Cerita Dari Runway Di Tengah Hutan

KEDIRI – Event The 5th Dhoho Street Fashion yang diselenggarakan di Hutan Joyoboyo Kota Kediri baru saja usai dan berlangsung dengan sukses. Gelaran fashion kali ini terbilang unik, karena runway tempat lalu-lalangnya model berada di antara pepohonan rindang hutan kota. Acara juga sengaja dihelat pagi hari, memanfaatkan cahaya alami matahari untuk menerangi lenggak-lenggok para kapstok berjalan menampilkan baju-baju indah energik beraksen tenun khas Kediri. Banyak cerita menarik yang terjadi selama acara berlangsung, yang sayang sekali kalau tidak dibagikan disini.

Latief Suwignjo (87) mengamati seorang pengrajin yang sedang bekerja menggunakan alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di gelaran Dhoho Street Fashion. Latief dan keluarga besarnya adalah pelopor terciptanya tenun ikat khas Kediri.

Peragaan busana yang bertujuan untuk merangsang industri kreatif dan meningkatkan citra tenun ikat khas Kediri baik di tingkat nasional maupun internasional ini, rutin digelar sejak lima tahun terakhir oleh Pemkot Kediri dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri. Konsepnya menarik, yaitu selalu diadakan di ruang publik luar ruangan. Selain untuk mendobrak kekakuan ajang fashion show yang biasa diadakan dalam gedung, tujuannya adalah juga untuk mengenalkan ruang-ruang terbuka hijau yang kini banyak dibangun di kota Kediri.    

Koleksi busana rancangan Priyo Oktaviano memang “Ambyar”. Di Akhir sesinya, para model berjoget bersama, diiringi lagu yang sedang hit saat ini, “Entah apa yang merasukimu”.

Dhoho Street Fashion (DSF) tahun ini menampilkan rancangan desainer lokal seperti Numansa, Luxecesar, Azzkasim, dan siswa-siswi SMKN 3 Kota Kediri. Karya-karya Mereka cukup kompetitif dan tidak “tenggelam” saat berbagi panggung dengan tiga desainer beken yang khusus diundang untuk merancang desain baju berbahan tenun ikat Kediri, yaitu Didiet Maulana, Priyo Oktaviano, dan Samira M Bafagih. Ketiga desainer nasional itu bak “pulang kampung” sebenarnya, karena mereka mempunyai ikatan erat dengan Kota Kediri.

DJ Ari Wulu dari Jogja turut “berjasa” menciptakan ambien suasana yang sesuai dengan rancangan masing-masing desainer.

Didiet sejak tahun 2017 telah rutin berkolaburasi dengan rumah-rumah tenun di Kediri untuk menciptakan desain busana berbahan utama tenun yang anggun dan kalem namun tetap mengikuti tren masa kini. Sedangkan Priyo yang memang lahir dan bersekolah hingga SMA di Kediri, tentulah tak asing dengan kota tercintanya ini. Pria yang paham betul dengan berbagai jenis kain tenun di Indonesia ini, menampilkan desain baju yang casual, energik, dan fun, dengan peggunaan kain tenun warna neon beraneka ragam. Karya dari Priyo benar-benar menghidupkan suasana. Pantaslah kalau ditempatkan di awal acara, untuk menciptakan daya hentak di tengah penonton.  

Samira M Bafagih menerima karangan bunga dari salah seorang kerabat.

Samira sendiri mempunyai ikatan kuat juga dengan kota ini. Beberapa kerabatnya tinggal disini. Dari sekian banyak rancangan baju dari para desainer yang tampil, mungkin karya dari Samira lah yang paling lekat dengan tema yang diusung oleh Dhoho Street Fashion kali ini, “Pride of Jayabaya”, yaitu upaya untuk mengenang kembali spirit masa keemasan Kerajaan Kediri pada era waktu 1135 – 1157 Masehi saat dipimpin oleh Raja Jayabaya. Pemilik produk busana muslimah bernama Tuneeca ini, menerjemahkan tema tersebut dalam bentuk baju tenun bertumpuk, dengan detil bordir dan aksesoris keemasan khas kerajaan seperti mahkota, bros, dan sumping.

Seorang model yang baru terjatuh karena tali sepatunya putus, tetap berjalan penuh percaya diri meneruskan langkahnya.

Bicara soal model, tentulah bagi sebagian model profesional, berjalan di atas catwalk kadang tak semudah yang dibayangkan. Selain harus menghilangkan grogi karena tampil di muka umum, mereka juga harus benar-benar memperhatikan langkah agar tak selip dan terjatuh.  Terlebih apabila baju atau outfit yang harus mereka kenakan terlalu ribet dan mengganggu gerak. Jadi bisa dibayangkan, betapa menantangnya bagi para model saat berjalan di runway berupa jalan setapak di tengah hutan saat acara Dhoho Street Fashion kali ini. jalurnya berkelok-kelok mengikuti posisi pepohonan yang dilintasi jalan tersebut. Selain itu, para model juga harus berhadapan dengan ratusan penonton yang memenuhi kanan-kiri jalur yang mereka lewati.

Tingkah polah Alkeinan, putra bungsu dari Arumi Bachsin (Ketua Dekranasda Jatim).

Panggung utama jujugan para model adalah ampitheater terbuat dari batu yang berada di tengah hutan. Disanalah para tamu undangan berada. Di bangunan berbentuk lingkaran dengan undakan sebagai tempat duduk itu, para model berpose kemudian berjalan mengelilingi panggung, memamerkan rancangan para desiner yang mereka kenakan. “Puncak derita” bagi para model, terutama pemakai sepatu berhak tinggi, adalah saat menaiki atau menuruni tangga batu menuju ampitheater. Beberapa model hampir terjatuh karena tidak tepat memijakkan kaki saat melangkah.

Anak-anak tampil dengan berani di panggung dengan busana rancangan Didiet Maulana, sebagai penanda bahwa merekalah yang akan memastikan bahwa tenun ikat khas Kediri akan tetap eksis di masa depan.

Selain berbagai drama yang terjadi di jalur runway, ada pula cerita-cerita yang lucu, unik, dan menyentuh terjadi diluarnya. Seperti saat seorang model yang kekeuh meneruskan langkahnya setelah terjatuh karena tali sepatunya putus. Penonton bukannya mencemooh, tapi justru memberikan applause kepadanya. Terlihat juga tatapan hangat Samira saat memperoleh karangan bunga dan ucapan selamat dari salah seorang kerabat di panggung. Atau kehebohan penuh tawa ketika anak-anak dari Arumi Bachsin (ketua Dekranasda Jatim) dan Ferry Silviana Abu Bakar (ketua Dekranasda Kediri), tampil bersama dengan berani di atas panggung memamerkan baju rancangan Didiet Maulana.

Majunya kelima anak berpakaian tenun di atas panggung ini menjadi pesan penting ke masyarakat, bahwa keberlangsungan tenun ikat khas Kediri ini ada di pundak para generasi mudanya. Merekalah yang nanti akan memastikan, bahwa tenun ikat khas Kediri ini akan tetap eksis di masa depan.

Priyo Oktaviano memamerkan kaosnya yang bertuliskan “Kediri Keren” saat bercengkerama dengan Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, seusai acara.

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.