READING

Cara Mengatasi Diri agar Tidak Mabuk Agama

Cara Mengatasi Diri agar Tidak Mabuk Agama

Berdasarkan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2013 jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 133,17 juta jiwa laki-laki dan 131,88 juta jiwa perempuan. Dan berdasarkan data yang dilansir oleh The Pew Forum on Religion & Public Life, penganut agama Islam di Indonesia sebesar 209,1 juta jiwa atau 87,2 persen dari total penduduk. Jumlah itu merupakan 13,1 persen dari seluruh umat muslim di dunia. Jumlah penduduk muslim yang besar ini menjadi berkah sekaligus tantangan bagi Indonesia. Bila muslim Indonesia bisa memanfaatkan bonus ini maka bukan hal mustahil Indonesia menjadi pusat pemikiran Islam, peradaban dan sebagai model muslim yang berkemajuan. Namun bila gagal mengelola umat Islam yang besar ini maka akan menimbulkan musibah besar, kerusakan dimana-mana dan memunculkan kelompok anti agama.

Namun bila melihat beberapa fenomena mabuk agama di Indonesia akhir-akhir ini maka menjadikan Indonesia sebagai ikon muslim dunia masih sulit diwujudkan. Jiwa spiritual sebagian besar masyarakat Indonesia masih naik turun terutama menjelang pemilihan umum. Dalam bahasa lain, penduduk Indonesia banyak yang mendadak haus agama dan spiritualnya naik. Pembahasan tentang agama banyak dilakukan dalam bentuk kajian agama, majelis tafsir Al-Quran, pelatihan cara mencapai surga Allah dan berbagai pertemuan bermotif agama lainnya. Acara ini sering dimodali pengusaha, politikus atau kelompok tertentu sehingga kajian keagamaannya sudah ditentukan sejak awal. Dalam arti isi kajiannya sesuai dengan keinginan sponsor. Efeknya cukup besar. Banyak kalangan elite yang tertarik untuk melebur dalam kegiatan ini. Seperti artis ibu kota, pimpinan partai dan pengusaha muda. 

Tapi di sisi lain, efek dari kegiatan ini secara tak langsung membuat umat Islam semakin terkotak-kotak, sempit, dan tertutup. Hal ini tak lepas dari isi kajian yang sering menjelekkan kelompok lain yang berbeda. Terutama yang berkaitan dengan pemilihan umum semisal tips mencari pemimpin, pentingnya persatuan agama, dan anti kelompok dari agama Islam. Alhasil, tingkat intoleransi meningkat di Indonesia. Kajian agama bukan membuat hati tenang tapi malah membuat masyarakat menjadi beringas. Sementara itu, kelompok lain yang diserang juga menyerang balik dengan mengeluarkan dalil-dalil kitab suci. Dua kelompok ini saling menyalahkan dan tidak bisa ketemu dalam satu forum. Umat Islam saling menjelek-jelekkan saudaranya sendiri. Yang dicari adalah perbedaan terus, lupa kalau Tuhan yang mereka sembah adalah sama.

Social Progress Imperative merilis laporan tahunan Social Progress Index yang melihat kualitas kemajuan sosial suatu negara. Penilaian dilakukan atas tiga faktor utama, yaitu basic human needs, foundations of wellbeing, dan opportunity. Untuk melihat tingkat toleransi di Indonesia, komponen yang disorot adalah toleransi dan inklusi yang terdapat dalam faktor opportunity. Skor yang tercatat dari 2014 hingga 2017 menunjukkan tren yang cenderung meningkat. Pada 2014, skor toleransi dan inklusi Indonesia adalah 27,90 dan naik pada 2015 menjadi 32,30. Namun, skor ini turun pada 2016 menjadi 29,57. Skor kembali naik menjadi 35,47 di tahun berikutnya, menempatkan Indonesia pada posisi 117 dari 128 negara di kategori tersebut.

Lantas apa yang salah dengan muslim Indonesia?

Menurut hemat penulis, keinginan untuk mendalami agama yang meluap-luap tanpa diiringi dengan kecerdasan spiritual yang membuat masalah ini semakin besar dan kacau.

Kata spiritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu sesuatu yang berhubungan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin). Kecerdasan spiritual dalam bahasa lain sesuatu yang berkenan dengan hati dan kepedulian antar sesama, manusia, makhluk berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan yang maha Esa. Jadi, bila akhir-akhir ini banyak masyarakat yang berkopiah, jubah dan rajin membaca Al-Quran tapi suka marah-marah bila lihat saudaranya yang berbeda maka bisa dimungkinkan spiritualnya masih rendah.

Agama memang tak pernah bisa dilepaskan dari kerohanian (spiritualitas). Agama tanpa spiritualitas bukanlah agama, hanya simbol-simbol tanpa makna. Dan, karena itu, ia tidak melahirkan dampak apa-apa. Bahkan, sungguh tak perlu ada keraguan untuk mengatakan: alpha-omega agama adalah kerohaniahan. Bermula dari janji keimanan kepada Tuhan, yang diikrarkan saat (cikal) manusia masih bersifat rohani dan berakhir ketika manusia menjadi sepenuhnya rohani lagi setelah mati.

