READING

Cara Pak Dosen Ikut Bela Aksi Reformasi

Cara Pak Dosen Ikut Bela Aksi Reformasi

Namanya UNS, bukan USM. Meski terkenal kepanjangannya Universitas Sebelas Maret. Pada Mei 1998, para demonstran yang “malu” mengakui, akhirnya membuat spanduk bertuliskan UNS (Untuk Ngadili Soeharto). Namun stigma (atau fakta) itu tetap saja Sebelas Maret. Juga dosen di sana, sangat “Sebelas Maret”.

Paruh pertama bulan Mei 1998 di Ruang 1, Gedung Lama Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Gedung Lama kami menyebut gedung yang duluan berdiri dibanding gedung sebelahnya yang lebih baru. Pagi itu, tak ada yang istimewa. Pukul 07.00 WIB, kuliah jam pertama adalah Statistika yang diampu oleh Pak Sudjono Utomo. Kami memanggilnya Pak Jono. Seorang dosen yang sangat tekun dan lembut suaranya, bertolak belakang dengan “kesangaran” mata kuliah yang ia ajarkan.

Bagi saya (meski SMA jurusan A1) dan juga mahasiswa lainnya merupakan mata kuliah yang “julid”. Statistika akan “melanjutkan kejulidannya” pada semester selanjutnya. Menjadi mata kuliah Rancangan Percobaan (Rancob). Pak Jono pula dosennya. Sialnya, SKS-nya cukup tinggi. Jadi kalau sampai nilainya buruk, alamat IP semester itu terjun bebas. Maka kami berusaha untuk hadir, tidak titip absen, dan menyimak tiap perkataan dosen seolah kata bertuah untuk membuka tumpurung kepala yang keras nian menerima materi. Sekali absen, maka kita akan “tersesat”. Dijamin, pada kuliah selainnya kita seperti kehilangan arah. Pilihannya, melanjutkan titip absen dan tak ambil pusing dan dipastikan ngulang. Atau tetap duduk di kelas dengan kepala kosong dan berharap ada keberuntungan.

Seperti biasa, Pak Jono datang tepat waktu. Bahkan (hal yang bikin saya sengit) kerap kali sebelum pukul 07.00 WIB sudah di depan menyalakan transparansi. Baiklah, bagi generasi kekinian pastinya tak kenal transparansi. Berlembar-lembar plastik transparan yang berisi materi kuliah, kemudian diproyeksikan ke dinding dengan proyektor. Jadi semacam Power Point versi analog.

Ada yang beda hari itu. Pak Jono tak langsung mengajar. Beliau duduk di depan dan sempat terdiam cukup lama. Saya yang datang (selalu) telat, segera membaca ada hal yang menggelisahkan. Memang, di luar sana, suasana sungguh tegang. Saya dengar dari kawan-kawan, Jogja sudah bergerak. UGM dan kampus-kampus lain sudah berkali-kali demo. Konon, salah satu BEM (Badan Eksutif Mahasiswa) UNS sudah dikirimi pakaian dalam dari entah siapa, karena kami masih belum bergerak dan mengkondusifkan diri (dan kuliah dengan tertib).

Malam sebelum pagi itu, saya dan Mas Heru (Heru Ismantoro), Ketua PMPA Kompos Fakultas Pertanian UNS “terpaksa” mencabut undangan sebuah acara yang melibatkan alumni se-Solo karena suasana memang tidak kondusif. Mencabut undangan tak sesederhana sekarang, tinggal kirim di grup WA. Saat itu kami tak punya HP. Jadi kami datangi rumah alumni satu demi satu. Kami keliling Solo yang sudah memberlakukan jam malam. Tiap akan masuk komplek, KTP kami diperiksa. Entah berapa belas kali, saya dan Mas Heru mengeluarkan KTP malam itu. Pesannya sama: segera pulang ke rumah. Jangan berkeliaran di jalan. Jadi kami sudah menyangka, besok pagi akan terjadi sesuatu.

Sebagai gambaran, 80% (untuk tak mengatakan 95%) mahasiswa Pertanian memang sangat suka kuliah. Demonstrasi kerap hanya domain anak-anak Fisip, Hukum, dan Seni Rupa. Sedangkan kegiatan “menyeramkan” yang berkaitan dengan politik banyak dilakukan oleh anak-anak LPM di Kentingan, kampus ke-2 selain kampus induk. Di FP, yang kerap bicara politik biasanya anggota HMI diikuti PII (meski tak seterbuka HMI).

