READING

Bola, Corona, dan Preferensi Politik yang Tak Berg...

Bola, Corona, dan Preferensi Politik yang Tak Berguna

Pertandingan antara Persik Kediri Vs Persiraja Banda Aceh di Stadion Brawijaya, 15/03/2020 merupakan moment pertama saya memotret pertandingan sepak bola. Selama belajar memegang kamera sejak 2003, baru kali ini memotret pertandingan sepak bola. Sebelumnya, saya hanya melihat dari televisi, mengagumi gambar-gambar heroik yang ada di media olah raga.

Memang, menonton sepak bola langsung di stadion beda rasanya dibandingkan jika menonton di televisi bahkan nobar sekalipun. Meski di lapangan kadang kita kehilangan momen dan tidak bisa melihat tayangan replay sehingga lebih jelas apa yang terjadi, hanya “rasa” di lapangan sungguh lebih hidup.

Bahagia ketika tim yang didukung menang atau lara ketika tim kalah bisa berkali lipat rasanya bila nonton langsung. Gelora, semangat, heroisme, hingga makian pun berkali lipat rasanya. Apalagi ketika memotret, saya bisa berdiri di garis lapangan berdampingan dengan hakim garis dan anak gawang.

Pada Laga kandang kedua, Persik Kediri kalah, kebobolan di babak sangat awal, menit ke-2. Kalah yang terlalu awal, masih ada banyak waktu, itu pikir dan mungkin harapan 11 ribu penonton di belakang saya. Selama pertandingan, cinta dan amarah bercampur menjadi satu di bangku tribun Persikmania. Pun di wajah-wajah pasukan Faris Aditama dkk. Selama pertandingan yang begitu keras, terjatuh, terjegal, hingga urat tertarik di leher para pemain bisa saya lihat detail di balik lensa kamera saya. Lapangan itu betul-betul membara.

Puncaknya ketika emosi itu tak lagi terkendali, wasit mengeluarkan kartu merah untuk pemain tengah Persik Kediri, Ante Bakmaz dan kapten Persiraja, Fary Komul. Di belakang saya, koor untuk wasit terdengar marah.

Saya merasakan bagaimana Persikmania tetap menyemangati tim kesayangannya dengan lagu-lagu yang mereka hapal. Bagaimana mereka ber-huuuu ketika bola ada di tangan lawan. Sampai akhirnya, semua tertunduk lesu ketika tak satu pun bola bersarang di gawang lawan, hingga peluit tanda pertandingan berakhir ditiup wasit.

Pertandingan usai. Para pemain bersalaman tanda bara di lapangan itu padam sudah. Bahkan saya melihat, Jefferson Alves De Oliveira, pemain belakang Persik Kediri bertukar kaus dengan pemain belakang Persiraja, Adam Mitter. Mereka kemudian berpelukan. Betul, berpelukan dengan wajah bersahabat.

Hanya, apakah wajah hangat para pemain yang berjibaku di lapangan akan diikuti “keikhlasan” para suporternya? Tentu saja susah memastikan pada 11 ribu hati yang kecewa itu. Tapi setidaknya, para pemain yang ada di garis depan pertandingan itu sudah selesai bertanding, selesai di dalam lapangan.

Perseteruan itu Rasanya Mengabadi

Sejenak, ketika melihat dua pemain itu berpelukan, ingatan saya melayang ke Pilpres 2014 yang dilanjutkan dengan Pilkada 2017. Kita sudah tahu, Pemilu yang sangat brutal itu ternyata meninggalkan bara dan luka sungguh lama.

Sayangnya, ketika para dua pemain yang tadinya berlawanan itu berpelukan usai pertandingan, politisi miskin nurani ini masih saja melanjutkan. Mereka kerap kali membuat pernyataan kontroversial, media mengutip pernyataan kontroversial itu, lalu warga net menyebarkannya. Luka dan bara itu rasanya tak jua padam.

Pun para “suporter” itu pun tetap menyirami bara itu dengan minyak. Saya tak mengatakan mana buzzer dan mana yang tak mengais rezeki dari memancing di air keruh, namun rasanya perbedaan preferensi politik itu sungguh menguras akal sehal.

Kini, ketika menghadapi virus corona, perseteruan itu berlanjut tak jua mendingin. Akal sehat menguap entah ke mana sehingga apapun kata junjungannya adalah kebenaran hakiki. Kebencian yang masif itu kadang dikemas sebagai kritik yang sesungguhnya saling menjatuhkan. Kedua kubu pun sama seperti masih bertanding di dalam lapangan.

Apa yang dilakukan junjungannya bila baik, digunakan untuk menjatuhkan lawan. Padahal tidakkah kita bisa bersatu sejenak saja, sebab Covid-19 ini tidak mengenal preferensi politik. Tidak sama sekali. Lalu media pun seperti “mengompori” agar lebih hangat kasusnya. Cover both side itu seperti kata asing yang makin langka.

Indonesia adalah negara yang berbeda dengan Tiongkok, Italia, dan negara-negara yang sudah lebih dulu terkena wabah ini. Kita bisa saja gelisah, kenapa pemerintah pusat tak seperti negara-negara itu. Hanya kini satu yang dibutuhkan adalah dukungan dan kepercayaan sepenuhnya pada negara, pada satu komando. Bukan saling menyalahkan.

Bila ada pimpinan daerah yang sudah bertindak sesuai dengan kondisi daerahnya, apresiasikan. Diapreasiasi bukan untuk menjatuhkan yang lain. Bagus ya bagus, tidak perlu harus ada yang jelek. Kalau menjadi bagus karena ada yang jelek, berarti bagus yang bersyarat. Tidakkah malu?

Para politikus, selebritas, dan juga tokoh masyarakat, berhentilah membuat pernyataan konyol dan tidak penting sehingga mudah sekali disambar oleh media.

Juga para penyebar hoaks, apapun tujuan Anda, tidakkah tersisa sedikit saja hati nurani Anda untuk tidak menyebar ketakutan. Sekali lagi, virus ini tak mengenal preferensi politik. Anda dan anak Anda pun bisa kena juga, bukan? Jadi berhentilah menyebar berita yang menakutkan itu.

Untuk para warga net, tolong untuk mengecek dulu sumber berita dan informasi sebelum menyebarkan, bukan sekadar preferensi politik. Ketika menjadi clicking monkey, maka corona menjadi wabah yang berkali-kali lipat lebih menakutkan.

Tetap menjaga kesehatan, saling menguatkan, dan semoga segera berlalu (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.