Cara Asyik Remaja Kediri Berolahraga

KEDIRI – Jalanan Veteran di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tiba-tiba ramai. Ratusan hingga ribuan sepeda angin meluncur dari timur ke barat menyusuri kawasan sekolah di barat Sungai Brantas, Sabtu malam, 24 November 2018.

Sebuah mobil patroli pengawal (Patwal) Kepolisian Resor Kediri Kota terlihat memimpin rombongan. Sirene mobil yang meraung-raung memberi peringatan kepada pengendara lain untuk memberi jalan kepada pesepeda.

Mereka adalah komunitas peseda yang tergabung dalam Kediri Night Ride (KNR). Sesuai namanya, komunitas ini mengendarai sepeda di malam hari. “Ini sebenarnya untuk olah raga,” kata Arief Priyono, penggagas kegiatan sepeda malam ini kepada Jatimplus.

Setiap pekan di akhir bulan, para pesepeda di Kota Kediri berkumpul untuk mengayuh bersama. Mereka menyusuri jalanan kota untuk menikmati pemandangan malam Minggu sambil berolah raga. Sabtu malam dipilih lantaran banyak peserta gowes yang bekerja pada pagi hingga sore hari. Sementara Minggu dipergunakan untuk keluarga mereka.

Sebagai penggagas, Arief tak pernah menyangka jika gerakan sepeda malam yang dirintis tahun 2014 ini akan diikuti banyak orang. Awalnya Arief bersama beberapa penggemar sepeda merek Federal di Kediri hanya bersepeda bersama. Jumlah mereka juga tak terlalu besar. Berkumpul di Stasiun Kediri, mereka mengawali gowes menyusuri jalanan Kota Kediri di malam hari.

Lambat laun aktivitas itu menarik minat peseda lain. Tak hanya penunggan Federal, pemilik sepeda merek lain pun turut bergabung. Bahkan perlahan-lahan komunitas ini menjadi ajang gowes bareng para peseda dari berbagai klub. “Hingga akhirnya kami mengorganisir mereka ke dalam KNR,” kata Arief.

Dibentuk secara formil pada tanggal 3 Mei 2015, saat ini anggota KNR sudah mencapai ribuan orang. Setiap kegiatan gowes malam selalu diikuti lebih dari 3.000 pesepeda. Inilah yang pada akhirnya memaksa pengurus KNR meminta bantuan kepolisian untuk melakukan pengawalan. Dikhawatirkan banyaknya para peseda yang ikut akan memicu kecelakaan di jalanan kota yang ramai.

Kini, tak hanya dari Kota Kediri, peserta KNR bahkan sudah berasal dari Kabupaten Kediri, Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung. Melalui komunikasi medsos, mereka akan berkumpul di Kota Kediri untuk mengikuti gowes malam.

Baca juga: Mas Abu: Saya Tak Memanfaatkan Anak Muda 

KNR pun tak lagi menjadi kegiatan para penggowes yang mayoritas anak muda. Tetapi sudah diampu oleh Pemerintah Kota Kediri sebagai program pemerintah. Kegiatan ini dinilai positif untuk mengajarkan anak muda hidup sehat dan mengurangi penggunaan motor. “Kami bersyukur saat ini KNR sudah melakukan kegiatan ke-36. Artinya sepeda bukan lagi menjadi sarana olah raga, tetapi telah menjadi gaya hidup,” kata Arief.

KNR juga merespons kampanye bersepeda dari berbagai daerah yang dilembagakan dalam bentuk forum dan kampanye di media sosial. Mereka bermimpi moda transportasi di Indonesia kelak akan dipenuhi sepeda seperti Eropa, Jepang, dan negara maju lain untuk menekan polusi.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar memastikan akan terus menghidupi kegiatan KNR ini. Menurut dia, kampanye bersepeda sangat membantu membentuk karakter anak muda dengan positif. Kegiatan akhir pekan yang biasanya digunakan untuk hura-hura kini beralih dengan olah raga. “Saya dan istri sering ikut gowes bersama mereka,” kata Abu Bakar. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.