Meski FP pernah melahirkan orang seperti Ulin Ni’am Yusron, namun prosentasenya sedikit. Sangat. Atau malah hanya itu pada angkatan saya dan dekat-dekatnya. Kalau yang jauh di atas lebih banyak. Kalau pun sekarang banyak kawan-kawan seangkatan kami yang kemudian jadi kader partai, ya tak apa juga.

Barangkali, karena sebagian dari kami memang terlalu takut bahkan untuk bicara di kampus kami. Sebagai ilustrasi, saya baca buku-bukunya Soe Hok Gie hanya berani sembunyi-sembunyi. Itu pun buku photo-copy-an yang beredar per lembar mirip cara mengedarkan Enny Arrow dan Nick Carter.  Apalagi bicara soal politik.

Kampus kami mengambil nama dari “surat sakti” yang sampai detik ini selalu dipertanyakan dan tak pernah ditemukan artefaknya. Tanggal lahir surat sakti itu kemudian diabadikan menjadi tanggal lahir kampus kami. Lengkap dengan mars dan beasiswanya. Beasiswa Supersemar merupakan beasiswa yang sangat ditunggu-tunggu (bagi yang IP-nya bagus. Tentu bukan saya).

Pun pagi itu. Meski denyut kota Solo serasa sudah semakin mendebarkan, kawan-kawan kami pun masih kuliah. Pak Jono pun di depan siap-siap memberikan kuliah. Sampai kemudian, salah satu kawan kami berdiri dan tunjuk tangan. Namanya Bayu Okto Wijaya, salah satu anggota HMI.

“Pak, saya izin tidak ikut kuliah. Saya mau ikut demo,” katanya lugas. Seperti perkiraan, tak ada yang terusik dan tergerak. Ruangan itu tetap biasa saja sebab Bayu memang terkenal sebagai “aktivis” (untuk tak mengatakan kerap bikin “kisruh” di setiap rapat angkatan maupun jurusan). Bayu adalah sedikit, sangat sedikit malah, mahasiswa FP angkatan saya yang berani bicara.

Namun ada yang tak disadari saat itu (atau masa bodoh), bahwa Bayu bicara bukan lagi sebagai aktivis HMI. Ia mewakili mahasiswa lintas organisasi yang harusnya saat itu berada di boulevard kampus untuk menumbangkan rezim yang sudah 32 tahun menguasai segala ranah. Mulai dari ranah kekuasaan politik, ekonomi, budaya, hingga ranah pikiran bangsa ini.

“Silakan. Kalau ada Saudara-Saudara yang ingin ikut demo, silakan. Tidak akan memengaruhi absen atau nilai. Bagi yang ingin tetap kuliah, silakan. Saya sebagai dosen tetap akan mengajar sampai selesai,” kata Pak Jono.

Kelas hening. Bayu keluar. Tak lama beberapa mahasiswa ikut keluar. Tidak lebih dari 5 orang. Lainnya, tetap melanjutkan kuliah. Mereka tetap menjadi mahasiswa Pertanian yang tekun dan teliti pagi itu.

Saya tak tahu, kuliah mereka sampai jam berapa karena saya ikut Bayu keluar. Konon, hanya mata kuliah pertama yang terselenggara, sisanya kosong. Saya tidak tahu, ke mana teman-teman setelah jam kosong. Yang jelas pagi itu saya sungguh kecewa dengan Pak Jono. Kenapa tidak meliburkan mahasiswanya? Kenapa tidak ikut mendukung pergerakan. Kenapa dia sebagai dosen begitu egois. Kenapa dan kenapa berkecamuk di kepala sebagai “darah muda” yang begitu menggelegak.

Menjelang pukul 09.00 WIB, semakin banyak mahasiswa turun ke boulevard. Saya juga melihat kakak-kakak angkatan kami di FP juga ikut. Semakin banyak dan semakin penuh. Sampai akhirnya ricuh. conblock beterbangan. Gas air mata menyelubungi kampus, pedasnya bukan main. Sandal-sandal kehilangan pasangannya. Kasak-kusuk terdengar, beberapa kawan kami diculik. Namun serba tak pasti. Menyisakan sesak yang di bagian entah mana ketika mendekat kata “Dalmas” disebut.

