READING

(Cukai Rokok Naik) Harga Rokok Naik, Masihkah Beli...

(Cukai Rokok Naik) Harga Rokok Naik, Masihkah Beli?

Harga rokok mulai naik di pasaran sejak akhir tahun 2019 lalu. Para perokok memberikan reaksi beragam atas kenaikan ini. Banyak yang cuek, namun ada sedikit yang beralih ke rokok elektrik.

KEDIRI – Pemerintah resmi menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) alias cukai rokok hingga 23 persen pada tahun ini. Harga Jual Eceran (HJE) bisa naik hingga 35 persen.

Di lapangan, kenaikan harga rokok justru berlangsung lebih cepat meski tak setinggi yang dibayangkan. Sejumlah pengecer dan pemilik toko kelontong mengaku mendapat banderol harga baru dari sales rokok sejak November 2019. “Naiknya rata-rata Rp 3.000 per pack,” kata pemilik Toko Lahas di Jalan Slamet Riyadi Kediri kepada Jatimplus.ID.

Kenaikan yang lebih cepat itu sempat ditanyakan konsumen kepada pemilik toko. Namun karena tak berwenang menentukan harga, mereka hanya menjawab hal itu atas ketentuan sales.

Meski demikian, jumlah pembeli rokok di Toko Lahas juga tak berkurang. Entah kenapa para perokok seperti tak terganggu dengan kenaikan harga yang tak bisa disebut kecil ini.

Fadli Rahmawan adalah salah satunya. Karyawan perusahaan swasta yang tinggal di Tulungagung ini mengaku tak keberatan atas kenaikan harga rokok kesukaannya. “Saya tak melihat prosentase naiknya, tetapi nominalnya saja, wong cuma naik tiga ribu,” ujarnya.

Fadli bahkan membandingkan fenomena kenaikan harga rokok tahun ini dengan beberapa tahun silam. Di mana kenaikan harga rokok pernah tembus di atas Rp 10.000 per pack. Hal itu sempat membuat para perokok berhenti meski hanya sesaat. Selanjutnya membeli lagi karena sudah menjadi kebiasaan.

Untuk mengukur respon masyarakat atas kenaikan harga rokok ini, Jatimplus.ID membuat survei kepada perokok dengan metode random sampling. Hasilnya, 70 persen responden menyatakan tak terpengaruh atas kenaikan harga rokok. Sebanyak 20 persen memikirkan beralih ke merek lain yang lebih murah atau ke rokok elektrik. Sedangkan 10 persen sisanya memutuskan berhenti.

Sebagian responden menambahkan alasan atas setiap pilihan yang diambil. Bagi yang tetap membeli rokok, mereka berdalih kenaikan tersebut tak terlalu signifikan dan masih bisa dijangkau.

Bagi yang memutuskan beralih ke merek lain atau rokok elektrik lebih karena ingin menghemat keuangan. Menurut perhitungan mereka, rokok elektrik jatuhnya lebih ekonomis dibanding rokok biasa meski harga peralatannya mahal.

Sedangkan yang memilih berhenti merokok mencantumkan alasan kesehatan. Kenaikan harga rokok ini dijadikan momentum untuk berhenti merokok selamanya. Pilihan ini diambil oleh responden yang memang sudah memiliki niat untuk berhenti merokok.

Harga Rokok Pernah Naik Tajam

Kenaikan harga rokok ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Masyarakat perokok Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi naik turunnya harga rokok. Kenaikan paling drastis terjadi pada tahun 1998, di mana Badan Pusat Statistik menyebut angka inflasi kala itu mencapai 77,63 persen.

Tingginya lonjakan harga barang yang diikuti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sebesar Rp 16.000 membuat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi lebih dari 13 persen pada 1998. Inilah petaka terburuk yang dialami perekonomian Indonesia.

Uniknya, dalam situasi serba sulit tersebut, pengunjung warung kopi justru tak turun. Pelaku ekonomi kecil menengah justru bertahan dengan segala upaya yang ada. Sementara pelaku usaha menengah atas banyak yang kolaps. “Masa itu saya sempat berhenti membeli rokok karena naiknya gak ketulungan. Tapi ya, beli lagi entah bagaimana caranya,” terang Fadli.

Bendahara Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Adi Harnadi mengatakan idealnya harga rokok tidak hanya bisa ditentukan dari besaran nilai rupiah, tetapi dari kemampuan dan daya beli masyarakat.

“Misalnya di Singapura kenapa mahal, daya belinya berapa? Di Indonesia daya belinya bagaimana. Di Indonesia satu porsi nasi berapa, kalau harga rokok 5-6 kali porsi nasi, maka seimbang,” kata Adi seperti dilansir cnbcindonesia.com.

Di negara lain harga produk rokok, menurut Adi, adalah 1,5 kali harga seporsi nasi atau makanan pokok. Jika perbandingannya dengan harga rokok di luar negeri, hal itu sangat tidak adil. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.