READING

Cerita Punk, Kapitalisme dan Satpol PP

Cerita Punk, Kapitalisme dan Satpol PP

BOCAH itu mengaku bernama Febri. Entah itu nama panggilan, nama panggung, nama  jalanan atau nama alias, dia menegaskan hanya itulah satu satunya nama pemberian orang tuanya.

Perawakannya jangkung, kurus, semi sangkuk. Bila berjalan punggungnya membentuk gestur lengkungan udang. Menilik usianya, Febri harusnya masih sekolah. Setidaknya SMP kelas tiga,  atau kelas satu SMA.

Idealnya masih rutin bertatap muka dengan guru di kelas, duduk manis, menerima asupan pelajaran eksak, ilmu sosial dan bahasa.

Namun tidak demikian alur hidupnya. Setelah orang tuanya berpisah, (begitu pengakuannya), Febri yang juga mengaku anak tunggal, memilih menempuh jalan sebagai Punk.

Persis seperti penggalan lirik lagu “Bongkar” (Iwan Fals). “Di jalanan kami sandarkan cita cita. Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya”. Aspal  diperempatan kota kota, menurut Febri lebih nyaman daripada terkurung di dalam rumah.

“Saya asli Jombang. Pergi dari rumah dan sampai di Blitar, “tuturnya dengan logat kental khas masyarakat zona arekan.

Febri mengenakan kaos hitam kumal, dipadu celana jeans ketat membungkus sepasang kaki kurus dengan ujung terbenam ke dalam sepatu booth legam.

Seperti punker lain, dia juga memakai giwang hitam di kuping dan satu anting di hidung. Giwang sebesar koin yang ditanam di ujung telinga itu membuat daging tipis kedua kupingnya tampak melar.

Sepintas mirip dengan telinga para perempuan suku Dayak pedalaman Pulau Borneo.

“Tidak sakit?”. Pertanyaan klise itu hanya dijawabnya dengan nyengir. Mungkin pertanyaan sama yang tidak terhitung lagi jumlahnya. Pada leher dan pergelangan tangannya tidak terhias spike atau kalung ban anjing model duri.

Namun sebagaimana ciri terkuat dari seorang punker, rambut Febri konsisten jabrik, rancung bermohawk.

Dalam novel The Punk karya Gideon Sams, Febri adalah Adolph Sphitz. Dan Adolph adalah Febri yang tinggal di London, Inggris. Adolph  juga anak tunggal, yang  menolak cita cita orang tua, yang berharap besar dirinya bisa menjadi seorang polisi.

Dia memutuskan hengkang dari rumah, membangun jalan hidupnya sendiri.

Adolph memang tidak berasal dari keluarga broken home seperti halnya Febri. Kedua orang tuanya cukup harmonis.

Hanya saja, mendekam di rumah bersama ibu yang pasif, dan ayah seorang polisi pembenci pemuda bertingkah berandal, dan lebih setia pada kerja daripada kehidupan rumah tangganya, bagi Adolph adalah broken home sughro.

“…ayah, aku tidak akan tinggal disini lebih lama. Aku sudah mendapat pekerjaan. Aku tidak akan bergantung dan menyembah ayah lagi” (hal 30).

Minggat dari rumah, lalu memutuskan hidup berdikari, adalah manifestasi mantra punk  Do it Your Self (DIY). Agar hidup tetap berjalan, Adolph bekerja disebuah tempat pemotongan ikan. Dia dibayar 24 poundsterling seminggu.

Begitu juga dengan Febri, punker asal Jombang yang menghidupi diri dengan menjual skill, yakni menyablon kaos, stiker dan semacamnya. Selain itu juga mendulang receh dari mengamen di perempatan jalan.

Untuk satu itu (mengamen), kata Febri hanya sambilan sekaligus bentuk ekspresi.

Pada alur lamaran di bursa kerja, Gideon Sams (penulis The Punk) berkirim pesan bagaimana seorang punker tidak bisa ditindas maupun diperdaya dengan mudah. Setiap ancaman kesewenang wenangan akan selalu dijawab dengan perlawanan.

Adolph menolak mentah mentah saat ditawari pekerjaan sebagai pelabel kaleng dengan upah yang menurutnya tidak layak.

Bukan hanya merugikan. Upah murah merupakan penghisapan sesama manusia sekaligus penghinaan kepada nilai  kemanusiaan.

“Anda bisa melabeli kaleng kaleng buncis matang di Tesco’s,“kata petugas  bursa kerja.  

“Kau pasti bercanda. Berapa banyak uang yang bisa kudapatkan?”.

“19 pound seminggu”. 

“Tidak. Itu tidak cukup bagus. Aku bahkan tidak bisa mendapatkan sepasang jeans yang bagus dengan uang itu, “tolak Adolph.

Karakter Adolph bersama gerombolannya, yakni  SID Sick, Bill Migraine, Johnny Vomit, dan Vince Violance dideskripsikan kasar, aneh, dan menyeramkan. Namun memang begitulah punker. Tidak hanya dari dandanan, tapi juga gaya perkataan.

Kejujuran dan keterusterangan adalah segalanya. Bahasa lugas seorang punker seringkali ditangkap dan diiriskan dengan adab dan rendahnya pendidikan. Semacam kejujuran hitam. Padahal tidak seluruhnya demikian.

“Kenapa ibu tidak bisa diam. Lebih baik aku mendengar cerita pilu ibu dengan bertanya kepada mereka (hal 20), “tegas Adolph melawan tekanan ibunya yang memintanya bekerja, yang itu tidak sesuai dengan keinginannya.

