READING

Bocah 11 Tahun di Tulungagung Teridentifikasi Seba...

Bocah 11 Tahun di Tulungagung Teridentifikasi Sebagai Homoseks

Hanya selang dua hari setelah peringatan Hari Anak Nasional 2019, terungkap data ratusan pelajar laki laki di Kabupaten Tulungagung memiliki prilaku seks abnormal, yakni menyukai sesama jenis atau homoseksual.  

TULUNGAGUNG- Wawancara itu berlangsung di penghujung tahun 2008 silam. Di sebuah kafe sederhana tengah kota, dengan sisi atas didesain sebagai balkon, kami mengambil tempat untuk bertiga. Sengaja mengambil jarak sedikit jauh dari hingar speaker aktif yang tak putus memperdengarkan irama hip hop.

Sambil menikmati kopi dan cemilan french fries, obrolan santai itu bergulir. Asap rokok di ruangan perlahan mengalir keluar di sela sela lobang angin yang tidak cukup lebar. Tanpa menyebut kelas dan nama sekolah, remaja laki laki itu memperkenalkan diri sebagai pelajar SMA. Masih muda.

Usia itu pas dengan penampilannya yang trendi. Arloji model sporty di pergelangan kiri. Kaus polo warna cerah, topi, dan sepasang sepatu merek ternama. Juga cocok dengan gaya bicaranya yang rileks. Tanpa beban.

Cerita tentang fenomena kehidupan homoseksual di Tulungagung. Kisah itu dituturkannya dengan fasih. Bagaimana angka kasus homoseksual di Kota Marmer itu dikatakanya ibarat piramida gunung es. Statistik di permukaan yang tidak sebanding dengan jumlah yang tidak terlihat.

Menurutnya, baru melihat ujungnya saja banyak orang sudah pada terperangah. Saat menyampaikan sindiran itu, senyum geli tergurat di wajahnya. Terlihat gaya kemayu yang sepertinya tidak dia sadari. “Jangan salah. Angkanya lebih banyak yang tidak terekspose lho, “tuturnya sembari tertawa.  

Remaja itu bisa bercerita dengan lancar karena dirinya berada dalam komunitas itu. Dia mengaku seorang homoseksual. Tidak hanya sekedar menjadi bagian. Dia juga cukup aktif terlibat di setiap kegiatan yang diselenggarakan bersama. “Disini ada perkumpulannya. Ada organisasinya, yang secara berkala bertemu, “katanya.

Sebelum memutuskan membuka diri lebar lebar, keraguan sempat terlihat. Air mukanya menunjukkan ekspresi antara perlu melanjutkan cerita atau cukup segitu saja. Banyak hal menjadi pertimbangan. Ancaman kelompok radikal salah satunya. Kemudian juga pertimbangan bagaimana jika keluarga kemudian tahu.

Dia sadar, disorientasi seksual yang dialaminya belum bisa diterima secara umum. Masih banyak yang memusuhi. Tidak sedikit yang memandang sebagai aib atau kutukan. Bahkan dia yakin orang tuanya pun akan bersikap serupa jika mengetahui hal itu.

“Di depan orang tua saya harus jaga rahasia. Mereka tidak tahu dengan apa yang saya alami,“terangnya yang mengaku gejala abnormal itu terasa sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sempat juga dirinya berusaha menjadi laki laki normal. Lelaki yang menyukai perempuan. Bahkan upaya mengekang hasrat dengan cara berpuasa dijalaninya. Namun semua itu hanya bertahan tiga bulan. Selebihnya hingga sekarang, apa yang dirasakan kembali pada “kodratnya”, yakni sebagai lelaki yang menyukai lelaki.

Begitu hijrah ke Tulungagung untuk sekolah, dirinya merasa menemukan keluarga. Dia menjumpai tidak sedikit pelajar Tulungagung yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Bahkan secara naluriah remaja ini mengaku bisa mengidentifikasi mana laki laki tulen dan mana yang menyukai sesama jenis.

