READING

Cara Serikat Buruh Gudang Garam Peringati May Day

Cara Serikat Buruh Gudang Garam Peringati May Day

“Militansi itu sangat dibutuhkan dalam membangun Serikat Buruh. Tetapi militansi itu tidak hanya sekedar dalam orasi, jargon, atau mimbar mimbar pendidikan” (alm Fauzi Abdullah Aktivis Buruh)

KALAU tidak salah ini sudah yang kelima kalinya mas,“ balas Agus, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Gudang Garam Tbk (GG) dalam pesan WhatsApp. Sudah lima tahun peringatan hari buruh sedunia (May Day) ditinggalkan buruh GG. Mereka tidak lagi menggelar aksi. Begitu juga dengan Rabu ini (1/5/2019). Buruh tidak turun ke jalan.

Di saat sebagian besar buruh merayakan dengan show of force, bahkan kelompok pekerja pers (jurnalis) juga turut bersolidaritas, buruh linting rokok GG memilih jalan lain. Tidak ada orasi maupun seruan menuntut hak kepada perusahaan. Mereka punya cara sendiri yang diyakini sebagai win win solution bagi kepentingan pekerja dan pengusaha, yakni tasyakuran.

“Kami menggelar tasyakuran di tiap peringatan hari buruh,“ sambung Agus masih melalui pesan digital. Tidak hanya SPSI. Acara itu juga diamini serikat buruh lain. Agus menyebut Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi)  dan KBKI.

Bahkan perwakilan manajemen perusahaan GG juga melibatkan diri sebagai fasilitator acara. Menurut Agus, tasyakuran sebagai cara yang paling pas dalam memperingati May Day.  Apa yang dilakukan sebagai wujud syukur atas terciptanya hubungan industrial yang harmonis. Hal itu tidak lepas dari dari kerjasama yang baik antara manajemen, serikat (SPSI) dan buruh.

Di Gudang Garam, SPSI memiliki 1.000 anggota. Dalam berorganisasi, serikat pekerja yang dipimpin Agus ini lebih mengedepankan keharmonisan hubungan industrial. Bukan tipikal serikat buruh yang banyak dijumpai di era rezim orde baru, yakni menguatkan kesadaran massa buruh dalam rangka perjuangan hak.

Keharmonisan yang dimaksud disini secara implisit terhapusnya posisi vis a vis buruh dengan pemilik modal. Artinya buruh dan pemodal di perusahaan GG tidak lagi dalam posisi berhadap hadapan.  “Fokus (SPSI) agar Gudang Garam bisa tetap jaya,“ papar Agus.

Tasyakuran peringatan hari buruh pengurus serikat pekerja di Kediri. Foto Polresta Kediri.

Dalam konteks lain di luar pagar merah Gudang Garam, Fauzi Abdullah, dalam artikel “Obor Penerang Yang Tidak Pernah Padam, Wan Oji Sudah Pindah Rumah”, Fauzi bercita cita membangun kekuatan serikat buruh yang solid dan menjadi kekuatan politik yang mampu ikut mempengaruhi kehidupan negara dan kebijakan negara.

Baginya kesadaran massa buruh adalah pokok dari terbangunnya kekuatan buruh. Dia banyak menemukan pengurus atau elite serikat buruh seringkali mengabaikan anggotanya dan lebih mengutamakan diri atau kelompoknya, bahkan pada banyak kasus “menjual anggotanya”.

“Secara internal hal ini disebabkan pola dan mekanisme organisasi yang tidak kolektif, tidak demokratis dan oligarkis,“ tulisnya.  

Data Kementrian Tenaga Kerja (Kemenaker) mencatat menurunya jumlah serikat buruh/pekerja di Indonesia secara drastis. Dari sebanyak 14.000 serikat pada tahun 2007, menyusut menjadi 7.000 pada tahun 2017.  Begitu juga dengan jumlah keanggotannya. Dari 3,4 juta pada tahun 2007 menjadi 2,7 juta pada tahun 2017.   

Fauzi Abdullah melihat perubahan situasi yang terjadi pada rezim otoriter ke demokratis tidak lantas mengubah serikat menjadi lebih kuat. Kenyataan yang terjadi banyak kebijakan perburuhan yang justru semakin memburuk. “Banyak serikat yang kehilangan anggota karena pemecatan dan banyaknya buruh kontrak menjadi dilema bagi serikat buruh,“ tulisnya.

Serikat buruh yang beranggota banyak tidak serta merta organisasinya kuat. Kelemahan keterbatasan informasi, kelemahan menganalisis dan membuat rumusan perjuangan jangka panjang, menurut Fauzi merupakan beberapa deret permasalahan yang dihadapi serikat. “Harus ada pendidikan politik tetapi jangan melupakan pendidikan hak normatif yang menjadi basis kepentingan kaum buruh,“ katanya.

Rudi salah seorang aktivis buruh asal  Blitar mengatakan watak serikat buruh saat ini telah banyak berubah. Tidak sedikit serikat yang bersifat formalis dan hanya aktif untuk urusan administratif. “Biasanya yang model seperti ini memilih berakrab akrab dengan pemilik modal dan penguasa daripada membangun kesadaran buruh,“ katanya.

Jika kelak buruh dan pengusaha bergandengan tangan, haruslah lantaran terpenuhinya semua hak dan kewajiban secara layak. Bukan berdasar kepentingan prakmatis masing-masing pihak. Karena di dalam perusahaan yang sehat, terdapat buruh yang kuat (berserikat). (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.