READING

Cornella: Tidak Ada Sejarah PKI Dalam Keluarga Say...

Cornella: Tidak Ada Sejarah PKI Dalam Keluarga Saya

TULUNGAGUNG – Cornella, calon legislator Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Tulungagung menjadi korban perisakan. Belasan alat peraga kampanye yang bergambar dirinya dicoreti tulisan PKI oleh orang tak dikenal.

Sebagai orang yang baru menapaki dunia politik di partai yang juga berusia muda, Cornella sempat merasa ketakutan. Dia merasa keikutsertaannya di pemilu 2019 mengusik orang lain hingga membuat mereka marah dan menyerangnya. Cornella mendapat tugas maju dari daerah pemilihan satu yang meliputi Kecamatan Tulungagung, Kecamatan Kedungwaru, dan Kecamatan Ngantru.

Perempuan 23 tahun ini juga bersumpah tak memiliki keterkaitan apapun dengan partai terlarang yang dituliskan di bannernya. Demikian pula keluarganya.

BACA JUGA: APK Caleg PSI Tulungagung Dicoreti PKI

Kepada Jatimplus.ID, Cornella menumpahkan kekecewaannya pada perilaku politik di Indonesia yang masih menggunakan cara-cara keji. Simak wawancaranya berikut ini:

Bagaimana perusakan itu terjadi?

Perusakan pertama terjadi akhir tahun lalu. Tim saya mendapati beberapa banner ditulisi PKI menggunakan cat semprot warna hitam. Setelah ditelusuri, ternyata itu bukan satu-satunya. Ada tujuh banner yang dirusak saat itu.

Apa reaksi Anda?

Terus terang saya takut dan merasa diserang. Apalagi tuduhannya sangat sensitif soal komunis. Saya sempat panik.

Anda melapor ke partai?

Hari itu juga saya melaporkan kejadian itu ke pengurus PSI Tulungagung. Kemudian saya disarankan melapor juga ke Bawaslu.

Apa tindak lanjut Bawaslu?

Setelah diminta membuat kronologis, saya diminta mengisi formulir pengaduan yang salah satunya wajib mencantumkan identitas saksi. Di sinilah laporan saya berhenti.

Kenapa?

Mana mungkin saya memiliki saksi yang melihat sendiri peristiwa pencoretan itu. Sementara waktu kejadiannya rata-rata malam hari. Kecuali ada CCTV di kawasan tempat saya memasang banner. Kalau tahu siapa pelakunya sudah saya tangkap sendiri bersama tim.

Apa langkah Anda setelah mengetahui sikap Bawaslu?

Saya tak ambil pusing lagi dengan perusakan itu. Saya minta teman-teman lapangan mencopoti dan menggantinya dengan yang baru. Selesai.

BACA JUGA: Diduga Sebarkan Komunisme Toko Buku Digerebek Tentara

Aksi teror itu berhenti?

Ternyata tidak. Dalam serangan kedua bulan Januari ini sebanyak 12 banner saya juga dicoreti, sama persis dengan yang lalu. Sehingga total jumlah banner yang ditulisi PKI sebanyak 19 buah. Rugi besar saya.

Anda takut?

Kali ini tidak. Saya merasa lebih percaya diri menghadapi serangan teror kedua ini. Saya bahkan tak lagi pusing memikirkan banner. Fokus saya bergerak ke masyarakat dan melakukan pertemuan tatap muka.

Apa dampak tulisan PKI itu pada pemilih Anda?

Awalnya saya sempat khawatir akan mempengaruhi elektabilitas. Namun ternyata malah sebaliknya. Banyak teman-teman yang bersimpati dan justru menjadi relawan saya untuk meluruskan issue itu di masyarakat.

Anda sendiri merasa memiliki keterkaitan dengan PKI?

Justru itu yang membuat saya heran. Saya ini kan generasi baru. Orang tua saya juga kelahiran tahun 1970. Jauh dari peristiwa 1965. Mereka menggeluti profesi wiraswasta usaha konveksi sampai sekarang. Tidak ada sejarah PKI dalam keluarga saya.

Anda sudah melaporkan perusakan kedua ini ke Bawaslu lagi?

Saya kira tidak perlu. Toh tidak akan ada tindak lanjut. Lebih baik saya fokus pada kampanye saja. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.