CB Junior, Kejutan di Tahun 1988 (3)

Abdul Syukur Subagio tak patah arang mempertahankan tradisi musik di keluarganya. Tak ingin tergilas jaman, pendiri grup musik Children Brother (CB) ini mendorong cucunya untuk ikut mengusung nama besar band keluarga.

Sukses mengantarkan anak-anaknya membentuk grup band CB angkatan pertama, Abdul Syukur menginisiasi cucunya untuk melakukan hal yang sama. Masih mengusung nama besar CB, kali ini giliran anak-anak Siti Chususiati yang mengemban mandat itu.

Siti Chususiati adalah anak tertua dari tujuh keturunan Abdul Syukur Subagio dan Sri Sutarsih. Meski tak begitu tertarik menggeluti musik seperti adik-adiknya, dari rahim dialah para pemain CB Junior lahir. Mereka adalah Davit, Farid, dan Renault.

Bakat dan kemampuan musik yang dimiliki Muhamad Wahib, suami Siti Chususiati adalah modal besar bagi Davit dan adik-adiknya. Dari sang ayah mereka mengenal alat musik dan memainkan dengan genre rock. “Saya masih berumur 15 tahun saat membentuk CB Junior bersama adik-adik,” kata Davit Johar Arifin kepada Jatimplus.

Tahun 1988 menjadi masa bersejarah bagi perjalanan CB band. Di rumah yang sama, yakni di kediaman Abdul Syukur di kawasan Pasar Pahing, Kecamatan Kota, Kediri, CB band lahir kembali dengan wajah lebih segar. Kelahiran mereka tak melenyapkan CB band angkatan pertama yang digawangi om dan tante mereka. “Kami berdiri sendiri dengan gaya bermusik yang beda,” terang Davit.

Pada formasi awal, CB Junior digawangi Davit yang bermain gitar, Farid pada drum, dan adik paling bungsu Renault di balik keyboard. Untuk melengkapi komposisi band, mereka mengajak Oni, teman sekolah Farid di SMP Negeri 1 Kediri yang memegang bass sekaligus penyanyi. Oni adalah satu-satunya pemain CB Junior formasi awal yang bukan merupakan keturunan Abdul Syukur Subagio.

Berbeda dengan CB pertama yang belakangan dijuluki CB Veteran, CB Junior tampil lebih garang dengan konsep hard rock. Jika CB Veteran membawakan lagu-lagu Koes Plus, CB Junior mengulik lagu-lagu God Bless. “Saat itu bertepatan dengan keluarnya album Semut Hitam,” kata Davit.

Kemunculan CB Junior ini sekaligus mematahkan kodrat band tersebut untuk memiliki penyanyi perempuan. Karakter Atiek CB yang begitu melekat di formasi lawas digantikan oleh Oni. Sehingga praktis banyak perubahan fundamental yang dilakukan CB Junior.

Meski masih berusia belasan, namun kepiawaian para personil CB band tak bisa diremehkan. Distorsi tebal dari gitar David serta ketukan double pedal Farid yang ritmis menjadi ciri khas band ini. Meski tak pernah menyentuh sekolah musik, namun bakat dan kemampuan penguasaan alat mereka luar biasa.

Dalam sekejap pecinta musik rock di Kediri terkesima dengan lahirnya generasi kedua CB ini. Tawaran manggung dari pentas ke pentas berderet hingga ke luar kota. Kala itu, Abdul Syukur Subagio masih kerap mendampingi cucu-cucunya manggung.

Satu lompatan besar diraih CB Junior saat mengikuti ajang Festival Rock Indonesia VII yang dipromotori Log Zhelebour pada tahun 1993. Kala itu formasi CB telah mengalami tambal sulam. Pemetik bass Oni hengkang dari CB dan digantikan Bismo. Sedangkan vocal dipegang oleh Ririn, seorang penyiar radio yang memiliki tarikan suara tinggi.

Lagu ciptaan mereka berjudul Nyi Roro Kidul mendapat apresiasi dari tim juri Festival Rock Indonesia VII. Tak hanya mengumbar skill, lagu ini juga memiliki nuansa mistis yang diproduksi Renault melalui keyboardnya. Lagu ini juga banyak dicover oleh band-band rock tanah air.

