Bosan di Rumah? Berkebun Aja Yuk!

Banyaknya waktu luang selama work from home (WFH) bisa kita manfaatkan untuk melakukan kegiatan positif. Salah satunya dengan berkebun. Jangan salah, aktivitas bercocok tanam ini tidak harus menggunakan lahan yang luas loh. Kita bisa memanfaatkan pojokan teras atau bahkan cukup kusen jendela saja.

Apalagi bagi masyarakat yang menjalankan karantina mandiri saat ini, akses terhadap bahan makanan termasuk sayuran menjadi sulit. Mau mengisi waktu luang dengan memasak, bahannya juga terbatas. Daripada bengong, bosan, dan stress, kita bisa mengisi waktu di rumah dengan kegiatan berkebun yang sederhana.

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Kabag Manajemen Arsitektur Lanskap, Institut Pertanian Bogor menjelaskan bahwa untuk melakukan kegiatan berkebun di pekarangan yang pertama harus diniatkan untuk menjalankan hobi. Jangan terbebani dan jangan terlalu berorientasi pada hasil.

Apalagi jika kita baru menjadi pemula. Kadang kala tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik karena kesalahan dalam teknik menanam. Meski demikian, kegiatan bertanam ini tidak sesulit yang dibayangkan kok. Asalkan mengikuti aturan tanam dan memahami karakteristik tanaman maka tingkat keberhasilannya pun tinggi.

“Niatnya memanfaatkan pekarangan sebagai lanskap produktif. Dapat menjadi penyalur hobi bermanfaat untuk mengurangi kebosanan selama WFH,” terangnya dalam poster yang dirilis IPB University.

Prof Hadi juga menekankan untuk tidak risau jika tidak memiliki pekarangan. Saat ini ada banyak teknik berkebun yang praktis dan tidak memerlukan area khusus. Bisa dengan teknik tanaman dalam pot, vertical garden (media tanam memanjang ke atas), hanging garden (media tanam yang digantung), balcony garden (menggunakan area balkon), window garden (kebun sekitar jendela), hingga green roof garden (kebun di atap).

Mengingat tempat-tempat tersebut adalah bagian dari rumah, jelas media tanam berupa tanah tidak menjadi rekomendasi. Prof Hadi merekomendasikan untuk menanam menggunakan sistem hidroponik. Caranya dengan mengalirkan air bernutrisi ke setiap tanaman karena media tanam jelas tidak menyediakan nutrisi yang cukup.

Dalam sistem hidroponik sendiri ada beberapa teknik. Kita bisa menanam tanaman di atas larutan air bernutrisi secara langsung. Atau menggunakan media tanam lain seperti pasir, batu kerikil, sekam, atau serutan kayu yang kemudian dialiri air bernutrisi secara berkala. Aliran nutrisi inipun kita bisa berikan secara manual atau menggunakan selang mini untuk mengalirkan nutrisi secara otomatis.

“Pilihannya, kita bisa menanam tanaman sayur daun semusim. Seperti bayam, kangkung, selada, pakcoi yang bisa dipanen dalam 3-4 minggu saja,” tambahnya.

Agar produk hasil panen lebih sehat, hindari sebisa mungkin penggunaan pestisida. Toh tanaman tidak terlalu banyak dan selalu dalam pengawasan karena berada di lingkungan tempat tinggal. Kita bisa melakukan pengendalian hama secara manual jika kita mendapatinya.

“Untuk belanja sarana produksi seperti benih, pupuk, media tanam, dan set NFT hidroponik dapat melalui sistem online. Jadi cukup mudah dan tidak menyulitkan,” tambahnya.

Karena dilakukan skala kecil dan tidak berorientasi komersil, hasil panen jika dinilai dengan mata uang jelas tidak terlalu besar. Meski demikian hasil panen bisa digunakan untuk memenuhi konsumsi domestik sehingga asupan nutrisi dari sayuran tetap bisa dipenuhi selama masa karantina.

Baca juga : Konsumsi Sayur dan Buah Ternyata Efektif Lawan Corona

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.