Baginya cukup dengan membaca tabiat dan gaya bicaranya. “Kalau ada melambainya, hampir bisa dipastikan 90 persen adalah gay. Atau berpotensi besar seorang gay, “ungkapnya. Tidak hanya di kalangan pelajar sekolah. Fenomena homoseksual menurut dia juga banyak dijumpai di kelompok laki laki dewasa. Bahkan ada yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil.

Untuk menutupi jati diri, biasanya mereka juga menikah, dan tidak sedikit yang membuahkan keturunan. “Namun, diluar sepengetahuan keluarganya mereka juga memiliki hubungan sejenis, “katanya. Dia juga menolak anggapan umum gay serupa dengan waria, banci atau bencong. Keduanya dia tegaskan tidak sama.  

Gay atau homoseks adalah laki laki yang menyukai laki laki. Dalam kesehariannya gay tetap berpenampilan sebagai laki laki. Sedangkan waria merupakan laki laki yang berjiwa wanita. Jiwa wanita yang terjebak di dalam raga laki laki. Karenanya seorang waria secara naluriah selalu berpenampilan sebagaimana wanita.

“Orientasi seksualnya yang sama, yakni sama sama suka laki laki. Tapi keduanya beda, “katanya.    

Ratusan Laki laki Teridentifikasi Homoseksual  

Fenomena piramida gunung es yang disampaikan beberapa tahun silam itu terbukti. Dua hari setelah peringatan Hari Anak Nasional tahun 2019, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung merilis data sebanyak 498 laki laki di Tulungagung mengalami penyimpangan seksual atau homoseksual. Dinkes mengistilahkan Lelaki Seks Lelaki (LSL).

Dari data yang diambil enam bukan terakhir itu, 60 persen diantaranya berstatus pelajar, dengan usia paling tua 20 tahun. Seperti dilansir dari detik.com (24/7/2019), yang mengejutkan, kelainan seksual itu juga dialami bocah yang masih berusia 11 tahun.

 “Yang terkecil 11 tahun dan itu sudah berhubungan seks menyimpang, “kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka. Pemetaan data homoseks selama enam bulan itu dilakukan di tujuh kecamatan. Diantaranya  Boyolangu, Besuki, Tulungagung, Kedungwaru, Ngantru, Sumbergempol dan Bandung.

Dibanding tahun sebelumnya, secara statistik jumlahnya terus meningkat. Disoreintasi seksual yang masuk kategori  LSL adalah mereka yang sampai melakukan hubungan seksual. Dan mayoritas kasus yang ditemukan adalah warga berusia produktif. Angka kasus LSL itu diyakini akan semakin besar jika penelitian dilakukan di seluruh kecamatan di Tulungagung.  

“Kalau seluruh Tulungagung kemungkinan jumlahnya akan lebih banyak, “terang Didik Eka. Meski angkanya relatif besar, fenomena homoseks atau gay bukan hal baru. Bahkan di ranah kesenian, yakni seperti tradisi warok dan gemblak juga mengarah pada bentuk hubungan sejenis.

Dari hasil penelitian, Didik melihat ada sejumlah faktor penyebab. Mulai dari persoalan hormonal, lingkungan, pola pengasuhan orang tua, hingga pengetahuan reproduksi dan seksual. Dilapangan petugas menemukan kasus LSL karena kurang perhatiannya orang tua. Kemudian cara pendidikan yang salah.

“Seperti dilarang bergaul dengan lawan jenis. Kemudian anaknya main bersolek dibiarkan, termasuk sejak kecil dibiarkan memakai pakaian wanita, “paparnya. Karena berhubungan erat dengan potensi penyebaran penyakit menular seksual dan HIV/Aids, kasus LSL menjadi salah satu bagian penanganan dari Komisi Penanggulangan Aids.

Dengan adanya temuan ini, dinkes Tulungagung langsung melakukan rapat koordinasi lintas instansi, yakni mulai KPA, Dinas Sosial hingga Dinas Kesehatan Privonsi Jawa Timur. Menurut Didik Eka, sejumlah tim telah diterjunkan untuk melakukan sosialisasi tentang reproduksi dan pengetahuan seksual kepada pelajar.

“Dalam kasus ini kami juga menggandeng guru BP di sekolah untuk mengidentifikasi potensi penyimpangan seksual itu, “pungkasnya. (Mas Garendi)      

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.