READING

Cerita Karomah Kiai Shodiq Kediri, Dari Membaca Ke...

Cerita Karomah Kiai Shodiq Kediri, Dari Membaca Kematian Hingga 3 Langkah Pulang Dari Mekkah

Kiai Shodiq Yasir bukan kiai sembarangan. Pengasuh Ponpes Salafiyah Kapu, Dusun Kapurejo, Desa/Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri itu diyakini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

KEDIRI- Orang Jawa menyebutnya weruh sakdurenge winarah. Mengerti apa yang bakal terjadi. Kepekaan intuisi yang biasa dikaitkan dengan kemampuan membaca tanda alam atau musibah kematian. Orang awam biasa menyebut kesaktian atau jadug atau dugdeng.

Di lingkungan pondok pesantren akrab dibahasakan karomah atau keramat. Anugerah yang diberikan Sang Khalik kepada hambanya yang bertakwa dan shalih. Biasanya kelebihan itu dimiliki para wali, salik  termasuk juga para kiai yang setiap tarikan nafasnya hanya untuk menyebut nama Nya.

Kiai Shodiq dipercaya sebagai salah satu yang memiliki keluwihan itu. Hal hal yang tidak bisa dijangkau panca indra manusia biasa, kiai Shodiq dipercaya  mampu menjangkaunya.

“Kiai Shodiq memiliki firasat yang kuat terkait dengan sesuatu di sekitarnya. Beliau biasa dikenal memiliki kelebihan tahu sebelum terjadi,”tutur Muhammad Amar Sunari pengurus Ponpes Kapu di Desa/Kecamatan Pagu.

Uniknya cerita seputar karomah Kiai Shodiq lebih banyak muncul di luar lingkungan ponpes Kapu. Kisah kisah “ajaib” itu justru datang dari kalangan sejarahwan lokal dan sejumlah ulama di Kediri. Salah satunya yang terkenal adalah cerita soal kematian.

Pada suatu hari Kiai Shodiq tiba tiba berpesan kepada seseorang untuk lebih mawas diri dalam hidupnya. Ternyata pesan yang tidak biasanya itu merupakan isyaroh yang bersangkutan tidak berumur panjang. Tidak lama kemudian yang diberi pesan meninggal dunia.  

“Saat itu isyarat yang disampaikan untuk lebih awas dalam memperbaiki hidup,“ kata Amar.  Begitu juga dengan cerita soal buah jambu. Suatu ketika Kiai Shodiq hendak mengunjungi rumah santrinya di daerah Gresik.

Dalam pembicaraan itu Kiai Shodiq mendadak nyeletuk dirinya bakal mendapatkan buah jambu. Ucapan tiba tiba dan tidak disangka sangka itu terbukti kebenarannya.  “Ternyata saat sampai Kyai Shodik dapat jambu. Dan pulang ke pondok bawa jambu beneran,” kenang Amar

Ilmu karomah yang dimiliki Kiai Shodiq diyakini tidak lepas dari kebiasaan ber-riyadhoh atau tirakat. Upaya menahan segala godaan nafsu duniawi itu dilakukannya sejak belum dewasa. Shodiq kecil gemar berpuasa. Juga selalu menjauhi segala larangan dan senantiasa mendekatkan diri kepadaNya.

Menurut Amar, pernah suatu saat di tahun 1970-an, seseorang yang mengaku dari Kabupaten Tulungagung bertamu malam malam ke Ponpes Kapu. Kepada Kiai Shodiq, si tamu yang belum lama pulang dari tanah suci mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah ditolong.

Pengakuan itu, kata Amar sontak membuat semua orang di ruangan terheran heran.  Haji asal Tulungagung itu bercerita bagaimana dirinya tersesat di tanah suci. Dalam keadaan buntu, tiba tiba orang Tulungagung itu didatangi ulama Arab dan diajak menemui Kiai Shodiq.

Singkat cerita, karena dianggap sesama dari Negara Indonesia,  ulama Arab itu meminta Kiai Shodiq mengajak orang yang tersesat itu pulang bersama. Bukan naik kapal laut maupun pesawat terbang. Kiai Shodiq hanya memegang kedua tangan orang Tulungagung, lalu menyuruhnya memejamkan mata dan mengikuti langkahnya.

Pada langkah ketiga orang Tulungagung itu diminta membuka mata. Dia tersentak dan tanpa sadar berulangkali menyebut asma Allah SWT. Bagaimana tidak heran. Dirinya mendapati tidak lagi berada di tanah suci. Melainkan di dalam rumahnya di Tulungagung.  “Ya itulah kisah tentang Kiai Shodiq,” ungkapnya.

Di era tahun 1960-an nama Kiai Shodiq terkenal sebagai penyiar agama yang militan. Selain mengajar di ponpes Kapu dirinya juga rajin berdakwah berkeliling. Menurut Achmad Zainal Fachris ahli sejarah yang juga penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kediri, Kiai Shodiq juga dikenal sebagai tokoh Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kediri.

Selain itu juga pendiri organisasi bela diri pencak silat Bintang Songo yang dikenal di kalangan nahdliyin. Fachris yang getol meriset ponpes tua di Kediri menyebut Kiai Shodiq memiliki ilmu kebalan. Dari cerita berbagai sumber, kehebatan tidak mempan bacokan senjata tajam maupun tembakan itu terlihat saat peristiwa gonjang ganjing tahun 1965.  

“Kyai Shodiq terkenal kebal dan juga memiliki kelebihan tahu sebelum terjadi,” terang Fachris.

Hal senada diutarakan Ketua Lesbumi Kabupaten Kediri Abu Muslich. Soal cerita karomah itu bahkan Abu sempat mengalaminya sendiri. Kala itu ada kegiatan Banser di Surabaya. Ponpes Kiai Shodiq memberangkatkan lima kloter banser Kediri. Ketika kloter pertama tiba di Surabaya, mereka disambut Kiai Shodiq

Yang mengherankan, saat ada yang menelpon kloter keempat yang masih berada di Kediri, mereka mengatakan baru hendak diberangkatkan Kiai Shodiq. “Sehingga kami meyakini kiai Shodiq dalam satu waktu itu berada di dua tempat yang berbeda,” tegasnya.

Kiai Shodiq wafat pada tahun 2000. Dari cerita yang berkembang. Jauh hari sebelum menutup usia Kiai Shodiq sudah merasakannya dan hal itu disampaikan kepada  keluarganya.

Seperti diketahui, cerita karomah  dan semacamnya itu tumbuh subur di lingkungan pondok pesantren nahdliyin. Cerita itu membuat santri semakin tawadu’ kepada para kiainya. Rasa hormat santri kepada kiai semakin berlipat.

Setiap dawuh atau ucapan seorang kiai akan disimak sekaligus ditunaikan sungguh sungguh. Seorang santri akan selalu teringat konsekuensi hukum “kualat”, yakni tidak bermanfaatnya ilmu yang pernah diserap.(Moh. Fikri Zulfikar)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.