READING

Bulan Oktober, Kota Kediri Alami Inflasi Tertinggi...

Bulan Oktober, Kota Kediri Alami Inflasi Tertinggi Se-Jatim

KEDIRI- Bulan baru saja berganti. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka inflasi Kota Tahu Bulan Oktober lalu mencapai 0,32 persen. Angka ini menempati posisi tertinggi se-Jatim. Meski demikian, hal ini bukan berarti perekonomian Kota Kediri sedang tidak baik.

Diketahui dua bulan sebelumnya Kota Kediri mengalami deflasi yakni 0,23 persen di Bulan Agustus dan 0,27 persen di Bulan September. Tingginya angka inflasi pada bulan Oktober hanya menjadi respon pasar terhadap harga-harga yang sebelumnya anjlok kembali ke titik normal.

“Walaupun beberapa komoditas naik, harga bahan pangan secara umum di Kota Kediri masih relatif tetap rendah kok dibandingkan daerah-daerah lain,” terang Agus Puji Raharjo, Kepala BPS Kota Kediri.

Memang, penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan bahan makanan dengan kontribusi sebesar 0,64 persen. Komoditi yang menjadi pemicunya yakni naiknya harga daging ayam ras, bawang merah, rokok, jeruk, ketela pohon, hingga buah pepaya.

Bea cuka rokok akan mengalami kenaikan tahun depan. Meski demikian, hampir seluruh produsen rokok mulai menaikkan harga rokok pada akhir tahun ini. Ada dua asumsi mengapa produsen menaikkan harga tahun ini.

Pertama, akhir tahun ini menjadi kesempatan terakhir para produsen rokok untuk bisa meraup keuntungan maksimal sebelum bea cukai rokok naik. Kedua, bisa jadi para produsen menjadikan kenaikan rokok akhir tahun ini sebagai pemanasan agar tahun depan para konsumen rokok tidak kaget dengan harga rokok baru pasca bea cukai rokok dinaikkan.

“Rokok selalu menjadi 10 besar penyumbang inflasi karena jumlah perokok di Kota Kediri cukup besar,” kata Agus.

Selain kenaikan bahan makanan, harga sepeda motor juga menjadi pemicu inflasi bulan Oktober. Kenaikannya sekitar 0,95 persen. Mengapa dealer menaikkan harga kendaraan bermotor menjelang akhir tahun ini? Perkiraan sebagai akibat dari rencana kenaikan UMK sebesar 8,5 persen pada tahun 2020.

“Kenaikan harga di akhir tahun ini sebenarnya hanya menjadi respon pasar saja terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang akan diberlakukan tahun depan. Istilah sederhananya, para pelaku bisnis sedang siap-siap,” ujar Agus.

Sedangkan kebijakan terkait dengan kenaikan premi BPJS dan tarif dasar listrik (TDL) 900 VA, menurut Agus masih belum memberikan dampak signifikan pada bulan Oktober. Bisa jadi nanti perubahan harga baru dirasakan ketika kebijakan tersebut benar-benar diberlakukan.

“Untuk TDL pastinya akan memberikan multiplier affect atau dampak ke semua lini jika benar-benar naik. Tapi untuk saat ini masih belum ada,” katanya sebagaimana edaran pers yang diterima Jatimplus.id, Jumat siang (01/11).

Yang menarik, pada bulan Oktober lalu, harga kontrasepsi mengalami kenaikan. Ini menjadikan bidang kesehatan memberikan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,14 persen. Begitu pula dengan kenaikan harga celana dalam laki-laki maupun perempuan. Tidak diketahui secara pasti apa yang menjadi pemicunya.

“Kita hanya tangkap potret harga di pasar seperti itu. Tidak tahu ya apa alasannya,” sela Adi Wijaya, Kasi Statistik dan Distribusi.

Untuk inflasi bulan November sendiri diperkirakan akan kembali terjadi. Perkiraan ini didasarkan pada tren yang terjadi selama tujuh tahun terakhir. Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Yakni kenaikan harga bahan pangan, cukai rokok, dan kenaikan harga tiket angkutan umum.

“Semoga inflasi yang terjadi tetap masih bisa dikendalikan,” pungkasnya.

Inflasi merupakan tanda pergolakan harga pasar. Inflasi yang meninggi menunjukkan bahwa harga sedang naik. Dan sebaliknya, deflasi menunjukkan harga barang-barang di pasar sedang menurun.

Perekonomian yang sehat bukan berarti ditunjukkan dari inflasi yang selalu rendah, tetapi lebih pada inflasi yang bisa dikendalikan. Jika inflasi selalu turun bahkan terus mengalami deflasi, ini menunjukkan jika daerah tersebut mengalami kelesuan pasar. Ini menjadi pertanda yang tidak baik bagi perekonomian daerah tersebut.

Daerah bisa dikatakan maju dan berkembang jika perekonomiannya bergerak dan dinamis. Tidak hanya para konsumen yang sejahtera, para pedagang pun harus bergairah dalam bertransaksi di daerah tersebut.

Perhatian Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bukanlah menekan inflasi serendah-rendahnya. Tetapi lebih ke cara mengendalikan inflasi agar stabil. Sehingga baik konsumen maupun produsen dan pedagang di Kota Kediri sama-sama sejahtera dan bisa hidup bahagia.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.