READING

Buku “Anggrek Taman Nasional Bromo Tengger S...

Buku “Anggrek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”

Akhir Desember 2019, saya mendengar dari Mas Andi Iskandar atau yang lebih dikenal sebagai Andi Gondrong tentang penerbitan buku Anggrek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sebuah proses panjang untuk merealisasikan ide ini. Dari catatan penulisnya, pengumpulan data dimulai tahun 2010. Buku bersampul hitam bergambar Dendrobium jacobsonii menarik bagi saya secara personal. Sebuah pilihan jenis anggrek yang mengingatkan saya pada pilihan J.B. Comber, penulis Orchids of Java (1990). Jacobsonii merupakan anggrek endemik Jawa, meski tak hanya di Semeru, Jawa Timur, namun di Semeru lebih mudah dilihat.

Awal Januari 2020, buku Anggrek TNBTS sampai di tangan saya. Sebuah ensiklopedi anggrek TNBTS yang ditulis oleh Toni Artaka, diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, November 2019. Sejumlah 188 jenis anggrek yang ditampilkan dalam 156 halaman buku ini dengan deskripsi sederhana sehingga bisa dibaca oleh orang awam yang baru mengenal anggrek.

Saya rasa buku ini sangat penting bagi siapa saja yang suka datang ke TNBTS. Akhir-akhir ini, Semeru merupakan gunung favorit untuk didaki. Mulai 200 orang hingga maksimal 600 orang/hari mendaki Semeru. Dari sekian pendaki itu, tak banyak yang tahu tentang flora fauna yang ada di sana, khususnya anggrek. Padahal mereka pasti akan menemukan di sepanjang jalan.

Karena tak tahu, lewat begitu saja. Bahkan ketika tak sengaja merusak, tak menjadi beban bagi mereka karena ketidaktahuannya. Misalnya, ratusan tenda yang dibangun di padang savana Ranu Kumbolo, berapa ratus anggrek yang tergilas di sana? Sebab banyak sekali anggrek terestis yang tumbuh menyelinap di antara savana. Beberapa dari mereka hanya seukuran kancing, bahkan banyak yang lebih kecil dari itu.

Di buku ini, penulis membeberkan bentang alam Semeru yang unik dengan bahasa yang mudah dimengerti. TNBTS memiliki 3 tipe ekosistem berdasarkan ketinggiannya yaitu hutan pegunungan bawah (800-1.500mdpl), hutan pegunungan atas (1.500-2.400mpdl), dan hutan Sub-Alpin (2.400-3.00mdpl). Elevasi ini memberi konsekuensi pada keragaman jenis anggrek yang bisa ditemukan.

Buku Anggrek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru karya Toni Artaka, November 2019. FOTO: JATIMPLUS.ID / Adhi Kusumo

Dengan sederhana, penulis juga menceritakan tentang ciri-ciri keluarga anggrek (famili Orchidaceae) untuk dikenali mulai dari daun, buah, dan bunga tentu saja. Selain morfologi, juga cara hidup anggrek: anggrek tanah/terestrial (tumbuh di permukaan tanah), epifit (menempel di batang pohon), lithofit (menempel di bebatuan), saprofil (tumbuh dari sisa bahan organik), dan amoebofit (pertumbuhan bunga, umbi dan daun tak bersamaan).

Keterangan tersebut memudahkan pembaca untuk mengenal dunia anggrek TNBTS, sebuah kawasan seluas 50.276,20 hektare dengan keunikan ekosistemnya. Jenis-jenis yang disajikan dengan foto berwarna dan deskripsi singkat akan mengajak untuk memerhatikan lebih detail pada tumbuhan yang ditemukan sepanjang pendakian.

Selain itu, penulis juga menampilkan kodisi sosial masyarakat TNBTS yang sebagian besar terdiri dari Suku Tengger.

“Belum ada program konservasi khusus untuk anggrek,” tulis Toni dalam buku itu. Konservasi seluruh kawasan yang dilakukan otomatis akan menyelamatkan anggrek dan flora fauna lain di dalamnya.

Baca juga: Pemulihan Ranu Pani, Gerbang Pendakian Semeru

Apa Fungsi Anggrek?

Anjuran konservasi selalu digaungkan untuk berbagai jenis flora dan fauna. Ketika kita tak tahu manfaatnya, menjalankannya hanya formalitas. Meski tak dicantumkan di buku ini, etnobotani anggrek memiliki catatan panjang yang sudah dibuat oleh para naturalis dan botanis.

Manfaat anggrek mulai dari umbi, akar, dan bunga sudah banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Yang paling familiar adalah vanili, pengharum makanan. Selain itu juga bisa untuk salep, obat, es krim, afrodisiak, dan lain-lain.

Lantas, di Semeru, sejauh mana fungsinya? Bila dilihat dari pertumbuhan anggrek, jenis ini memiliki polinator yang khas. Tiap jenis memiliki polinator yang berbeda. Sebuah kerjasama dari kerajaan yang berbeda yaitu binatang (Kingdong Animalia) dan kerajaam tumbuhan (Kingdom Plantae) menghasilkan sebuah jaring-jaring kehidupan di TNBTS. Apabila ada satu anggrek saja punah, maka akan diikuti polinatornya dan juga mikrobia yang kehadirannya tergantung anggrek. Maka, hutan itu tak lagi sama. Keseimbangan ekosistem akan bergeser, bahkan tak jarang efeknya berantai. Harapan saya, fungsi anggrek ini lebih banyak ditampilkan di buku selanjutnya. Selain itu, buku ini dicetak kurang lebih 1000 eksemplar dan tak diperjualbelikan sehingga para pembaca umum akan sulit mengakses. Memang bisa dibaca di instansi terkait, hanya bila bisa disebarluaskan lebih banyak, maka informasi akan lebih banyak diketahui (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.