READING

Bumi Manusia Itu Film Perjuangan atau Percintaan?

Bumi Manusia Itu Film Perjuangan atau Percintaan?

Novel Bumi Manusia tidak mudah dipahami. Sekaliber guru Bahasa Indonesia, masih ada yang kesulitan mencerna isinya. Tidak hanya soal kosa kata. Untuk memahami karya Pramoedya Ananta Toer, harus mendalami sejarah dan konteks peristiwa yang terjadi.

MALANG- Ardi Wina Saputra, seorang penulis, penikmat sekaligus ahli sastra Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, mengaku sempat menemui kesulitan itu. Kebuntuan dia rasakan saat masih menjadi pengajar Bahasa Indonesia di sekolah.

Memahami isi pesan novel Pram, tidak semudah meresensi novel ngepop. Butuh ketelatenan ekstra. Kejernihan berfikir. Terutama menyangkut konteks peristiwa sejarah yang ada. Dia mengira tidak hanya dirinya yang berfikiran seperti itu.

“Saat saya dulu menjadi guru pun juga merasa kesulitan memahamkan murid saya terkait dengan Bumi Manusia ini. Dengan film ini cukup membantu,” ungkap akademisi asal Malang itu.

Sejak dirilis 15 Agustus 2019 lalu, film besutan sutradara Hanung Bramantyo masih menghiasi hampir seluruh gedung bioskop tanah air. Hingga hari ini belum juga turun dari jadwal pemutaran. Masih banyak milenial yang mengantri di loket karcis.

Mungkin para penggemar Dilan 1990 yang begitu menakjubi kerupawanan wajah Iqbaal. Bisa jadi memang pembaca novel tetralogi Pulau Buru yang penasaran dan ingin membandingkan dengan versi layar lebarnya.

Ardi juga belum lama menonton. Dia melihat buah positif dari film yang lumayan lama bertahan itu.

Baca Juga : Ramai Berbincang Film Bumi Manusia, Emang Sudah Baca Novelnya  

Dengan munculnya Bumi Manusia versi bioskop, pembaca yang sebelumnya tidak mengenal Pram, akan terpantik berburu buku Pram yang lain. Setidaknya akan penasaran. Terutama mereka yang selama ini tercekoki novel pop macam karya Tere Liye, Fiersa Besari maupun novel grafis yang minim kata.

“Karena novel yang berkembang di kurikulum berkutat pada novel-novel pop seperti karya Tere Liye, Fiersa Besari hingga novel-novel grafis minim kata yang kini digemari siswa,” ujar dosen yang mengajar mata kuliah sejarah sastra ini.

Namun Ardi juga tidak yakin effect film Bumi Manusia akan menyeret versi novelnya masuk dengan mudah ke dalam koleksi perpustakaan sekolah. Selain tergolong bacaan yang tidak ringan, latar belakang Pram sepertinya akan masih menjadi ganjalan.

Baca Juga : Penyandang Disabilitas Kediri Borong Tiket Bumi Manusia

Apalagi di masa orde baru pernah memiliki rekam jejak sebagai bacaan terlarang. Namun kalaupun berhasil terpajang di perpustakaan sekolah, Ardi berani menebak peminatnya juga tidak akan banyak.

“Bumi manusia dan karya-karya Pram sebelum ada film ini saya rasa cenderung tidak dibaca,” ungkapnya.

Ardi tidak menyebut film Bumi Manusia tidak sebagus novelnya. Dia hanya mengatakan penonton yang sudah membaca bukunya akan menemukan banyak ketimpangan.

Inti cerita yang semula berkisah tentang perjalanan sejarah perjuangan Tirto Adhi Soerjo, bergeser ke dalam kemelut percintaan Minke dengan Annelis Mellema, anak hasil pernikahan Nyai Ontosoroh, pribumi dengan Belanda totok, Herman Mellema.

“Film ini lebih pada kisah romantika Minke dan Annelies, benang merah bergeser,” terangnya. Penonton film yang belum membaca novelnya akan lebih mengingat Iqbaal daripada kemegahan tokoh Minke dalam berjuang melawan penjajah.

Baca Juga : Misteri Naskah Pramoedya Yang Ketlingsut di Kediri

“Saya semakin sangsi bahwa anak-anak akan kecewa ketika mengetahui bahwa Tirto yang terefleksi dalam tokoh Minke itu tidak seganteng Iqbaal,” kata Ardi sembari tersenyum lebar. Ardi mengakui kepiawaian Hanung dalam meramu film percintaan.

Seperti novel Ayat-ayat Cinta yang dia layar perakkan. Kisah percintaan Fahri dan Aisha sontak meledak di kalangan pecinta film Indonesia. Begitu juga dengan Bumi Manusia. Racikan bumbu romantika percintaan yang Hanung bubuhkan membuat asmara Minke dan Annelis menjadi fantastis.

“Benang merah perjuangan dalam novel malah tidak terasa ketika film ini (Bumi Manusia) lebih digarap pada romantikanya,” kritiknya. Ardi juga menilai Bumi Manusia versi film beraroma rasis.

Perlawanan yang dimunculkan Hanung tidak seperti novelnya yang melawan jiwa kolonialisme. Pada adegan penembakan tokoh agama atau ulama, perlawanan yang diangkat lebih kepada Belanda. Hal itu mengesankan pergerakan hanya berkutat pada berhadap-hadapannya kaum muslim dengan orang asing.

Padahal tidak semua orang Belanda jahat. Seperti halnya yang tertuturkan dalam kisah Max Havelar. Bahkan tidak sedikit pribumi yang bersikap jahat terhadap sesama pribumi. “Dengan kata lain ini hanya melawan kulit putih saja. Dan itu rasis,” tegas Ardi.

Selain Ardi, seorang Ariel Heryanto, dosen senior dan ketua Program Indonesia di The University of Melbourne juga melontarkan sebuah sindiran satire melalui cuitan akun tweeternya.

Dikatakan dengan kisah Anak dan Bapak seorang mantan narapidana. Si bapak bercerita dirinya pernah dipenjara karena membaca novel Bumi Manusia. Si anak yang usai menonton film Bumi Manusia justru meresponnya dengan keraguan.

“Masak gara-gara membaca cerita seperti di film ini saja bapak bisa dipenjara?, ”terang Ardi menirukan cuitan Ariel Heryanto.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.