Caleg dan Tradisi Klenik Politik

SEPERTI yang dituturkan. Saat sarungnya dilucuti, keris itu memang terlihat sebagai barang antik. Logamnya berwarna putih keruh. Tidak kinclong seperti logam kekinian.

Meski lekuk lekuk bilahnya sudah pada geripis karena dimakan umur, secara umum masih wutuh. Motif garis garis seperti air mengalir yang diistilahkan sebagai pamor banyu mili, terdeskripsi jelas.

Selain Sepuh (tua), unsur utama dari sebuah keris pusaka adalah Wutuh (utuh) dan Tangguh (asal usul).

“Ini Tangguhnya Kediri. Keris tua. Lebih tua dari Majapahitan, “tutur lelaki kerempeng berambut sebahu dengan nada serius.

Pria itu mengaku jauh jauh datang dari Kediri hanya untuk menawarkan keris pusaka.  Kalau tidak sahabat baik, dirinya tidak sudi merepotkan diri.

Keris pamor banyu mili diyakini berjodoh untuk siapapun yang tengah berjuang meraih kekuasaan. Cocok untuk magang (mencalonkan diri) menjadi kepala desa, kepala daerah, atau anggota legislatif.

Sesuai namanya, mili atau mengalir, dukungan suara untuk pemegang keris banyu mili diyakini akan mengalir tak henti henti. Selain banyu mili, pamor junjung derajat juga dipercayai memiliki “tuah” tak jauh beda.

“Saya ikut senang kalau teman saya bisa menjadi anggota dewan, “katanya dengan mimik sungguh sungguh. Pusaka diletakkan diatas meja. Transaksi pun langsung  digelar. Di dunia perkerisan dan pusaka lainnya, hal tabu menyebut nilai ekonomis dari pusaka yang ditawarkan dengan bandrol atau harga.

Mereka lebih suka menggunakan diksi mahar yang lazimnya digunakan untuk urusan perkawinan (mas kawin). Padahal intinya sama. Barang ditukar dengan uang.  Negoisasi yang sempat alot itu akhirnya mencapai titik temu.

Keris banyu mili pun berpindah tangan. “Transaksi pusaka ini bukan pertama kalinya. Sebelum menjadi caleg (calon anggota legislatif), saya memang sudah  menyukai barang antik, terutama pusaka, “tutur pemilik baru keris banyu mili yang juga caleg di Blitar.

Selain keris, di kamar yang khusus tempat penyimpanan itu, terlihat juga mata tombak dan beberapa keris dengan berbagai pamor dan tangguh. Semuanya barang antik dan diyakini memiliki yoni.

Caleg yang enggan disebut nama itu adalah seorang pengguna media sosial aktif. Partai yang dikendarainya juga bernafas agama. Namun dirinya tidak bisa meninggalkan “klenik politik”.

Menurutnya hal hal yang bersifat irasional atau logika mistika tetap dibutuhkan dalam dunia politik. Dan dia tidak sendirian. Sebagian besar caleg juga melakukan seperti yang dia lakukan.

“Apa yang disebut klenik itu merupakan ikhtiar untuk meraih kemenangan. Tentu hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Tuhan, “katanya.  

Tidak perduli partai bernafas agama atau nasionalis, semua caleg yang berharap besar dapat kursi membutuhkan suntikan energi tambahan. Dan jawabannya adalah klenik politik. “Bedanya ada yang terang terangan dan ada yang malu malu tapi mau. “timpalnya dengan tersenyum.

Seperti diketahui, fenomena klenik politik bersifat laten. Selalu muncul disetiap momentum politik. Mulai pemilihan kepala desa, kepala daerah, calon anggota legislatif sampai pemilihan presiden, tidak lepas dari klenik politik. Siklusnya lima tahunan.

Selain keris, pusaka, jimat atau benda yang dipercayai berkekuatan gaib, berikut instrumen klenik politik lain yang sering didekati politisi, khususnya calon anggota legislatif.  

Pertama adalah tempat keramat. Yang dimaksud tempat keramat adalah makam makam tua, makam  tokoh penyebar agama, petilasan, hingga kuburan leluhur. Biasanya terkait dengan penyebaran agama Islam, yakni misalnya makam para wali (Wali Songo).

Selain mendoakan yang meninggal dunia, para peziarah berharap cita citanya terkabul. Di Kabupaten Ponorogo misalnya. Makam Batara Katong kerap dikunjungi orang orang yang memiliki hajat terkait dengan derajat atau kekuasaan.  

Namun, kendati demikian tidak sedikit yang nepi mencari wangsit ke petilasan atau candi. Contohnya, petilasan Raja Joyoboyo atau Candi Surowono di Kabupaten Kediri. Banyak juga yang datang ke Alas Purwo Banyuwangi atau Hutan Ketonggo Ngawi.    

Kedua adalah paranormal atau dukun. Untuk memantapkan keyakinannya, tidak sedikit para caleg yang mendatangi orang pintar. Biasanya mereka hanya bertanya peluang. Dan tentu saja, sebagian besar orang pintar yang didatangi selalu mengatakan cita cita si caleg akan terkabul. Meskipun faktanya tidak sedikit yang meleset.

Diluar kedua hal diatas, dalam mengambil langkah politik, tidak sedikit politisi yang berpegang pada primbon, hongshui/fengshui, ramalan garis tangan, garis wajah, shio dan astrologi.  

Kendati demikian masih banyak caleg yang mempercayai kunci kemenangan terletak pada kekuatan kapital. Siapa yang memiliki uang besar, dialah calon pemenang pemilu.

“Meskipun kleniknya kuat, memenuhi syarat, tapi kalau duitnya kurang, ya tetap percuma. Percayalah, kunci utama menjadi dewan terletak pada kekuatan uang, “tambah Caleg DPRD Blitar sembari tertawa. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.