READING

Cerita Hatta, Soeharto dan Lika Liku Supersemar

Cerita Hatta, Soeharto dan Lika Liku Supersemar

MOHAMMAD Hatta gembira dengan perubahan yang terjadi paska peristiwa G 30 S PKI. Tesisnya tentang sistem yang dibangun Soekarno hanya akan bertahan selama Bung Besar masih ada dan kuat, menemui kenyataan. Sistem itu terbukti rontok. Kepercayaan rakyat (kepada Bung Karno) buyar oleh Gestapu yang berdarah darah.

Rakyat yang dulu digerakkan cukup dengan telunjuk jari, tak lagi manut. Kerusuhan kerusuhan umum terjadi dimana mana. Ribuan pemuda Anshor membakar Markas Besar PKI di Kramat Raya. Diorganisir “Badan Koordinasi Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan 30 September”, rapat raksasa digelar di lapangan Banteng.

Bahkan aksi massa mahasiswa yang diback up militer, yakni khususnya Angkatan Darat, berani menantang Bung Karno. Mulai KAMI, KAPPI, KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), KAWI (Kesatuan Aksi Wanita Indonesia) sampai KAUI (Kesatuan Aksi Usahawan Indonesia).  

Sistem politik Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) Bung Karno dianggap gagal dan harus segera dipungkasi. Dalam tempo sesingkat singkatnya, PKI yang dituding sebagai biang keladi, harus bubar.  

Begitu situasi berangsur angsur membaik, Hatta langsung berkirim surat kepada Mayor Jendral Soeharto, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). “Salut kepada saudara dalam tindakan saudara yang tegas untuk mengamankan negara dari ancaman yang maha hebat, ancaman nekolim yang merah yang PKI disini pionnya, “tulis Moh Hatta.

Deliar Noer dalam “Mohammad Hatta Biografi Politik” menyebut surat itu ditulis Hatta  pada 12 Oktober 1965, yakni 12 hari paska penculikan disertai pembunuhan perwira tinggi angkatan darat.

Meski secara de facto masih menjadi rujukan, secara de jure Hatta tidak lagi berada di dalam lingkaran kekuasaan. “Cek cok” politik membuatnya melepas jabatan Wakil Presiden. Sikap kerasnya memaksa Dwi Tunggal (Soekarno-Hatta) tanggal di tengah jalan.

Dalam surat yang sama, Hatta menyatakan sokongan moralnya kepada Soeharto. Langkah yang ditempuh lelaki asal Kemusuk, Godean Yogyakarta yang ketika kecil pernah tatu kebacok sabit di kaki, dan tanpa sengaja menelan uang logam itu, dipujinya.       

Langkah perwira tinggi menengah yang pernah dididik KNIL itu dianggapnya tepat. “Saya puji tindakan saudara yang tegas untuk menggulung gerakan dajal itu sampai sehabis habisnya, “kata Hatta.

Hatta percaya, PKI akan melanjutkan pembunuhan pembunuhan lain jika Gestapu berhasil. Dalam suratnya kepada  A.C Groeneveldt, Harleem (18 Januari 1966),  Hatta menyebut malam pertama dan malam kedua adalah pembunuhan Jendral dan fungsionaris militer. Pada malam ketiga giliran pemimpin agama dan politik serta banyak menteri yang akan dihabisi. Bahkan dirinya, kata dia termasuk yang menjadi giliran berikutnya.   

“Akan dibunuh di Jakarta para pemimpin agama dan politik serta banyak menteri. Kemudian menyusul lanjutan pembunuhan massa di seluruh Indonesia. Ribuan lubang di seluruh Indonesia telah digali orang orang PKI. Jakarta akan merupakan pertanda. Bila kup (1 Oktober) itu berhasil, yang lain lain akan menyusul dalam seri penggorokan berdarah manusia”.  

Paling sedikit tiga juta manusia, menurut perkiraan Hatta akan dilenyapkan orang orang PKI. Menurutnya itulah metode komunis, yakni menebar ketakutan pada rakyat sehingga mudah dikuasai. Dengan keberhasilan Mayjen Soeharto membalikkan suasana, Hatta mendorong anak ulu ulu (jaga tirta) atau penjaga air  di kampung Kemusuk itu untuk terus maju.

“Jalan terus, rakyat yang banyak berdiri dibelakang Saudara, “katanya. Dan Soeharto memang tidak berhenti. Sebagai ahli strategi yang terdidik dalam suasana perang, dia gemar memainkan langkah politik setahap demi setahap. Soeharto dikenal sebagai tentara yang menghindari resiko yang sia sia. Tidak pernah menyergap lawan dari depan.

