READING

Cacar Monyet dan Cerita Warga Madiun Yang Mengungs...

Cacar Monyet dan Cerita Warga Madiun Yang Mengungsi Ke Hutan Karena Gentar

Penyakit cacar monyet (monkeypox) seperti teror. Kabar penyebaran sakit yang bersumber dari monyet, tikus gambia dan tupai itu menghebohkan. Saking hebohnya sampai otoritas kesehatan dan militer mengeluarkan pernyataan resmi terkait kematian prajurit TNI jajaran Kodim 0410 Kota Bandar Lampung. Kematian yang bersangkutan bukan disebabkan cacar monyet.

SIFATNYA yang mewabah membuat penyakit cacar dalam sejarahnya selalu menimbulkan “kegaduhan” sosial. Gara gara vaksinasi cacar, pada tahun 1831 para orang tua di Madiun pernah menyembunyikan anak anaknya. Begitu mendengar instruksi vaksinasi cacar, ibu ibu justru mengungsikan anak anaknya ke dalam hutan. Mereka takut dan memilih tidak kembali ke permukiman.

Intinya masyarakat Madiun menolak program vaksinasi cacar yang dicanangkan pemerintah Hindia Belanda. Isu yang berkembang, anak anak tidak divaksin cacar. Entah datangnya dari mana, rumor yang bergetok tular mengatakan anak anak pribumi hendak diumpankan kepada seekor buaya peliharaan Residen. Dan celakanya desas desus itu dipercayai penduduk.  

“Apa yang dilakukan pemerintah kolonial dianggap dalam rangka menekan pemberontakan, “tulis A.A. Loedin dalam Sejarah Kedokteran di Bumi Indonesia.

Dipimpin pemuka agama, seluruh masyarakat Pulau Bawean di Jawa Timur juga pernah menolak vaksinasi cacar. Tidak hanya anak anak. Seluruh kepala keluarga juga  melarang anggota keluarganya mengikuti program vaksinasi cacar. Para ulama beralasan vaksinasi cacar berdosa, karena melawan takdir Tuhan.

Uniknya, pemerintah lokal di Bawean juga ikut ikutan melakukan penolakan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1821. Diluar alasan melawan takdir, pada saat itu banyak penduduk yang belum mempercayai vaksinasi. Apalagi tidak sedikit kasus anak anak yang sudah divaksinasi ternyata masih juga tertular cacar.

Problematikanya komplek. Lemahnya pengetahuan vaksinator akan vaksin cacar turut menyumbang persoalan. Banyak vaksinator yang belum bisa membedakan antara pustula atau benjolan cacar dengan pustula penyakit infeksi kulit. Karena ketidakmengertian itu pada tahun 1823 semua anak di Kedu Jawa Tengah divaksinasi scabies (kudis, kurap).

Kegaduhan diperparah adanya skandal penipuan vaksin oleh oknum vaksinator. Pada tahun 1830, seorang vaksinator di Grati, Pasuruan Jawa Timur membuat vaksin sendiri. Vaksin dibuat dari buah gambir dan diyakinkan ke orang tua anak sebagai pustula yang mujarab memerangi cacar.

Dari aksi tipu daya ini oknum vaksinator mendapatkan 7 duiten (mata uang kecil Belanda) per anak yang divaksinasi. “Alasan penipuan adalah bahwa vaksinator menerima bayaran 7 duiten untuk setiap anak yang berhasil divaksinasi, “kata A.A. Loedin.   

Dalam laporannya (Vaccine-Veslag atau laporan vaksinasi), Dr W Bosch menyebutkan selama tahun 1850, sebanyak 309.757 jiwa di Pulau Jawa dan Madura telah divaksinasi cacar.  Kemudian sebanyak 524.596 jiwa divaksinasi cacar pada tahun 1851. Sementara jumlah penduduk di luar Jawa yang telah divaksinasi cacar mencapai 55.792 jiwa (1850) dan 47.950 jiwa (1851).

Sulitnya pelaksanaan vaksinasi cacar sampai sampai Dr C.L. v.d. Burg mengusulkan Perhimpunan Pengembangan Ilmu Kedokteran di Hindia Belanda melakukan jajak pendapat kepada seluruh tenaga kesehatan. Usulan yang disetujui itu disampaikan tahun 1879.

Jawaban yang diperoleh beragam. Banyak yang percaya vaksinasi cacar memberi perlindungan. Kemudian juga percaya perlu adanya vaksinasi ulang, melakukan vaksinasi dengan cara terbaik, hingga percaya vaksinasi perlu unsur paksaan. Namun kendati demikian ada juga yang berpendapat perlindungan kesehatan yang dihasilkan vaksinasi cacar hanyalah bijgeloof atau tahayul.  

Sejarah Cacar Dunia

Kasus cacar ditemukan pertama kali pada 10.000 sebelum masehi di permukiman pertanian timur laut Benua Afrika. Dalam milenium pertama sebelum masehi, saudagar Mesir menyebarkan penyakit endemik itu ke India dan Persia (Iran). Perang salib ikut menyebarkan wabah cacar ke Benua Eropa. Arus persebaran melalui perdagangan budak yang sebagian besar berasal dari Afrika.

