READING

Cara Kreatif Caleg Anti Politik Uang Meraup Suara

Cara Kreatif Caleg Anti Politik Uang Meraup Suara

BANYAK cara dilakukan calon anggota legislatif untuk dikenal, disukai lalu kemudian dipilih dalam pemungutan suara 17 April 2019 mendatang. Berdalih memberi pendidikan politik, yakni menyadarkan bahwa pemilu bukan pesta money politic melainkan ajang memilih pemimpin, sejumlah caleg memaksimalkan daya akal yang dimiliki.

Mereka yang seringkali dituding sebagai caleg modal dengkul ini bertekad melawan praktik politik uang. Dalam berkampanye mereka menempuh cara yang diklaimnya lebih cerdas dan beretika daripada sekedar jual beli suara. Mereka tidak akan memaksakan diri sampai menjual atau menggadaikan aset demi politik transaksional.

Fenomena jual gadai aset demi meraih suara sebanyak banyaknya hari ini telah terjadi. Meski belum tahu hasilnya seperti apa, para caleg anti politik uang ini optimis masih banyak masyarakat yang menyalurkan hak pilihnya bukan semata tujuan uang. Berikut sejumlah cara caleg (anti politik uang) dalam meraup suara pemilih.

Mengandalkan Kertas Selebaran

Joko Prasetyo, caleg DPRD Kabupaten Blitar dari Partai Gerindra. Hingga H-19 coblosan, Joko yang berlatar belakang sebagai aktivis swadaya masyarakat mengaku belum mengeluarkan uang sepeserpun. Satu satunya kocek yang dia rogoh hanya untuk membiayai ongkos operasional.

Sekilas memang terdengar musykil. Namun itulah yang disampaikan Joko dengan air muka sungguh sungguh. “Terserah percaya atau tidak, sampai sekarang saya belum mengeluarkan uang sepeserpun. Dalam artian uang untuk membeli suara, “katanya kepada Jatimplus.

Bukan berarti tidak punya uang. Meski tidak besar, Joko mengaku memiliki simpanan. Berapa nilainya?, ada lah, katanya sembari tertawa. Namun tabungan itu, lanjutnya, tidak akan dia gunakan untuk hal bodoh (politik transaksional).

Meski diakui sebagai cara cepat meraup suara, baginya politik uang tetap tindakan bodoh dan membodohi. “Saya hanya akan melakukan cara rasional yang lebih cerdas, “paparnya.

Disisi lain tim sukses antar caleg hari ini menerapkan metode pertarungan politik kompromis. Para tim sukses tidak mau jagonya kehilangan uang sia sia. Agar tidak dimanfaatkan pemilih pragmatis, mereka kompak melakukan antisipasi sejak dini. Caranya, antar tim sukses caleg saling mencocokkan data calon pemilih.

“Jika menjumpai data calon pemilih yang pragmatis, yakni bermain dua kaki, tim sukses antar caleg telah bersepakat sama sama mencoretnya. Artinya di hari H coblosan si pemilih tidak akan mendapatkan money politic, “katanya.

Sementara dengan tabungan yang dimiliki Joko memilih menggunakanya untuk mencetak selebaran murah. Seluruh program visi misi, gagasan serta tujuannya menjadi dewan dituangkannya di selebaran. Dengan berbekal metode dialogis, selebaran itu akan dibagikannya ke masyarakat secara door to door.

Joko mengakui tidak semua orang akan membaca selebaran visi misinya. Terutama kelompok masyarakat agraris, yakni para petani, buruh tani dan semacamnya. Karenanya sasaran kampanye lebih tertuju kepada masyarakat kelas menengah. Mereka yang sudah melek politik. Terkait alat peraga kampanye Joko tidak banyak memasang. Selain biaya cetak yang tidak murah, toh di surat suara nanti tidak ada foto caleg.

“Namun bukan berarti kelompok tani dan masyarakat pinggiran tidak digarap. Semuanya saya garap, “katanya.

Memanfaatkan Karung Bekas

Di Kabupaten Ponorogo seorang caleg DPRD menggunakan karung bekas untuk alat peraga kampanye. Caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang baru berusia 39 tahun itu bernama Abraham Wibowo. Dengan karung bekas wadah beras, Abraham 30 banner dan spanduk. “Ini kan beda dengan yang lain, “katanya.

Tidak hanya sekedar anti mainstream. Jalan kreatifitas yang ditempuh Abraham juga bentuk perlawanan terhadap politik uang. Hal itu ditunjukkan dalam salah satu spandunya yang berbunyi “Lebih Baik Tidak Jadi Anggota DPRD Kalau Politik Uang”.

Dengan menggunakan karung bekas menyimpan beras, Abraham yang berjuang di dapil 1 (Kecamatan Ponorogo dan Babadan) merasa lebih dekat dengan masyarakat.Baginya karung merupakan simbol penderitaan sekaligus kesederhanaan rakyat jelata. Dengan karung bekas itu rencananya Abraham akan menambah jumlah menjadi 500 APK.

“Saya sudah dua kali nyaleg dan gagal. Ini merupakan yang ketiga kalinya saya maju, “katanya.

Mengandalkan Stiker

Di Kota Mojokerto, Hasymi Munahar (51) sudah 24 tahun berprofesi sebagai tukang pijat urut. Pada pemilu 2019 ini Hasymi maju sebagai caleg DPRD dari Partai Amanat Nasional. Selain ingin perubahan lebih baik, dia juga mencoba peruntungan nasib.   

Untuk bisa dikenal dan terpilih, Hasymi hanya mengandalkan alat peraga stiker berukuran 11x 11 cm. Jumlahnya terbatas 800 lembar yang dia sebar ke masyarakat dan beberapa diantaranya melalui pelanggannya (pijat). Maklum, penghasilan Hasymi sebagai tukang pijat tidak cukup perkasa untuk membiayai ongkos cetak alat peraga baliho dan spanduk.

“Buat 800 lembar stiker biayanya tidak sampai satu juta, “katanya mengaku sudah menyampaikan niatnya nyaleg sejak lebaran tahun lalu.

Mengolah Bakat Seni

Wisnu Hadi Prayitno. Dengan bakat seni tari yang dimiliki sejak kecil,  caleg DPRD Kabupaten Ponorogo itu mendatangi masyarakat secara door to door. Wisnu yang berangkat dari Partai Demokrat menyuguhkan Tarian Bujanganom.

Di ujung tari yang mengisahkan sosok patih dari Kerajaan Bantarangin, Wisnu mengenalkan diri sebagai calon anggota legislatif. Lelaki berusia 31 tahun itu menyampaikan visi misinya sekaligus mengajak masyarakat untuk menggunakan suara pada 17 April 2019 mendatang.

Dengan pendekatan seni tradisional Wisnu yang selama ini dikenal sebagai seniman reog mengaku optimis usahanya tidak akan sia sia. Dia melihat kampanye kreatif yang disuguhkannya mendapat sambutan hangat masyarakat dapil 6. Dalam aksi kreatifnya Wisnu berkirim pesan nilai budaya harus senantiasa dirawat dan dijunjung tinggi.

“Saya yakin pemimpin yang hebat adalah yang menempatkan spirit budaya menjadi bagian dari pergerakannya, “ujarnya. (Mas Garendi)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.