ditinggal, tanpa makanan pula. Bagaimanapun, mendaki gunung bukan sekadar sampai puncak. Namun kembali ke rumah dalam kondisi sehat dan lengkap dari seluruh tim.

Metode Skin to Skin

Selain logistik cukup (tidak berlebih), kekompakan tim merupakan kunci keselamatan pendakian. Bila salah satu ternyata mengalami hipotermia, pertolongan pertama dengan menghangatkan tubuh korban. Pertama, pastikan melepaskan pakaian basah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Selimuti agar hangat. Sekarang sudah ada selimut yang berbahan alumunium foil dan bisa dilipat sangat tipis. Selimut ini bisa dimasukkan dalam kotak survival. Selain itu, pastikan perut tidak kosong.

Bila semua itu sudah dilakukan dan korban belum juga membaik, maka metode skin to skin bisa dilakukan. Konsepnya, menyalurkan hawa panas tubuh si penolong kepada korban. Tekniknya, bila pelukan tidak cukup maka penolong dan korban masuk dalam kantong tidur dalam kondisi buka baju (telanjang). Cara ini merupakan pilihan terakhir jika semua cara sudah dilakukan. Pun bila korban berkenan, apalagi jika penolongnya beda jenis kelamin.

Namun perlu diketahui, bukan untuk sebuah persetubuhan. Bagaimana pun juga, pendaki harus menghormati gunung. Sebab gunung bukan sekadar tempat wisata, namun bagi sebagian masyarakat, gunung merupakan tempat suci. Tempat mereka menautkan diri pada Semesta sehingga betapa jahatnya ketika pendaki datang dari luar dan tidak menghormatinya.

“Alam bisa menegurnya. Teguran alam itu kadang mengerikan,” pesan Ayu. Bagaimanapun, para pendaki tetap ingin mendaki tanpa harus mendapatkan stigma buruk akibat tindakan yang tak perlu. Pada dasarnya, mendaki adalah cara lain untuk mencintai dan menghormati alam. “Setubuhilah” alam, bukan teman.

Reporter : Titik Kartitiani
Editor    : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.