READING

Contoh Film Buruk Menurut Penikmat Film Amatir Sep...

Contoh Film Buruk Menurut Penikmat Film Amatir Seperti Saya

Saya suka sekali menonton film. Bahkan saya masih ingat film pertama yang saya tonton di bioskop, yaitu Aliens (1986). Saat itu saya masih kelas 5 SD. Sehabis mengerjakan PR sekolah, Almarhum Bapak mengajak saya menonton film karya James Cameron tersebut di Bioskop Jaya, gedung bioskop terbesar di Kota Kediri kala itu. Pengalaman sinematik tak terlupakan itu, menjadikan saya ketagihan menonton film hingga kini. Genre apapun saya tonton dan saking cintanya, saya sempat ingin kuliah film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), namun urung karena terbentur biaya. Dari kegemaran saya menonton film, akhirnya saya tahu mana film bagus dan mana yang buruk. Di artikel ini coba saya bagikan salah satu film yang menurut saya buruk secara kualitas. Tentunya sebatas pengamatan saya sebagai penikmat film amatir loh ya.

Suatu ketika saya pernah diajak oleh seorang teman, sebut saja Wage, untuk mencicipi kuliner buatannya yang akan ia jadikan menu andalan di gerobak jajanan miliknya. Begitu sampai di rumah Wage, sudah banyak orang di ruang tamunya. Ada kerabat, juga teman-teman dekat Wage. Tak lama kemudian, sang tuan rumah memasuki ruang tamu dengan membawa nampan besar berisi ayam pok-pok yang masih hangat. Kami semua diminta untuk mencicipi jajanan itu. “Gimana rasanya, bapak-bapak, ibu-ibu?” tanya Wage antusias. Jawaban kami beragam, tapi semuanya bernada pujian. Ada yang komentar ayamnya kriuk-kriuk dan ada yang bilang gurih.  Tak satu pun yang mencela. Menurut saya sendiri, sebenarnya rasa ayam pok-pok itu kurang enak. Kulitnya terlalu tebal dan keras ketika dingin. Namun karena sungkan dengan tuan rumah dan merasa tidak mempunyai pengikut yang setuju dengan pendapat saya, akhirnya saya diam. Gerobak jajanan milik Wage benar-benar buka sebulan kemudian. Di bulan ketiga, gerobak itu tutup karena sepi. Saya pun merasa bersalah karena dulu diam saja.   

Memang serba salah kalau harus menilai produk atau karya seseorang yang terlalu dekat dengan kita. Dekat disini karena dia bagian dari keluarga, teman, atau orang yang kita kenal baik. Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa apabila karya tersebut benar-benar bagus, karena kita tak perlu berpura-pura untuk memujinya. Terutama pujian sering saya tujukan ke karya anak-anak muda. Film-film mereka walaupun belum sempurna, namun kreatif, segar, dan dinamis. Mungkin karena mereka masih “setengah isi” ya, Jadi masih mau menerima masukan dan belajar hal baru untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Beda cerita kalau film itu secara kualitas buruk. Terlebih kalau film itu dibuat oleh seseorang yang telah dianggap senior oleh banyak orang. Kalau kita bilang bagus padahal sebenarnya buruk, pasti nanti ada perasaan bersalah seperti pengalaman saya dengan ayam pok-pok tadi. Tapi kalau kita jujur bilang jelek, nanti dibilang iri dan tidak menghormatinya. Kita pasti juga akan dirundung oleh para penggemar garis kerasnya. Pusing kan?  Karena itulah disini saya tak akan membahas film buruk yang dibikin oleh orang-orang di sekitar saya. Cari aman nih ceritanya, hehehe.

Membahas tentang film buruk, tentulah tak lengkap rasanya apabila tidak menyinggung film fenomenal berjudul The Room (2003) karya Tommy Wiseau. Sudahkah menonton filmnya? Jujur, saya sendiri pun belum pernah menontonnya. Tapi saya pernah menonton film berjudul The Disaster Artist (2017), yang dibuat berdasarkan kisah nyata tentang Tommy Wiseau saat membuat film The Room.  Dari situ akhirnya saya tahu mengapa film The Room menjadi acuan bagi penikmat film saat ingin mencari referensi tentang film buruk. Saya lantas makin penasaran dengan sosok Tommy Wiseau. Siapa dia? Seberapa buruk film buatannya hingga dinobatkan sebagai salah satu film terburuk yang pernah dibuat dan menjadikannya film dengan status cult bagi banyak penikmat film?

