READING

Catatan Kecil tentang Para “Pendonor Mata”

Catatan Kecil tentang Para “Pendonor Mata”

Tak semua orang hidup dengan panca indera yang berfungsi baik hingga akhir hayatnya. Bahkan ada yang sejak lahir tak bisa menggunakannya. Di antara orang-orang itu, ada kebaikan yang menjadikan orang-orang ini bisa mendapatkan apa yang tak bisa dilakukan oleh panca inderanya.

Ada orang yang menemukan dan mendermakan kaki/tangan palsu sehingga orang yang tuna daksa bisa kembali berlari. Ada yang mendermakan korneanya, sehingga orang yang tuna netra bisa melihat.

Di sisi lain, ada yang tak mengubah panca indera yang tak berfungsi itu namun dengan memberikan sesuatu yang lain sehingga para tuna netra maupun yang mengalami gangguan penglihatan bisa melihat dengan cara berbeda.

Adalah Seno Gumira Ajidarma (SGA), sastrawan dan juga jurnalis yang menyajikan keindahan senja untuk para pembacanya. Tak terkecuali untuk Natasha Azalea yang tak bisa menikmati senja karena rabun senja. Kepiawaian SGA mengolah kata sehingga bisa terhampar sepotong senja yang begitu berwarna, bukan abu-abu seperti dunia yang dilihat Natasha sejak usia 10 tahun. Senja dengan matahari sewarna kuning telur asin, cahaya keemasan, bahkan dengan angin, ombak, dan burung camar.

29 January 2001 18:11:00

Dear Seno Gumira Ajidarma

Saya dapat e-mail ini dari teman saya. Semoga Anda tidak keberatan.

Saya hanya ingin Anda tahu, bahwa saya hanya bisa menikmati senja dari cerita-cerita Anda. Mungkin Anda heran… tapi begitulah kenyataannya, saya rabun senja sejak saya berusia 10 tahun.

Lewat e-mail ini saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menghadirkan senja sedemikian indah dalam cerita-cerita Anda.

Natasaha Azalea
(dimuat sebagai sampul belakang buku kumpulan cerpen “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, 2002).

Menurut SGA, Natasha bukan tokoh fiksi sebagaimana Alina dan Sukab dalam cerpen-cerpen di dalam buku itu. Meski sampai catatan ini ditulis, SGA dan Natasha belum pernah bertemu.

Nggak pernah ketemu. Untuk muat itu, saya minta izin dia,” kata SGA yang dihubungi Jatimplus.id, 21/06/2019. Surat ini masih ditampilkan pada cetakan ke-3 tahun 2017.

Barangkali ketika menulis, SGA tak mengira akan mendapatkan tanggapan dari pembaca yang tak bisa melihat warna senja dengan utuh. Kata-katanya kemudian bisa menghadirkan senja itu.

Warna dari Mencium Ribuan Kuntum Bunga

Dengan cara lain, seorang suami menanam bunga untuk istrinya. Bukan untuk dilihat keindahan warnanya, namun untuk dihirup aromanya sebab sang istri tuna netra. Kisah ini diberitakan oleh God News Network (GNN), sebuah situs dari Amerika yang lahir tahun 1997. Berawal dari kegelisahan akan jarangnya jurnalis memberitakan hal baik. GNN sudah memuat lebih dari 21.000 kisah baik dari berbagai belahan dunia. Salah satunya kisah Toshiyuki dan Yosuka Kuroki yang diunggah pada 16 Februari 2016, hingga kini masih dibagikan di media sosial.

Pasangan ini menikah lebih dari 30 tahun dan tinggal di sebuah peternakan dengan 60 ekor sapi perah. Tak lama setelah menikah, sang istri menderita diabetes hingga kehilangan pengelihatannya. Kebahagiaan pun pergi dari diri Yosuka.

Kemudian Toshiyuki beride untuk menanam bunga fuchsia di pekarangannya. Semakin banyak ia menanam. Ia tahu, istrinya tak bisa melihat namun bisa mencium aroma bunga itu. Cara itu berhasil. Kebahagiaan itu kembali singgah bersama ribuan kuntum fuchsia yang mewarnai peternakan sapinya.

Hingga kini, 25 tahun kemudian, rumah itu kemudian menjadi museum yang dikunjungi 7.000 wisatawan tiap fuchsia mekar pada bulan Maret dan April. Bila melihat di foto, fuchsia yang ditanam hanya satu warna. Tampaknya pengunjung tak hanya ingin memanjakan mata, namun melihat sebagaimana Yosuka “melihat” bunga-bunga.

Mata dari Indera Peraba

Lebih jauh lagi, menilik pahlawan yang menghadirkan huruf melalui indera peraba bagi para tuna netra di seluruh dunia. Dia adalah Louis Braille (4 Januari 1809-6 Januari 1852) yang menciptakan sistem sehingga tuna netra bisa membaca bukan dengan mata melainkan dengan indera peraba. Braille mengalami kecelakaan pada umur 3 tahun yang menyebabkan matanya rusak dan tak lagi bisa melihat.

Saat usia 12 tahun, ketika Braille bersekolah tuna netra, seorang prajurit mengunjungi sekolahnya. Charles Barbier, prajurit tersebut mengajari night writing. Sebuah kode yang digunakan tentara untuk menyampaikan pesan. Sistem yang menggunakan 12 titik dalam menulis.

Teknik inilah yang menginspirasi Braille membuat huruf Braille. Ia menyederhanakan menjadi 6 titik dan menjadi huruf lalu kata yang bisa “dibaca” tuna netra dengan cara meraba.

Ketika satu indera diambil, Semesta akan memberi kekuatan lebih pada indera lain. Ketika ada satu kekuarangan, maka akan ada kelebihan di sisi lain. Inilah yang menjadikan manusia menjadi entitas yang unik dan tak bisa tergantikan kehadirannya satu dengan yang lain. Semua punya peran, termasuk ada yang berperan untuk “mendonorkan mata” bagi yang tak punya pengelihatan.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.