Bangsa Indonesia sejak dulu sudah memiliki Tuhan, punya tingkat spiritual tinggi. Masyarakat Indonesia kuno selalu mempunyai kepercayaan tentang adanya suatu wujud Maha tinggi. Karena saat itu belum mengenal Islam maka mereka mengembangkan suatu cara tertentu untuk menyembah, memuja dan menunjukkan sikap pasrah pada suatu kekuatan Maha tinggi.

Hal ini bisa dilihat dalam budaya Jawa tentang syukuran setelah panen hasil pertanian, syukuran sebelum panen dan sedekah laut. Hal ini sebagai naluri manusia Indonesia sebagai makhluk bertuhan. Dalam bahasa Jawa disebut “pangeran” dan dalam bahasa Indonesia yaitu Tuhan. Kejadian di bangsa lain juga begitu, mereka memanggil kekuatan Maha tinggi dengan sebutan berbeda-beda. Dalam bahasa Indo-Eropa, “Deva”, “Theo”, “Dos”, dan “Do” serta “God”. Dalam bahasa Semitik disebut “Ilah”, “ILL”, “El”, “Al” dan dalam bahasa Ibrani dipanggil dengan “Yahweh”. Semua itu adalah sebutan untuk kekuatan Maha tinggi yang dalam ajaran Islam populer dengan panggilan Allah SWT.

Sehingga bila ada masyarakat Indonesia yang memaksa saudaranya untuk percaya kepada Tuhan adalah tindakan berlebihan. Karena tidak didorong pun manusia telah percaya kepada Tuhan. Dalam segi spiritual, bangsa Indonesia sejak dulu punya kecerdasan yang luar biasa. Hal ini bisa dilihat dari adab, tata krama dan tradisi masyarakat Jawa yang sangat menghormati orang lain. Dalam bahasa saja mereka punya tingkatan sesuai lawan bicaranya. Sehingga bila Indonesia dengan populasi muslim besar sedunia ingin maju maka harus mengelola nilai spiritual muslimnya juga. Hal ini untuk menumbuh kesadaran fungsi manusia sebagai khalifah fil ardl.

Kecerdasan spiritual adalah salah satu dimensi dalam kesehatan manusia yang dirumuskan selain kesehatan fisik dan mental. Kecerdasan spiritual bisa digambarkan sebagai bentuk upaya manusia dalam menemukan harapan, arti, dan ketenangan dalam hidupnya.

Tiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mencapai kecerdasan spiritualnya, misalnya saja melalui mengikuti perintah guru mursyid, berdoa, meditasi, penegasan positif terhadap diri sendiri (afirmasi), menyanyikan lagu-lagu rohani, membaca buku-buku inspirasional, berlibur ke alam terbuka, hingga melakukan kegiatan kerelawanan. Proses spiritual yang baik memang melalui guru mursyid terutama orang yang memiliki keilmuan terbatas.

Secara rinci masalah mencari mursyid disinggung dalam kitab Ummul Barahin, Dasuki, karya Imam Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Syu’aib al-Sanusi al-Maliki al- Hasani al-Tilimsani (832-895H). Dijelaskan kriteria mencari guru pembimbing atau mursyid itu ada empat: Pertama Muayyadun Binuril Bashiroh, punya kekuatan indra keenam, bisa menembus hati si murid. Kedua, Zaahidun ‘ani ad-dun’ya, beku hatinya terhadap dunia. Ketiga, Ro’ufun bil Fuqoro’ wal Masakin, punya kepedulian mendalam terhadap fakir miskin. Keempat, Rohiimun bi dhu’afail Mu’minin, punya kasih sayang terhadap mukmin yang lemah imannya, sabar ngemong, menuntunnya supaya menjadi mukmin yang kuat. Keterangan ini menurut sebagian orang tak hanya untuk mencari guru mursyid. Bisa juga digunakan mencari guru pelajaran tertentu. Tergantung penafsiran masing-masing individu.

Ulama seperti dijelaskan dalam kitab ini setiap waktu ada di dunia, tapi ibarat seperti eksistensi belerang merah, langka sekali. Tapi meskipun sulit dicari, kriteria yang seperti itu ada, dan kalau sudah menemukan ulama’ seperti itu janganlah seorang murid melepaskannya. Karena mereka (ulama) yang punya kepribadian seperti keterangan di kitab ini adalah orang yang dekat dan takut kepada Allah. Hal ini termaktub dalam Al-Quran surah ke 38, Al-Fathir ayat 28, “innma yakhsyallaha min ‘ibadihil ulama`. Yang takut kepada Allah hanya Ulama”. Lalu tugas murid adalah mengikutinya. (Syarif Abdurrahman)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.