Cara Jitu Tekan Sampah di Kota Kediri

KEDIRI – Petugas kebersihan akan melakukan pengambilan sampah rumah tangga secara terjadwal. Hal ini untuk meminimalisir volume sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) yang mulai tak terkendali.

Kampanye pemilahan sampah ini mulai dilakukan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kota Kediri sejak dua pekan terakhir. Sampah rumah tangga dipilah menjadi dua jenis, yakni organik dan non organik. “Ini untu meminimalkan produksi sampah sejak di tingkat rumah tangga,” kata Ronni Yusianto, Kabid Kebersihan DLHKP kepada Jatimplus.ID, Jumat 22 November 2019.

Roni menjelaskan sampah merupakan persoalan seluruh kota di Indonesia. Makin hari, volume sampah yang dihasilkan masyarakat terus bertambah. Sementara area penampungan sampah justru tak bertambah.

baca juga: Ketika Sampah Plastik Jadi Dasar Hukum Fiqih

Salah satu upaya yang dilakukan DLHKP Kota Kediri adalah menggencarkan program 3R (Recycle, Reduce, Reuse). Sejak dua pekan terakhir kampanye tersebut dilakukan di Kelurahan Setonogedong, Kota Kediri. “Kami fokus pada pemilahan sampah di sana,” terang Ronni.

Menurutnya, pemilahan sampah saat ini lebih spesifik pada sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai biopori. Caranya cukup mudah, warga tinggal menimbun dan membuat loban-lobang kecil. Dalam waktu tertentu sampah tersebut akan beralihfungsi menjadi pupuk kompos.

Sementara sampah yang tak bisa diurai atau non organik dibuang secara terpisah ke tempat pembuangan akhir.

Untuk mempermudah pemisahan, petugas DLHKP akan memberlakukan pengambilan sampah terjadwal. “Misalnya Senin untuk sampah organik saja. Selasa non organik,” kata Ronni.

Sayangnya pengangkutan terjadwal ini masih menggunakan gerobak oleh petugas DLHKP secara bergiliran dengan warga atau relawan. Ini lantaran jumlah truk sampah yang dimiliki pemerintah Kota Kediri masih terbatas. Armada ini juga belum melakukan pengangkutan terpisah antara sampah organik dan non organik.

Untuk saat ini kampanye pemilahan sampah masih terpusat di Kelurahan Setonogedong. Kelurahan ini dipilih menjadi tempat pilot project DLHKP karena luas wilayahnya yang relatif kecil. Hanya ada dua RW yang terbagi menjadi 5 RT dengan jumlah KK sekitar 300 KK.

Kondisi ini memudahkan program tersebut untuk diamati dan ditangani. Warga yang berdomisili pun terkenal religius dan homogen. Mereka juga sangat terbuka dengan program-program baru yang positif. “Kalau berhasil akan kami terapkan ke seluruh kelurahan di Kota Kediri,” tandas Ronni.

Upaya mengurangi volume sampah yang masuk TPA sebenarnya sudah dilakukan DLHKP Kota Kediri sejak beberapa tahun lalu. Saat ini diketahui ada 47 TPS yang tersebar di 46 kelurahan di Kota Tahu.

Dari jumlah tersebut, lima diantaranya berkonsep 3R. Mulai dari TPS di Tempurejo, Banjaran, Kaliombo, Rejomulyo dan Banjarmlati. Ronni berharap nantinya semua TPS bisa dilakukan secara terpadu. Sehingga volume sampah yang bisa ditekan mengalami banyak penyusutan. “Kendalanya ada pada keterbatasan lahan. Jadi tidak semua TPS bisa diubah lokasinya atau diperluas,” ungkapnya.

Meski demikian, penanganan sampah di wilayah Kota Kediri saat ini telah mencapai 90 persen. Artinya program pelayanan DLHKP ke masyarakat sudah cukup menyeluruh. Mulai dari pemilahan sampah sejak rumah tangga hingga penanganan sampah di TPA.

Sayangnya jumlah pengurangan sampah masih sekitar 6 persen. Sedangkan target nasional diketahui sebesar 20 persen pada tahun 2025 nanti. Karena itu DLHKP terus berinovasi dan menggenjot berbagai kegiatan pengelolaan sampah terpadu. “Semoga program di Setonogedong bisa berhasil dan bisa menjadi contoh kelurahan,” pungkas Ronni.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.