Pada malam harinya, Solo membara. Banyak toko terbakar. Di depan kampus kami, bus Sumber Kencono (jurusan Jogja-Surabaya) dibakar massa. Gudang ban Good Year di depan kampus pun terbakar (atau dibakar). Apinya sampai 5 hari tidak padam. Toko-toko banyak yang tutup dan memaksa menuliskan “Jawa Asli” di gerbangnya. Pusat perbelanjaan dibakar dan dijarah. Semua warung makan tutup. Tentu, kami menghabiskan stok mie instan yang makin mengkhawatirkan sambil sesekali melihat Sjafrie Sjamsoeddin muncul di tv untuk mengabarkan kondisi terkini.

Dalam kondisi mencekam itu dalam benak saya masih memberi label, orang yang tak ikut arus saat itu adalah orang yang paling tak peduli sedunia. Termasuk dosen saya.

Cara “Demo” yang Tak Gagah Ditulis

Berbulan kemudian setelah Mei 1998 lewat, kami kuliah lagi seperti biasa (dan saya rajin bolos seperti sebelumnya). Di luar itu, Pak Jono memang menepati janjinya. Beliau tak mempermasalahkan presensi mahasiswa pada semester tersebut. Semester yang kemudian akan dikenal sebagai peristiwa Reformasi. Namun cara Pak Jono tidak serta merta memberi nilai “gratis”.

Beliau mengadakan kuliah tambahan tepat sehari sebelum ujian bagi berminat datang. Tak banyak yang datang saat itu, tapi saya salah satunya. Semacam les privat. Kuliah yang hanya 1,5 jam itu isinya latihan soal. Tak ada yang aneh. Pak Jono tetap mengajar dengan kelembutannya. Mengajarkan cara menyelesaikan soal yang biasanya hanya 1 atau 2 soal tetapi jawabannya bisa 2 halaman kertas folio. Paginya saya baru menyadari, soal yang kemarin itulah yang dikeluarkannya saat ujian. Sama persis hanya angkanya saja yang berubah.

Saat itulah saya menyadari, bagaimana Pak Jono “ikut demo” dengan cara lain. Membantu kami-kami yang otaknya pas-pasan dan saat itu ikut turun ke jalan. Cara yang tidak heroik dan tidak keren ditulis sebagai status FB: menjalankan tugas sebagai dosen dan “membantu” mahasiswa.

Berselang waktu kemudian, Pak Jono menjadi dosen favorit kami khususnya bagi anak-anak Kompos. Beliau memberikan 24 jam waktunya untuk mahasiswanya yang mau konsultasi tentang Statistika dan Rancob. Betul 24 jam!

Ketika Pak Jono baru menyetandarkan sepeda motornya (betul, di kala dosen-dosen yang lain sudah bermobil, Pak Jono “hanya” naik sepeda motor bebek), tanyakan soal mata kuliahnya. Dia akan menjelaskan dengan detail. Ya kecuali kalau puluhan mahasiswa menunggu di ruang kuliah. Pak Jono akan menunda dan berjanji, pukul sekian, datang ke ruang ini, akan dijelaskan.

Pun di rumahnya. Kami pernah melakukan penelitian tentang Sungai Bengawan Solo dan membutuhkan Rancob untuk menghitung hasil. Kerap kali kami konsultasi ke rumah Pak Jono. Bahkan nyaris tengah malam kami datang karena esoknya harus presentasi, Pak Jono tetap membukakan pintunya.

Demikianlah, saya tulis ini sekadar mencatat seorang dosen yang singgah di hati saya. Dosen bersahaja yang “lurus-lurus” saja. Meski mata kuliahnya tak saya suka, tapi kehadiran dosen seperti Pak Jono begitu menghangatkan.

Semoga Bapak sehat selalu. Semoga pendidik seperti Bapak makin banyak. Hormat saya dari mantan mahasiswa Bapak yang tidak berprestasi ini. Oh, ya, sekadar berterima kasih, nilai Rancob saya 3,4 dan tidak dari hasil mengulang. Tidak ingin pamer, hanya mengabarkan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.