READING

Cara “Nyeni” Warga Jember Menyampaikan...

Cara “Nyeni” Warga Jember Menyampaikan Aksi Reformasi Dikorupsi dan RUU yang Buru-Buru

Perjalanan Jumat siang saat menaiki Pandanwangi, kereta lokal relasi Banyuwangi-Jember terbersit terus di benak saya. Di dalam kereta yang menembus ladang-ladang tembakau, padi dan jagung itu, seorang perempuan paruh baya mengimbau saya untuk berhati-hati jika sedang meliput sebuah demonstrasi. Tentunya, himbauan tersebut muncul dari rentetan panjang obrolan kami sebelumnya. Kekhawatiran perempuan yang seumuran dengan ibu saya itu sangat manusiawi. Sebab kenyataannya, dalih “keamanan” pada aksi massa Reformasi Dikorupsi di sejumlah daerah justru menelan korban jiwa.

Tapi kekhawatiran itu tak terbukti saat aksi massa bertajuk Rata Rata Rantai berlangsung pada Jumat (27/09/2019). Bertempat di halaman samping DPRD Jember, bentuk mosi tidak percaya itu disampaikan dalam sebuah panggung seni milik rakyat yang melebur tanpa sekat.

“Aksi ini, jujur adalah aksi yang spontan bagi saya. Karena kespontanitasan ini berawal dari rasa yang sama. Bagaimana kami ingin membuat hal lain yang berbeda dari demonstrasi pada umumnya, namun juga menyampaikan aspirasi-aspirasi yang baik untuk bangsa ini,” terang Koordinator Lapang Rata Rata Rantai, Trisna Dwi Yuni Aresta kepada Jatimplus.ID.

Menurut Trisna, Rata Rata Rantai memiliki makna yakni porsi yang merata dengan ikatan yang merantai. Dalam arti, apa yang mereka perjuangkan merupakan lanjutan aksi yang sudah dilakukan mahasiswa di daerah lain dan dapat menyuarakan tuntutan itu secara berkesinambungan.

Rata Rata Rantai tak hanya diisi mahasiswa sebagai penggerak aksi, namun melibatkan seluruh elemen masyarakat Jember. Baik pelajar, petani, buruh, akademisi, pengusaha, aktivis, jurnalis, dan para pegiat literasi maupun seni untuk turut menyuarakan kegelisahan dalam sebuah panggung ekspresi. Selain berorasi dan berdiskusi, secara bergantian mereka menyampaikan kritik melalui teaterikal, musikalisasi puisi, dan bernyanyi.

Lagu Darah Juang menggema membuka acara. Ribuan massa aksi berjejal, saling dukung dengan membawa poster-poster bertulis kritik dan perlawanan. Saat lagu Darah Juang berkumandang, puisi berjudul Peringatan karya Wiji Thukul pun dibacakan dengan menggebu-gebu. Lagu Padi Milik Rakyat karya Feast juga bergaung dinyanyikan seluruh massa yang hadir.

Tak lama berselang, massa aksi menundukkan kepala. Mereka mengheningkan cipta untuk mendoakan kawan seperjuangan yang telah gugur beberapa waktu lalu. Yakni Bagus Putra Mahendra, pelajar SMA Aljihad Jakarta yang meninggal saat menuju gedung DPR. Serta Randi dan Muh Yusuf Kardawi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sultra, yang tewas tertembak peluru saat demo di DPRD setempat.

Isu mengenai Papua juga menggaung di tengah massa aksi. Musisi indie Jember, Dandy A. Utama menyampaikan orasi dan membawakan lagu Lembah Baliem karya Slank tentang Tanah Papua. “Kita tahu teman-teman, di 7 Desakan Reformasi Dikorupsi nomor empat bahwa Stop Militerisme di Papua! Kita tahu berapa yang meninggal di sana. Satu lagu untuk teman-teman Papua,” ujar Dandy saat berorasi.

Aksi Teaterikal di Halaman DPRD Jember.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas

Sejumlah puisi dibacakan secara bergiliran. Aksi teaterikal pun dilakukan di sepanjang Jalan Jawa menuju DPRD Jember. Tiga orang pemuda menaiki sebuah keranjang belanja dari besi yang sering kita temui di supermarket. Keranjang belanja itu didorong oleh seorang perempuan, keempatnya berteaterikal melewati jalanan kampus dengan percaya diri. Sesampai di samping DPRD Jember, aksi teaterikal semakin hidup dengan lantunan puisi bersyair satir.

Tidak ada tubuh yang tidak tertata
Bahwa tubuh kita telah ditandai
Tubuh kita telah menjadi angka-angka yang tak dianggap hidup
Dia adalah sekumpulan statistik yang dilihat akan menguntungkan atau merugikan
Tubuh telah ditandai dengan warna-warna
Suaranya akan ditentukan oleh perbedaan waktu
Tubuh dan keramaian yang bergemuruh di dalam diri yang tidak pernah didengarkan oleh orang-orang
Tubuh seperti barang dagangan yang diobral ke sana kemari dengan label harga
Tetapi di dalam keramaian kita semua berkumpul dalam satu suara

Sepotong puisi yang dibacakan oleh seniman Jember itu dicerna lekat-lekat oleh siapa yang melihat. Tafsirnya diterka sekian ratus massa aksi. Yang juga didengar oleh para pedagang, pejalan, dan aparat yang sedang berjaga. Dalam aksi Rata Rata Rantai ini sejumlah tuntutan dijabarkan dalam sebuah diskusi yang selesai hingga malam hari.

“Tuntutan tetep kami suarakan, sama dengan 7 Desakan yang disampaikan oleh mahasiswa di seluruh Indonesia. Ada banyak lah tuntutan. Tentang militerisme polisi dan militer, ada permasalahan asap Riau yang juga kita bawa, permasalahan Papua, RUU PKS untuk disahkan, dan tolak berbagai macam RUU yang kami anggap ngawur! Kami berharap DPR RI dapat bekerja sesuai fungsi dan tidak terburu-buru,” papar Korlap Aksi Rata Rata Rantai, Trisna.

Reporter: Suci Rachmaningtyas
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.