Tak hanya CB Band, Log Zhelebour juga mengambil sembilan grup band lain untuk diajak melakukan rekaman. Mereka adalah Aceh Rock Band, Andromedha, Cassanova, Lost Angels (yang belakangan berganti nama menjadi Boomerang), Metal Force, Pratama Rock Band, Phytagoras, Sahara, dan Scandal Rock Band.

Stigma CB sebagai band panggung makin tak tergoyahkan saat menjuarai Festival Rock Indonesia VIII. Tetap dipromotori Log Zhelebour, band ini berhasil menyabet posisi Runner-up. Hanya saja kali ini penggebuk drum mereka, Farid tak bisa bergabung. Posisinya digantikan oleh Bonpay yang bukan dari keluarga besar CB. “Alhamdulillah saya menyabet pemain gitar terbaik,” kata David.

Bersamaan dengan mereka, sebuah grup band asal Kediri Mushroom turut menyita perhatian juri. Bahkan sang vokalis Decky Donal Sompotan diganjar menjadi penyanyi terbaik karena suara khasnya yang cadas. Seperti festival sebelumnya, CB Band sukses mengikuti rekaman lagu berjudul Obsesi yang mereka bawakan saat bertanding. Kesempatan yang sama diperoleh Mushroom, Teaser, Metazone, Grezz Rock, Antusias, Leppis, Unpar, Emperial, dan Three Brother yang masuk sebagai 10 finalis.

Predikat sebagai pemain gitar terbaik dalam sebuah ajang kompetisi yang digelar Log Zhelebour mendongkrak popularitas CB Band. Menyalip kejayaan seniornya di CB Veteran, David sukses menaikkan pamor CB sebagai grup band rock tanah air. “Meski CB jarang tampil, tapi tawaran kepada saya untuk menjadi juri berdatangan,” kata David yang menerima berkah dari prestasi itu.

Kepiawaian Davit dalam memetik senar gitar dan efek suara patut diacungi jempol. Kursus musik yang dia dirikan kebanjiran peminat. Demikian pula dengan studio musik yang dikelola sebagai salah satu sumber ekonomi.

Kecintaan serta dedikasi mereka pada musik juga tak main-main. Davit dan adiknya tak pernah kehilangan spirit saat tampil di atas panggung, bahkan dalam situasi yang kurang menyenangkan.

Kusdaryanto, seorang notaris di Bogor memiliki pengalaman tentang ini.  Saat masih duduk di bangku kuliah di Universitas Jember, Kusdaryanto terlibat dalam pagelaran Festival Musik se-Jawa Bali yang diselenggarakan organisasi intra kampus. Kala itu panitia mengundang CB Band sebagai bintang tamu.

Menurut kesaksian Kusdaryanto, para personil CB terlihat lelah saat tiba di kampusnya menjelang Maghrib. Mengendari mobil, mereka menempuh perjalanan hampir 10 jam dari Kediri menuju Jember.  Tak hanya penumpang, mobil itu juga disesaki peralatan manggung yang akan dipakai.

Tak ada waktu istirahat untuk mereka. Tiba di lokasi pertunjukan, para personil CB langsung melakukan cek sound, sebelum berganti pakaian di penginapan yang disediakan panitia. “Mereka tak protes saat kami beri nasi bungkus di belakang panggung,” kenang Kusdaryanto.

Banyaknya peserta kompetisi membuat jadwal penampilan CB molor hingga tengah malam. Alhasil, jawara Festival Rock Indonesia ini pun harus tampil nyaris tanpa penonton yang telah meninggalkan arena. Meski demikian, Davit cs tetap bermain prima dan menyelesaikan seluruh lagu yang menjadi kewajiban mereka sebagai bintang tamu. “Kalau band lain mungkin sudah gak mau main,” puji Kusdaryanto. (*)

Baca selanjutnya : Terseok di Industri Musik Tanah Air 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

  1. […] Baca selanjutnya : CB Junior Kejutan di Tahun 1988 […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.