Tidak heran drummer band punk rock Superman Is Dead (SID) I Gede Ari Astina a.k.a Jerinx, dengan enteng  menulis “fuck whore” di akun media sosialnya.

Ucapan yang oleh sebagian warganet dianggap kasar itu dilontarkan saat, mempertanyakan integritas biduan dangdut Via Vallen yang menyanyikan lagu Sunset Di Tanah Anarki tanpa ijin.

Baca Juga: Jerinx dan Pendukung Via Vallen Perang

Itulah sikap punker yang lugas, berterus terang dan tidak menyukai “bungkus”.

Tidak hanya berpogo liar di atas gigs. Tingkah liar punker di jalanan juga kerap memantik reaksi kebencian sosial, yakni terutama mereka yang tidak memahami apa itu punk.

Bagi Adolph dan geng punknya, menghina dan menyoraki orang orang kaya dan terkenal di jalanan menjadi hiburan tersendiri.

Menghina klas sosial mapan adalah hiburan ideologis, adiktif, sekaligus laten. Bagi punker, orang orang banyak lagak dan plastik (palsu), memang patut dicaci. Layak dilempari kata kata sampah. Sikapnya sama seperti saat meremehkan bintang rock The Who dan Led Zeppelin.

Personil band besar itu bicara tentang melawan dan menentang sistem kapitalisme, namun selalu berakhir dengan hidup kaya serta memberikan jalan dibelakang panggung Ratu (Ratu Inggris) dan Elizabeth Taylor.

The Punk merupakan novel punk pertama yang diluncurkan saat gelombang punk mencapai puncak puncaknya (tahun 1970an). The Punk menjadi pondasi pembuatan film The Punk and The Princess (1993) yang distradarai Mike Sarne dengan bintang Charlie Creed Miles dan Jess Conrad.

Dalam buku Punk Rock: So What? The Cultural Legacy of Punk, Miriam Rivett menyebut The Punk sebagai the first Punk Novel.

Punk adalah subkultur yang lahir di London, Inggris. Selain genre musik, Punk yang lahir awal tahun 1970an juga ideologi hidup yang melingkupi aspek sosial dan politik. Gerakan punk diawali anak anak kelas pekerja. Dalam teori Marxian disebut anak anak kelas buruh, kelas proletar.

Pada tahun 1980, gelombang punk merambah Amerika yang tengah mengalami persoalan ekonomi dan keuangan. Resesi yang memicu tingginya pengangguran dan kriminalitas di negeri Paman Sam.

Melalui lagu dan musik serta lirik yang sederhana, kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak, kaum Punk menyindir amoralitas kekuasaan dengan caranya sendiri.

Punk juga bentuk kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Karenannya musisi punk tidak memainkan nada nada rock tekhnik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati.

Bagi kaum punk, lagu Anarchy in The UK karya band Sex Pistol adalah dewa. Begitu juga dengan lagu lagu The Clash dan The Damned.

Secara politik, punk lebih beririsan dengan ideologi anarkisme. Ideologi yang menghendaki terwujudnya masyarakat tanpa negara. Bagi kaum punk anarkis, negara adalah keditaktoran legal yang harus diakhiri.

Di Indonesia, ideologi punk “berimigrasi” ke kota kota besar. Sebut saja Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Malang.

Sebagai bentuk perlawanan kepada sistem kapitalisme, mereka mendirikan usaha rekaman independen, membuat label rekaman sendiri, sekaligus mendistribusikannya ke pasaran secara terbatas.

Mereka juga memproduksi kaos, aksesori, buku, majalah, poster, jasa tindik dan tatoo. Toko kecil yang lazim disebut distro itu merupakan perlawanan pada prilaku konsumtif anak muda pemuja Levis, Adidas, Nike, Calvin Klein dan sejumlah merek luar negeri lainnya.

Komoditas “kiri” memang menjual dan cukup menganggu sistem dagang kapitalisme. Meski juga berakhir ironis, yakni juga melahirkan kapitalisme dengan wajah baru.  Begitulah punk mapan.

Sementara Febri dan Adolph hanyalah punker kecil. Komunitas punk yang tidak cukup modal untuk mendirikan distro. Kemandirian hidupnya ditopang dari skill menyablon kaos yang tidak tentu pesanan. Juga berasal dari mengais receh di perempatan lampu merah.

Perlawanan terhadap merek besar bukan semata perkara ideologi. Namun juga karena faktor ekonomi yang tidak mumpuni. Punker kecil tidak cukup duit untuk membeli.

Dan lawannya  bukan sistem kapitalisme yang menindas. Melainkan pasukan satuan polisi pamong praja yang sewaktu waktu menggelar razia ketertiban umum.

Siang itu Febri bersama sejumlah punker lain asal Blitar dan Kediri terjaring razia. Saat mengamen di perempatan jalan Kota Blitar, mereka ditangkap dan digelandang ke mapolres Blitar Kota.

Tidak hanya dipaksa mandi. Di ruang reserse dan kriminal, mahkota mohawk  mereka dibabat habis. Anting mereka juga dilucuti.

Satu satunya perlawanan yang bisa dilakukan para punker kecil itu hanya bernegosiasi, meminta untuk tidak dicukur plontos.

“Saya mau dicukur, asal tidak plontos, “pinta Febri yang langsung diiyakan petugas. Usai bercukur rapi, para punker itu kemudian didata, lalu  kemudian dilepas lagi ke jalanan.

Pemandangan ini tidak hanya terjadi di Blitar. Tapi juga di Kediri dan daerah sekitarnya. Bagaimana punker punker kecil dianggap merusaki pemandangan kota. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

  1. […] Cerita Punk, Kapitalisme dan Satpol PP […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.