A Trip To The Moon (1902) salah satu film cult klasik karya Georges Melies yang menunjukkan kecintaannya pada dunia film. Foto : Istimewa.

Film Cult sendiri biasanya mempunyai  jalan cerita atau plot yang tak biasa, unik, bahkan kadang absurd. Status cult tak ada hubungannya dengan kualitas baik buruknya film, namun lebih ke kesan tak terlupakan saat melihat film tersebut, hingga akan mendapat tempat istimewa di hati para penggemarnya. Saya lalu mencari jejak digital milik Tommy Wiseau di kanal Youtube. Saya pun menemukan beberapa cuplikan adegan “absurd” dari film The Room. Saya makin yakin, semua orang pasti sepakat dengan keburukan kualitas film The Room. Uniknya, sang pembuatnya yaitu Tommy Wiseau justru menganggap film buatannya adalah mahakarya di dunia perfilman. Disitu ia menulis, menyutradarai, memproduseri, bahkan menjadi aktor utamanya. Kurang narsis apa coba (!)

Cerita filmnya sendiri sebenarnya sederhana, bahkan klise. Bercerita tentang kehidupan seorang bankir sukses bernama Johnny yang diperankan oleh Tommy Wiseau, yang memiliki tunangan bernama Lisa (Juilette Danielle) yang ternyata tidak mencintai Johnny dan memilih untuk selingkuh dengan Mark (Greg Sestero), Sahabat Johnny, karena alasan sepele, yaitu bosan. Johnny yang di awal digambarkan sebagai pria optimis penuh energi, dengan mudahnya berubah menjadi rapuh dan memutuskan mengakhiri hidupnya karena patah hati.  That’s it. Mayoritas adegan menceritakan hubungan cinta segitiga mereka secara berulang-ulang dan pacing-nya lambat sekedar untuk  memenuhi standar durasi film, yaitu 99 menit. Alur cerita utamanya melompat-lompat, sedangkan sub plotnya dibiarkan begitu saja menggantung tak jelas. Beberapa karakter datang dan pergi begitu saja, tanpa relasi yang kuat dengan cerita.

Belum lagi kalau kita membahas tentang akting dan dialog para pemainnya yang bikin geli. Padahal niatan awal film ini adalah bergenre drama romantis, tapi jatuhnya justru komedi bagi orang yang menontonnya. Akting Tommy Wiseau sebagai pemeran utama  terlihat over acting saat memerankan adegan emosional, namun di adegan lainnya justru terlihat asal-asalan. Dialog antar pemainnya juga aneh bin ajaib. Salah satu dialog yang menggelikan adalah “I can’t tell you that! That’s confidential! Anyway, how is your sex life?”  Dan saya pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Ada pemeo menarik di dunia film, yaitu so bad, it’s good. Saking jeleknya sebuah film, malah terlihat bagus, karena toh akhirnya tujuan dari dibuatnya sebuah film tercapai, yaitu untuk menghibur penontonnya. Saya jadi curiga nih, jangan-jangan si Tommy ini sebenarnya jenius. Dia menghibur penonton dengan cara yang unik, yaitu menunjukkan keburukan kualitas filmnya.  Tapi kemungkinan besar dugaan saya salah, hahaha. Yang benar, ya si Tommy ini murni narsis dan tak bisa membuat film. Bahkan level kenarsisannya mungkin susah untuk disaingi. Dia rela menyewa Billboard Selama 5 Tahun khusus untuk promo The Room, agar filmnya dikenal publik. 5 tahun loh gaes. Jadi ingat mbaknya yang dulu ngaku masuk nominasi Oscar, ehem.

Lepas dari segala keburukannya, sebenarnya ada yang positif juga dari Tommy Wiseau, si filmmaker halu ini. Walaupun kualitasnya buruk, dengan The Room, ia benar-benar menunjukkan kecintaannya pada dunia film dengan totalitas dan kenekatannya. Penikmat film sejati pasti juga bisa merasakan cinta itu. Ide cerita sebuah film memang takkan lahir dari ruang hampa. Selain wujud dari kreativitas, Ia juga tercipta dari referensi, opini, dan pengalaman pribadi masing-masing pembuat filmnya. Namun sesama pecinta film pasti bisa merasakan kok, mana film yang digarap penuh cinta dan mana yang dibuat setengah hati.

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.