READING

BKSDA Lacak Keberadaan Buaya di Belakang Pusat Per...

BKSDA Lacak Keberadaan Buaya di Belakang Pusat Perbelanjaan Kediri

KEDIRI – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri terus melacak keberadaan buaya di Sungai Brantas. Hewan ini sempat terlihat warga berada di belakang pusat perbelanjaan dan memicu keresahan.

Keberadaan buaya ini pertama kali terlihat oleh warga pada Selasa, 4 Februari 2020. Penampakan buaya di tepi Sungai Brantas Kelurahan Ringinanom, Kecamatan Kota, Kediri ini pun sempat dipotret.  “Ada warga yang memotret dan melaporkan kepada kami,” kata Adi Sutrisno, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri, Kamis 6 Februari 2020.

baca juga: Buaya di Belakang Mall Kediri Diduga Sengaja Dilepas

Laporan itu langsung ditindaklanjuti BPBD dengan melakukan pemeriksaan di lokasi. Bersama Babinkamtibmas dan warga, mereka menyisir bantaran Sungai Brantas yang diduga menjadi habitat buaya tersebut.

Menurut Adi Sutrisno, merujuk pada foto yang diambil warga, buaya itu diduga berjenis alligator missippienis dan sarcosuchus hartti. Masyarakat awam kerap menyebutnya dengan buaya muara.

Untuk menyelidiki keberadaan buaya itu, sejak semalam relawan Palang Merah Indonesia dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menunggui lokasi tersebut. “Semalam pukul 19.00 – 19.30 WIB, buaya itu muncul lagi dan sempat diabadikan oleh dua relawan itu,” kata Adi.

Hari ini dua petugas BKSDA Jawa Timur terjun ke lokasi kemunculan buaya di Sungai Brantas untuk menyelidiki kemungkinan habitat mereka. Belum dilaporkan adanya korban manusia dan hewan atas keberadaan buaya tersebut.

Legenda Buaya Putih

Cerita tentang keberadaan buaya putih di Sungai Brantas Kediri sudah berkembang sejak zaman kerajaan kuno Kediri. Cerita itu terus dipelihara hingga sekarang meski tak ada yang pernah tahu perwujudannya.

Imam Mubarok Muslim, sejarawan Kota Kediri mengisahkan kisah buaya putih ini lekat dengan Sungai Brantas yang menjadi lalu lintas air di masa Empu Sindok, atau Mataram Hindu. “Dikisahkan buaya putih itu selalu meminta korban nyawa manusia,” kata Mubarok.

Penumbalan nyawa manusia ini dikenal masyarakat sebagai “kalap”, yang bermakna matinya seseorang di Sungai Brantas. Beberapa sumber cerita, menurut Mubarok, menyebut jika penumbalan seperti itu sudah dilakukan oleh Mpu Baradah saat memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua, yakni Kerajaan Panjalu dan Jenggala sekitar tahun 1009.

Kisah buaya putih ini terus dirawat masyarakat pada zaman penjajahan Belanda. Seorang pengamat sejarah Indonesia asal Belanda, Oliver Johanes menyebut keberadaan buaya putih penunggu jembatan yang dibangun kolonial Belanda. Cerita itu banyak dibukukan di awal pembangunan proyek jembatan lama Brantas sekitar tahun 1836-876.

Selain di sekitar jembatan lama, legenda buaya putih ini juga disebut-sebut oleh masyarakat di aliran Sungai Brantas kawasan Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Di sana sang buaya putih bahkan mendapat julukan ‘Badug Seketi’.

“Badug Seketi dianggap tempat yang sangat wingit dan angker. Dari cerita tutur masyarakat setempat, si buaya putih dulu awalnya bersahabat dengan penduduk sekitar,” terang Mubarok.

Menyelamatkan Diri dari Buaya

Bertemu dengan binatang buas seperti buaya memang situasi yang sangat dihindari siapapun. Namun jika hal itu terjadi pada Anda secara tidak sengaja, gunakan tak-tik berikut ini untuk meminimalisir resiko keamanan.

Melansir artikel https://kumparan.com/kumparannews/tips-menghadapi-serangan-buaya tentang cara aman menghadapi buaya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghindari area sungai tempat buaya hidup. Karena itu kenali setiap daerah yang Anda jelajahi sebelum berhadapan dengan resiko terburuk.

Jika secara tak sengaja tercebur di dalam sungai yang menjadi habitat buaya, upayakan untuk tetap tenang. Membuat gerakan tubuh yang mendadak dan mendebur-deburkan air akan memancing perhatian buaya untuk mendekat.

Jurnalis satwa Chris Packham mengatakan hal utama untuk menjamin keselamatan diri saat berhadapan dengan buaya adalah menghindar dari serangan. “Satu-satunya cara agar selamat saat menghadapi buaya adalah dengan terhindar dari serangannya terlebih dahulu,” kata Packham.

Namun jika situasi tak terkendali dan buaya mulai menyerang, lakukan perlawanan dengan mencolok mata buaya dengan jari. Mata adalah satu-satunya organ buaya yang tak dilindungi kulit keras. Sehingga mencolok mata adalah satu-satunya peluang untuk melepaskan diri dari gigitan buaya.

Chris Packham juga memberikan deskripsi tanda-tanda buaya yang akan menyerang. Diantaranya adalah mengeluarkan suara mendesis dengan gestur siaga. Bila buaya sudah melakukan gestur tersebut, maka disarankan untuk segera membuat jarak, mundur perlahan dan tidak melakukan gerakan tiba-tiba. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.