READING

CEO Persik: Kami Butuh Pemain Berperilaku Baik

CEO Persik: Kami Butuh Pemain Berperilaku Baik

Sempat ditinggal suporternya, klub sepak bola Persik Kediri bertahan di pusaran kompetisi yang keras. Dengan tenaga yang ada, mereka berjuang mendapatkan kembali kejayaan sebagai juara liga Indonesia, sekuat-kuatnya.

Reinkarnasi Persik terjadi setelah klub yang berdiri tahun 1950 ini terjungkal ke kasta terendah kompetisi sepak bola Indonesia. Setelah dikenang sebagai juara Liga Indonesia dua kali, prestasi Persik terjengkang ke Liga III akibat kekalahan yang dialami berturut-turut.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Inilah pepatah yang menggambarkan situasi Persik kala itu. Anjloknya prestasi klub sepak bola ini memicu kemarahan suporter yang memutuskan meninggalkan mereka. Beberapa kali pertandingan yang berlangsung di kandang sendiri terpaksa dilakukan tanpa penonton.

Bukan hanya mengurangi semangat pemain, sikap suporter ini sekaligus memukul sumber pendapatan klub yang bergantung pada penjualan tiket. Persik benar-benar limbung dihajar kanan kiri.

Tak patah arang, manajemen Persik mengais kembali sisa semangat yang masih ada. Pulihnya kepercayaan suporter menjadi amunisi terbesar kebangkitan mereka di kancah sepak bola Indonesia.

Kepada Jatimplus.ID, CEO Persik Subiyantoro mengisahkan jatuh bangunnya klub ini hingga tak menyisakan apapun. Berikut wawancaranya:

Bagaimana Anda masuk Persik pertama kali?

Saya ditarik menjadi pegurus Persik saat kondisi manajemennya amburadul. Surat menyurat tidak jelas, manajemen tidak tertata, garis komando juga morat-marit. Banyak aparatur sipil negara yang berada di dalamnya.

Apa yang Anda lakukan?

Tidak ada pilihan selain melakukan perombakan manajemen secara total. Semua pengurus yang berstatus ASN dikembalikan ke dinas masing-masing. Regulasi juga melarang keterlibatan pemerintah dalam klub sepak bola. Berat memang, tetapi harus dilakukan.

Soal pemain?

Karena saya masuk dalam kondisi Persik yang terpuruk, baik manajemen maupun keuangan, saya ajak semuanya untuk bersikap realistis. Termasuk suporter. Jangan ada lagi yang mencari keuntungan dari klub. Semua harus bekerja dengan ikhlas dan memiliki tujuan sama, membangun Persik kembali.

Kami juga merekrut pemain muda yang punya skill dan komitmen. Sebab pemain dengan skill tinggi tetapi bersikap buruk, jauh lebih berbahaya dibanding pemain biasa tetapi bermental bagus. Persik butuh pemain dengan dedikasi dan komitmen tinggi. Bukan pemain bintang yang resek.

Apa membawa pengaruh?

Sangat berpengaruh. Pemain senior yang memiliki mental buruk akan menggembosi pemain lainnya. Misalnya, komplain saat mendapat hotel yang biasa. Protes dengan menu makanan yang disediakan pengurus. Padahal kita semua sudah mati-matian memenuhi kebutuhan mereka sesuai standar.

Alhamdulillah pemain Persik saat ini memiliki budi pekerti bagus. Mereka bangga pada Persik dan berdedikasi tinggi untuk berjuang bersama. Inilah yang kami harapkan. Sehingga perlahan-lahan, aura positif ini terbawa ke lapangan dan mempengaruhi spirit bermain mereka.

Bagaimana Persik pada akhirnya bisa lepas dari kasta terendah?

Kami tidak punya modal apapun selain komitmen. Meski keuangan kami tak berlebih, tetapi hak pemain tak pernah terlambat. Secara tidak langsung itu memengaruhi kesungguhan mereka untuk bermain. Selesaikan kewajibanmu, kami selesaikan kewajiban kami.

Kami juga tak pernah membebani mereka dengan target tertentu. Bahkan saat bermain di liga tiga, harapan kami sederhana, bisa naik ke liga dua. Namun ternyata permainan lepas kami bisa mengantarkan menjadi juara.

Tak lagi diboikot suporter?

Begini, suporter itu bukan di luar sistem. Tetapi mereka bagian besar dari Persik. Kami ajak mereka untuk ikut memikirkan Persik. Sehingga susah senang kita tanggung bersama. Tidak ada rahasia di antara kami. Perlahan-lahan kepercayaan mereka kembali.

Apa kunci utama mengelola Persik?

Serius, lurus, tulus. Tanpa itu Persik tidak akan pernah sampai seperti ini. Pengurus dan pemain harus punya komitmen ini, dan jangan berpikir pragmatis.

Bagaimana dengan mafia bola?

Ah, biarkan saja. Selama menjalani kompetisi, kami tak pernah bersinggungan dengan mereka. Kami juga tak pernah menghitung mereka sebagai faktor teknis. Karenanya setiap pertandingan harapan kami kepada wasit hanya satu, fair play. Bukan minta dimenangkan.  

Penulis : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.