READING

Catatan Duka untuk SMPN 1 Turi, Kita Semakin Jauh ...

Catatan Duka untuk SMPN 1 Turi, Kita Semakin Jauh dari Alam

Berita itu saya lihat di televisi yang menyajikan informasi live evakuasi anak-anak yang seusia anak saya. Anak-anak kelas 7 dan 8 yang mengikuti susur sungai dan terempas oleh arus. Ada ratusan anak, lalu beberapa di antaranya ditemukan tewas. Doa dan segenap ketabahan semoga melingkupi orang tua dan keluarga yang ditinggalkan. Dan harapan saya, semoga anak-anak lainnya tak trauma berkegiatan di alam bebas kelak kemudian hari.

Sebagai orang tua, sungguh saya tidak sanggup untuk mengikuti berita itu secara tuntas. Saya memeluk anak saya erat-erat dan membisikkan, harusnya alam tak sekejam itu ketika kita tak memunggunginya. Betul, tidak memunggunginya dan menyerahkan semuanya pada Allah SWT tanpa sedikit pun ada upaya untuk mengenal alam ciptaan-Nya.

Memang, maut ada di tangan-Nya. Namun melihat kronologi kegiatan tersebut, rasanya kok kecelakaan yang tak perlu. Bukankah Februari adalah musim hujan sedang deras-derasnya dan anak-anak belia itu harus melawan arus yang demikian tak terduga? Bagaimana bisa? Bahkan sekelas para pengarung jeram pun akan mikir sekian kali untuk melakukannya.

Bagi generasi 90-an yang tinggal di desa, sungai adalah tempat bermain. Saya tumbuh di sebuah desa kecil di kaki Gunung Merapi. Di depan rumah saya mengalir Sungai PP dengan hulu sungai konon dari gunung. Sungai itu mengalir di dasar jurang. Untuk mencapai sungai, harus menuruni tebing sedalam 20-30m. Di sana, air mengalir tak pernah kering, baik kemarau dan penghujan dan tentu saja dalam.

Sungai itu adalah jantung kehidupan desa kami, tepatnya di Dukuh Rejosari, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Ketika sumur gali dalamnya minimal 20m, maka sungai menjadi tumpuan untuk mendapatkan air. Mandi, mencuci, bahkan untuk masak, kami mengambil air dari sungai itu baik pagi sore, dan malam pun selalu ada orang. Meski sungai itu juga gelap dan terjal.

Teman-teman kami nyaris seperti ikan. Tangan dan kaki mungil itu lincah menyusuri tubuh sungai. Bahkan bocah kecil-kecil itu bisa tahu, di mana titik-titik yang ada arus pusarnya. Kami menyebutnya ada “onggo inggi”-nya. Mereka tak berani melewati itu. Berdasarkan apa? Ilmu titen, ilmu menandai yang diwariskan turun temurun.

Apakah tak pernah ada kejadian anak-anak terseret arus? Ada. Teman saya pun ada yang meninggal karena tenggelam. Jika seperti ini, masyarakat lokal akan tahu menemukan di mana dan kapan. Warga sudah sangat hapal dengan “tabiat” sungai kami.

Kejadian ini jarang sekali dan biasanya mereka anak-anak pendatang dari golongan menengah atas yang ibunya tak mengizinkan anaknya bermain di sungai. Mereka biasanya anak-anak yang tumbuh di lingkungan steril, tak seperti kami yang tumbuh di antara debu dan lumpur. Ketika makan nasi bancakan dari teman kami untuk wetonan (ulang tahun) atau nasi wiwit cukup dengan mengelap tangan dengan ujung baju. Tak mengenal cuci tangan apalagi hand sanitizer.

Semakin ke sini, anak-anak “steril” itu semakin banyak di negeri yang agraris ini. Mereka tak lagi mengenal lingkungan alam sebagai tempat bermain. Keahlian alami itu mulai tergerus ketika pendidikan sekolah mengajarkan hal yang sentralistik (baca: Jakarta). Cara anak-anak kota hidup yang tak familiar dengan cara kami hidup.

Kemudian, lahirlah sekolah alam yang ketika dibuat awal-awal, sungguh mahal sekali. Kami anak-anak desa ini heran, bagaimana bisa masuk ke lumpur sawah jadi pelajaran? Sementara kami sudah sehari-harinya demikian dan dulu dicap sebagai anak kampungan (dengan konotasi merendahkan).

Ada memang muatan lokal. Namun agaknya tak semua guru bisa menyampaikan mata pelajaran muatan lokal ini dengan lokalitas masing-masing. Misalnya anak-anak desa yang agraris, mereka bisa mengenali musim, mengenali sungai, mengenali kapan musim jengkerik? Anak-anak di pesisir tidak perlu diajari bercocok tanam sebagaimana di darat tetapi ajari untuk mengenali laut sebagai nenek moyang bersahabat dengan laut. Anak-anak yang tinggal di pinggiran hutan diajari kembali untuk “masuk” hutan, mengenali bahasa tumbuhan yang ada di sana. Anak-anak yang tahu dengan getah apa bisa mengobati luka.

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.