READING

Bila Mudik Lebaran, Jangan Lupa Beli Tahu Takwa di...

Bila Mudik Lebaran, Jangan Lupa Beli Tahu Takwa di Gang Tinalan. Hangat, Baru Keluar dari Cetakan

Tak ada aroma industri tahu yang kerap diidentikan dengan bau tak sedap. Gg Tinalan II seperti gang-gang lain di permukiman Kota Kediri, Jawa Timur. Hanya kalau diperhatikan, gang ini bangun lebih awal.

Uap yang dihasilkan dari perebusan bubur kedelai di belanga besar dapur tahu Bintang Barokah. Belanga ini dipanaskan dengan kayu bakar. FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

KEDIRI – Gang ini dibangunkan oleh kepulan uap panas di belakang rumah dari belanga besar yang dipanaskan dengan kayu bakar. Biasanya, mulai pukul 03.00 WIB, kesibukan senyap dimulai. Mencuci kedelai, menggiling, merebus dalam belanga besar, dan mencetaknya.

Ketika matahari mulai menghangatkan langit, tahu-tahu hangat pun tercetak dan siap dikirim ke pasar atau ke pemesannya. Pengunjung bisa menyaksikan proses pembuatan tahu ini. Rata-rata mereka tidak masalah ketika didatangi dapurnya, asalkan tidak mengganggu proses produksi. Sebab hasil dari dapur tak luas ini sudah ditunggu di pasar-pasar tradisional, setiap pagi.

Pengusaha tahu mengirim ke penjual tahu di pasar-pasar tradisional di kawasan Kota Kediri. Atau ada yang menyediakan pesanan, bahan setengah jadi untuk usaha makanan lain. Misalnya pengusaha tahu bakso, penjual bakso, dan olahan makanan berbahan tahu.

Tahu takwa merupakan tahu putih yang direbus ulang dengan pewarna kuning, baik dari pewarna makanan maupun kunyit.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

“Saya menjualnya ke Pasar Pahing,” kata Mujais (69th), pengusaha tahu “MJS”. Berbeda dengan sentra tahu di Jalan Patimura, Kota Kediri. Mereka rata-rata memproduksi tahu untuk memenuhi gerainya.  Pengusaha tahu gang Tinalan ini menyuplai ke pasar dan pengusaha lain.  Selain juga menjual di gerai sepanjang gang ini. Biasanya sebelum pukul 12.00 WIB, tahu-tahu ini masih hangat. Setelah pukul 12.00 WIB, kadang tidak kebagian tahu basah. Setelahnya, Anda bisa berbelanja olahan tahu di gerai-gerai gang ini. Ada stik tahu, tahu bulat, tahu goreng, dan beragam penganan lainnya. Toko buka hingga sore.

Silakan membeli sebagai oleh-oleh. Harganya lebih murah dibandingkan di pasar sebab langsung dari produsennya. Antara Rp 13.000 sampat Rp 17.000 per 10 potong tahu takwa (tahu kuning). Biasanya, tahu yang menggunakan pewarna kunyit asli, harganya lebih tinggi. Tahu yang menggunakan pewarna kunyit ini enak untuk langsung dimakan, bahkan tanpa diolah lagi.

Soal keamanan makanan, Mujais mengaku, ia memproduksi tahu tanpa bahan pengawet sintetis. Setelah dibeli, tahu takwa maupun tahu putih hanya tahan 3 hari di dalam kulkas. Kalau di suhu kamar, hanya tahan 2 hari, setelahnya sudah tidak enak meski masih bisa dimakan.

“Dari pertama bikin tahu, tidak tahu seperti apa itu formalin. Seperti apa itu boraks. Karena kami tidak pernah pakai,” pengakuannya.

Penggunaan kunyit selain sebagai pewarna, juga sebagai pengawet alami. Demi menekan biaya produksi, tak semua pengusaha di sini menggunakan kunyit. Ada yang menggunakan pewarna makanan. Ciri khasnya, tahu yang menggunakan kunyit, warnanya lebih terang, tidak kuat. Sedangkan tahu yang menggunakan pewarna makanan, warna kuningnya lebih kuat.

