READING

Cerita Faisal Oddang Saat Dihantui Cerpenis Amerik...

Cerita Faisal Oddang Saat Dihantui Cerpenis Amerika Raymond Carver

Seperti musisi. Setiap sastrawan selalu memiliki rootnya sendiri. Memiliki sastrawan panutan, baik menjunjungnya sebagai mentor secara langsung maupun bercermin pada karya yang ditetaskan.  

Pramoedya Ananta Toer misalnya, memilih sastrawan Idrus. Bahkan Pram pernah digembleng langsung penulis cerita Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma itu. Pram juga mengagumi kisah Komedi Manusianya William Saroyan serta Tikus dan Manusia John Ernst Steinbeck.

Begitu halnya Eka Kurniawan yang dipengaruhi realisme magis sastrawan Gabriel Garcia Marques. Atau Yukio Mishima yang mengikuti gaya menulis Yasunari Kawabata dan masih banyak lagi lainnya.

Tidak hanya dikagumi. Diatas maupun dibawah alam sadar, root mempengaruhi gaya penulisan. Bahkan beberapa diantaranya juga mempengaruhi life style dan ideologi “follower”nya. Di dunia politik, root semacam kaderisasi.   

Kebiasaan itu tidak sepenuhnya berlaku bagi Faisal Oddang. Sastrawan kelahiran Wajo 18 September 1994 tidak begitu memuja Raymond Carver, yakni sastrawan yang oleh para pengagumnya dilangitkan sebagai dewa cerpen Amerika.  

Bahkan nama Raymond yang tutup usia 1988 silam itu awalnya tidak masuk dalam daftar rencana penulisan Oddang. “Tak ada rencana, karena dalam residensi itu kami memang tidak diwajibkan untuk menulis buku,” ungkap Faisal ketika mengisi kegiatan bincang buku di Kedai Kopi Kalimetro Kota Malang Rabu malam (3/7) lalu.

Faisal Oddang menghadiri undangan acara International Writing Program 2018 di Iowa University, Amerika Serikat. Karena sudah tahu tidak ada kewajiban menulis buku, selain mengisi kelas, dalam benak penerima penghargaan ASEAN Young Writers 2014 dari Negara Thailand itu paling hanya meludeskan honorarium yang diberikan panitia acara.

“Kita hanya diwajibkan untuk mengisi kelas dan menghabiskan uang yang mereka berikan, “sambungnya sembari tertawa. Perkiraan itu ternyata sedikit meleset. Setiba di Iowa, yakni tepatnya dalam perjalanan menuju hotel tempat menginap, panitia acara sedikit  menginterogasinya.

Pembicaraan bergulir seputar Raymond Carver. Apakah Carver cukup dikenal di Indonesia?. Apakah banyak yang membaca karya karyanya?. Oddang pun berpresentasi. Dijawabnya bahwa di Indonesia karya pemilik nama lengkap Raymond Clevie Carver Jr itu lumayan banyak menemukan pembaca. Namun sebagian besar masih dalam bahasa aslinya (Inggris).

Oddang beralasan belum banyak karya Carver yang dialihbahasakan Indonesia. Salah satu terjemahan yang ada saat ini adalah buku berjudul What We Talk About When We Talk About Love. Buku terbitan Agustus 2018 itu berisi 17 cerpen Raymond Carver dengan Dea Anugrah dan Nurul Hanafi sebagai pengalih bahasa (Indonesia).

Oddang sendiri lebih mengingat cerpen Carver yang berjudul So Much Water So Close To Home. “Panitia itupun kemudian menerangkan bahwa hotel tempat saya tinggal nanti adalah tempat Raymond Carver tinggal kala dia mengikuti program residensi yang sama dengan saya. Lantainya pun juga sama,”kata Oddang.

Sampai titik itu Oddang belum menganggap cerita obituari yang disampaikan panitia sebagai sesuatu yang istimewa. Baginya hal biasa yang tidak begitu menarik. Hingga pada hari ketiga dirinya dengan mata kepala sendiri menyaksikan sebuah acara perkabungan di depan hotelnya.

Ritual yang dilakukan mahasiswa Iowa untuk Molybet, salah seorang kawan mereka yang meninggal dunia, menggugah pikiran Oddang. Kematian Molybet yang ditulis media lokal setempat,  mengingatkannya pada kisah So Much Water So Close To Home Raymond Carver.

“Peristiwa kematian Molybet hampir mirip dengan adegan yang ada dalam cerpen, “terang Oddang. Memang saat itu belum terpantik untuk segera membuat karya. Namun sastrawan yang sudah menelurkan empat karya prosa dan kumpulan puisi itu menangkap perasaan ganjil. Oddang merasakan adanya hubungan tidak langsung dengan Raymond Carver.

Apalagi di suatu malam pertemuan bersama, saat berbincang dengan salah satu peserta residensi asal Jepang, dia merasakan kehadiran Carver semakin menguat. Oddang bertanya seperti apa karya Haruki Murakami di negerinya.

Tidak hanya mendengar cerita soal Murakami. Oddang juga mendapati penuturan betapa banyak karya Murakami yang dipengaruhi  Raymond Carver. “Lagi-lagi Raymond seperti selalu muncul. Hingga saat itu saya bertanya-tanya kenapa satu minggu ini Raymond selalu datang di kehidupan saya,”kata Faisal Oddang.

Malam itu Oddang tidak hanya bertemu banyak penulis dari negara lain. Dalam kegiatan residensi dirinya juga dibanjiri banyak hadiah buku. Dan sebagian besar merupakan karya Raymond Carver. Dia mendadak teringat Carver pernah menulis kisah hari hari terakhir Anton Chekov.

Chekov merupakan mbahnya cerpenis Rusia. Namanya kerap disebut sesering nama sastrawan Maxim Gorky, Leo Tolstoy dan Fyodor Dostoyevsky. Dari situlah Oddang memantapkan hati menulis novel tentang Raymond Carver. Bayangan Carver yang seolah terus mengikuti menemukan bentuknya.  

Karya fiksi biografi yang kemudian diluncurkan tahun 2019 ini, dijudulinya “Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa”. Sampul novel itu cukup provokatif. Menggunakan gambar mie goreng instan yang merupakan makanan familiar bagi lidah masyarakat Indonesia.  

Lalu kenapa Mie Instan?. “Mi Instan ini erat dengan saya saat berada di Iowa saat itu. Sehingga ada kisah tersendiri di dalam novelnya,”dalih Faisal Oddang.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar

Editor : Mas Garendi 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.