Dia lebih suka melumpuhkan musuh dengan mengisolasi fisik dan psikologis. Disisi lain dalam bergerak melakukan pemulihan keadaan, Soeharto tetap menempatkan diri sebagai pelaksana yang setia pada penguasa tertinggi di negaranya, yakni Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata sekaligus Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Dalam “Anak Desa, Biografi Presiden Soeharto”, O.G Roeder menulis Soeharto dapat menolak godaan untuk merebut kekuasaan dengan cara kekerasan pada minggu minggu pertama bulan Oktober (1965). Dia tahu rakyat telah berani melawan Bung Karno. Sejumlah kekuatan radikal sudah terang terangan meragukan kepemimpinan Presiden Soekarno.

Dirinya dengan senang hati menyambut bantuan dari massa, yakni khususnya pemuda untuk menghancurkan kekuatan komunis (PKI). Namun disisi lain sengaja tidak tampil ke muka sebagai pemimpin rakyat. Bagi Soeharto hal itu bertentangan dengan watak tentara. Sifat keras kepala Bung Karno yang membuat keadaan semakin meruncing, menurut Soeharto harus dihadapi dengan tindakan lebih tegas, namun tetap konstitusional.

Jika tidak Angkatan Bersenjata sangat mungkin akan turun tangan dalam rangka ikut berebut kekuasaan. Jika itu terjadi maka perang saudara tidak akan terelakkan. Pertemuan darurat empat petinggi militer pun digelar. Jendral Soeharto, Mayor Jendral Basuki Rachmat, Brigadir Jendral M Yusuf, dan Brigadir Jendral A Machmud.

Usai pertemuan, pada pukul 2 siang, kecuali Soeharto karena alasan sakit, ketiga perwira tinggi militer itu menemui Presiden Soekarno di Bogor.  Di depan Bung Karno, ketiga petinggi militer menyatakan telah dikuasakan Soeharto selaku Menteri/Panglima Angkatan Darat dan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban.  

Ketiganya juga menyampaikan pesan dari Soeharto, siap memulihkan keamanan dan ketertiban nasional jika presiden percaya dan memberi mandat perintah. Musyawarah berlangsung hingga pukul 19.30 Wib. Di depan Wakil Perdana Menteri Soebandrio, Dr Leimena dan Chairul Saleh, Bung Karno akhirnya membubuhkan tanda tangan pada selembar “Surat Perintah” atau “Perintah Pemindahan Kekuasaan Eksekutif kepada Jendral Soeharto”.

Karena berlangsung pada 11 Maret 1966, kelak surat itu lebih sering diucapkan dengan sebutan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret). Meski di dalam Supersemar  tertera kata kata Soekarno tetap pada kekuasaanya, namun pada hari berikutnya kekuasan Bung Karno secara de facto telah berakhir. Secara de facto Soeharto berhasil melakukan perebutan kekuasaan.

Dengan mengatasnamakan Presiden, tanggal 12 Maret 1966, Jendral Soeharto menerbitkan sekaligus menandatangani  Keputusan Presiden No 1/3/1966 yang isinya tentang pembubaran PKI. Pada hari yang sama, dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie,  Angkatan Bersenjata melakukan pameran kekuatan (show of force), yang itu mendapat sambutan meriah dari kesatuan aksi dan masyarakat Jakarta.

Pada hari berikutnya Soeharto melakukan perombakan kabinet. Melihat itu Bung Karno sempat melawan dengan menerbitkan Pengumuman No 1 tertanggal 16 Maret 1966. Intinya seluruh rakyat Indonesia diwajibkan untuk melaksanakan ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Soekarno juga memperingatkan kepada mereka untuk tidak memaksakan kehendak kepada presiden, termasuk menteri hanya bisa ditunjuk presiden sendiri.  Oleh Jendral Soeharto peringatan Bung Karno dijawab dengan menjebloskan 15 orang menteri Soekarno ke dalam penjara. Ke 15 menteri itu termasuk diantaranya Waperdam I  Dr Soebandrio, Dr Chairul Saleh dan Oey Tjoe Tat.  Keputusan penahanan itu diumumkan Jendral Soeharto 18 Maret 1966 dan lagi lagi dengan mengatasnamakan Presiden.

Pada saat bersamaan Jendral Soeharto juga menunjuk sekaligus mengangkat menteri baru untuk menggantikan menteri yang ditahan. Pada babak berikutnya penangkapan, penahanan serta pembantaian para simpatisan dan kader PKI terjadi dimana mana. Tidak hanya ditanam dalam kuburan massal. Banyak jasad orang orang komunis yang terapung di sungai dan terkubur didasar goa.  

Sebuah versi menyebut jumlah yang terbunuh mencapai 2 juta jiwa.  Kekhawatiran Hatta akan seri penggorokan manusia ternyata justru menimpa orang orang PKI. Seperti halnya Supersemar, tragedi G 30 S PKI hingga kini masih terselimuti kabut misteri. (Mas Garendi)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.