READING

Bisakah Kita Terjangkit Virus Corona Dua Kali?

Bisakah Kita Terjangkit Virus Corona Dua Kali?

Hingga saat ini masih banyak orang yang kesulitan menyadari bahwa mereka terjangkit virus corona. Selain kapasitas tes yang masih terbatas, beberapa orang tidak menunjukkan gejala meski dinyatakan positif. Beberapa kasus juga lambat diketahui karena baru dilaporkan setelah pasien positif meninggal dunia.

Lemahnya deteksi dini virus corona ini menumbuhkan pertanyaan lain di kalangan masyarakat. Jika kita terjangkit dan sembuh, apakah kita menjadi kebal dari penyakit tersebut? Jawabannya masih belum tahu. Tapi beberapa ilmuwan sudah mulai menelitinya.

Seperti yang terjadi di pusat penularan COVID-19. Beberapa media baru-baru ini menyebutkan kasus di Wuhan, Tiongkok mengalami penurunan. Tenaga medis bantuan dipulangkan. Warganya pun sudah mulai beraktifitas di luar rumah pasca lockdown total.

Namun tidak berapa lama kemudian, dikabarkan terjadi peningkatan kembali jumlah pasien untuk kedua kalinya. Temuan ini meski nyata, namun belum representatif untuk dijadikan acuan karena belum dipastikan apakah kasus tersebut terjadi di banyak tempat atau hanya tempat-tempat tertentu saja.

Atas temuan ini, para ilmuwan dari Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok di Beijing mengujicobakan virus corona ke empat kera rhesus. Dari hasil penelitian, diketahui seluruh hewan menunjukkan gejala dan kemudian sembuh. Keempatnya memproduksi antibodi (protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi).

Setelah itu, para peneliti mencoba untuk menginfeksi kembali kera-kera tersebut namun mereka tidak menunjukkan gejala kambuh. Meski telah menunjukkan hasil, kesimpulan dari penelitian ini masih belum benar-benar teruji karena belum diterapkan pada manusia dan lingkup penelitiannya masih sempit.

Menurut Amesh Adalja, ilmuwan senior Johns Hopkins Center yang dikutip dari Medium.com menjelaskan bahwa memang beberapa jenis virus yang masuk dalam keluarga virus corona (seperti MERS, SARS) menghasilkan kekebalan jangka pendek. Namun untuk covid-19 sendiri masih belum bisa dipastikan.

“Saya percaya bahwa orang memiliki kekebalan yang meningkat setelah terinfeksi beberapa bulan setelahnya. Kekebalan ini bisa berkurang seiring berjalannya waktu sehingga infeksi berulang bisa saja terjadi,” tambahnya.

Saat ini ilmuwan di berbagai institusi dari berbagai belahan dunia sedang bekerja mengembangkan tes antibodi untuk manusia. Tes ini akan membantu mempelajari apakah seseorang bisa terjangkit kembali atau tidak. Tidak hanya itu, beberapa peneliti juga sedang mengidentifikasi antibodi mana yang paling efektif melawan virus.

Pengembangan kekebalan terhadap SARS-CoV-2 ini hanya bisa dinilai dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan pada tubuh orang yang selamat dari infeksi parah. Jika telah ditemukan, antibodi ini nantinya akan diproduksi dalam jumlah yang besar untuk tujuan pencegahan atau pengobatan.

“Tentunya menggunakan plasma dari orang yang selamat adalah salah satu pengobatan potensial melawan covid 19 yang parah untuk membangun antibodi yang efektif,” terang Albert Rizzo, kepala medical officer Asosiasi Paru-paru Amerika.

Penulis : Dina Rosyida
(Saduran bebas dari tulisan Alexandra Sifferlin)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.