Pengusaha tahu menggunakan campuran antara kedelai lokal dan kedelai impor.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Kedelai yang digunakan pun campuran antara kedelai lokal dan kedelai impor. Untuk kedelai lokal, harganya Rp 6.700/kg sedangkan kedelai impor Rp 6.600/kg. Menurut Mujais, kedelai lokal sebetulnya lebih bagus untuk membuat tahu. Hasilnya akan lebih padat dan gurih. Namun, “sampah” alias material campuran di dalam kedelai lokal lebih banyak dan tahunya lebih sedikit. Harga jualnya tidak bisa bersaing. Maka, Mujais dan pengusaha lain di gang ini mencampurnya dengan kedelai impor. Kedelai impor lebih bersih dan menghasilkan tahu lebih banyak. Silakan memilih, tergantung selera.

Mujais memproduksi sekitar 6.000 potong tahu per hari. Angka ini merupakan jumlah rata-rata yang dihasilkan pengusaha di sini. Ada beberapa yang menghasilkan lebih banyak.  Jadi, jika ada 16 pengusaha, maka minimal 96 ribu potong dihasilkan per harinya dari gang ini.

Tahu, Jejak Harmoni Tionghoa di Kediri

Pengusaha di gang Tinalan bukan orang-orang Tionghoa yang memelopori hadirnya industri tahu di Kediri. Kemungkinan mereka belajar dari orang-orang Tionghoa. Namun pernyataan ini belum terlacak, sebab rata-rata mereka generasi kedua dan ketiga.

“Dulu paklik (paman) saya yang memulai usaha di gang ini. Pak Lik Markam pengusaha tahu yang pertama di sini. Lalu ibu saya ikut bikin usaha, Ibu Supinah. Lalu saya lanjutkan. Sekarang dipegang anak saya,” pengakuan Mujais. Ia tidak tahu tempat Markam belajar tahu. Dulunya memang bekerja di tempat lain. Hanya ia tidak tahu, di mana ia bekerja. Sedangkan Markam sendiri perantauan dari Tulungagung yang menetap di Kota Kediri.

Ada 16 pengusaha tahu di sepanjang Gang Tinalan antara lain Surya, Populer, 99, Bintang Barokah, dan lain-lain. Mereka memproduksi tahu putih dan tahu takwa (tahu kuning). Tahu putih, seperti tahu pada umumnya. Sedangkan tahu takwa merupakan tahu khas Kediri.

“Kalau tahu takwa, dari tahu kuning yang direbus lagi. Saya merebusnya pakai kunyit,” kata Mujais. Perebusan ulang ini menjadikan tahu lebih padat dan lebih kenyal. Selain itu juga ditambahkan sedikit garam, sehingga tahu sudah agak asin.

Mujais di dapurnya, pengusaha tahu dengan merek MJS.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Tahu bagi Kota Kediri tak hanya sebagai penganan khas dan industri. Tahu takwa adalah narasi sejarah, pertautan warga Tionghoa dan tanah Kediri. Suryatini G. Ganie dalam buku Dapur Naga di Indonesia mencatat bahwa tahu di Tiongkok sudah ada sejak 3.000 tahun lalu. Teknologi ini menyebar ke Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. Tahun 1292 bersama singgahnya Kubilai Khan tahun 1292, teknologi masuk ke Nusantara melalui tentara Tionghoa. Kediri diklaim sebagai kota pertama yang melahirkan tahu.

Pada tahun-tahun itu juga, banyak perantauan Tionghoa yang menetap di Kediri. Dari ribuan warga Tiongkok tersebut ada 3 orang yang memilih Kediri sebagai tempat tinggal mereka. Masing-masing adalah Lauw Soe Hoek atau Bah Kacung, Kaou Loung, dan Liem Ga Moy. Bah Kacung Pelopor Tahu di Kediri.

Ada wacana, gang Tinalan akan dijadikan tujuan wisata. Selain para pengusaha membuka diri untuk tamu-tamu yang mengunjungi dapurnya, juga rumah-rumah ini akan dicat warna-warni. Lebih berwarna dari warna-warna tahunya yang hanya kuning bersahaja namun memanjakan lidah. Perlukah warna-warni ini hadir di sini?

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.