Cacar menular dengan ganas. Tidak peduli umur, gender dan status sosial ekonomi. Semua bisa tertular. Bahkan sejumlah bangsawan dan negarawan banyak yang mati karena cacar. Di Eropa pada abad 18, sebanyak 400.000 orang meninggal dunia karena cacar dan sepertiga yang sembuh mengalami kebutaan. Di 31 negara, sebanyak 10-15 juta orang mengidap cacar per tahun. Angka kematian yang terjadi lebih dari 2 juta per tahun.   

Di Inggris, Jerman, Perancis, Italia dan Belanda, masyarakat umum mengetahui seseorang dapat terlindung dari cacar jika pernah tertular cacar sapi (cowpox). Cacar sapi sering menimpa para gadis pemerah susu sapi atau milkmaids. Imunisasi cacar dengan metode pemaparan bahan cowpox saat itu juga dilakukan.

Keganasan wabah cacar berkurang setelah Edward Jenner ilmuwan kelahiran Berkeley yang menimba ilmu medis di London.

Vaksin cacar masuk ke pertama kali ke Hindia Belanda pada tahun 1804.  Karena dianggap vaksin lama Dr Bosch selaku inspektur vaksinasi berkirim surat ke Minister van Kolonien atau Menteri Urusan Koloni di Belanda. Bosch meminta dikirimkan vaksin cacar baru secara berkala (per bulan) untuk mengganti vaksin lama.    

Penanganan Cacar Era 80-90an

Mereka yang di tahun 1980an masih duduk di bangku sekolah dasar tentu pernah mengalami vaksin cacar massal. Masih teringat bagaimana petugas medis dengan pakaian putih putih datang ke sekolah. Tidak ketinggalan stetoskop yang selalu  bergelantung di leher dan tas hitam berisi perkakas kesehatan.

Setelah siswa dikumpulkan dan diumumkan bahaya penyakit cacar dan apa manfaat vaksin, proses vaksinasi massal langsung dijalankan. Pintu ruang kelas langsung ditutup dan satu guru laki laki ditempatkan sebagai penjaga. Sebab tidak semua murid tabah menghadapi pengumuman.

Bagi bocah SD melihat jarum lancip ditusukkan ke lengan, adalah sesuatu yang mengerikan. Kena duri bayam saja mengaduh, apalagi kena jarum. Kalau diberi pilihan mereka pasti akan memilih mengerjakan PR sepanjang hari daripada menerima suntikan. Dan perlawanannya macam macam.

Ada yang berusaha menyembunyikan ketakutan dengan cara diam. Saat divaksin hanya meringis kecil dan berjalan biasa seperti tidak terjadi apa apa. Padahal hatinya sempat gentar juga. Ada yang  tertawa bergaya sok jagoan. Namun saat jarum menancapi lengan air mata sontak berhamburan.

Tidak sedikit yang terang terangan menolak sejak awal. Biasanya murid perempuan. Begitu diumumkan langsung histeris, menangis dan berusaha kabur. Tugas guru laki laki yang berjaga di pintu yang akan menangkap, menggujer dan mengembalikan sesuai antrian.

“Jangan kaku. Dilemaskan saja. Tidak sakit kok. Paling rasanya seperti digigit semut”. Pesan itu selalu disampaikan berulang ulang. Kepada siswa yang ketakutannya berlebihan, pesan itu selalu diulangi lebih banyak. Demi kesehatan unsur “pemaksaan” vaksinasi cacar benar benar diterapkan.  

Mereka yang di era itu pernah berurusan dengan vaksinasi cacar tentu saat ini sudah menjadi orang tua. Bahkan ada yang menimang cucu. Setidaknya mereka tidak terlalu panik ketika saat ini muncul fenomena penyakit cacar monyet.

Cacar monyet disebabkan virus yang ditularkan melalui binatang. Penularan bisa melalui kontak dengan darah, cairan tubuh atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus. Pada manusia penularan bisa terjadi karena kontak dengan monyet, tikus gambia dan tupai atau mengkonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi.

Meski diminta senantiasa waspada dan menjaga kebersihan, Kementrian Kesehatan menghimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan. Direktur Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Anung Sugihantono menegaskan kasus cacar monyet atau monkeypox sejauh ini belum ditemukan di Indonesia.

“Sampai saat ini kasus monkeypox belum ditemukan di Indonesia, “tegasnya.

Pada bulan Mei 2019, seorang warga Nigeria yang mengikuti acara lokakarya di negara Singapura diketahui mengidap cacar monyet. Agar tidak terjadi penularan yang bersangkutan dan 23 orang yang kontak dengannnya diisolasi.     

Terkait isu cacar monyet, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jendral TNI Andika Perkasa menegaskan prajurit TNI yang meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) bukan disebabkan monkeypox. Keterangan pimpinan militer itu untuk meluruskan kabar yang beredar di media sosial.  “Tidak ada kasus monkeypox di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, “tegasnya. (Mas Garendi dan berbagai sumber)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.