READING

(Cukai Rokok Naik) Para Perokok “Insyaf” di Kampun...

(Cukai Rokok Naik) Para Perokok “Insyaf” di Kampung Dalem, Kota Kediri

Bagi perokok, selalu saja ada 1001 alasan untuk tetap merokok. Merokok seperti candu. Merokok bisa jadi seperti kekasih. Merokok, meski mereka tahu tak baik buat kesehatan, tetap saja merokok.

“Merokok atau tidak toh akhirnya mati juga. Jadi mending merokok, hidup dan bahagia,” kilah para perokok.

Merokok, meski harga rokok semakin tinggi karena tarif rokok meningkat, hanya sejenak bergejolak, selanjutnya tetap biasa saja. Bahkan mereka bangga menjadi penyumbang pendapatan negara terbesar. “Misal setelah kenaikan tarif cukai itu, misal harga rokok dari Rp 15.000/bungkus menjadi Rp 20.000/bungkus. Yang kita lihat bukan Rp 20.000, tapi kenaikannya, “Hanya” naik Rp 5.000,” kata salah satu responden yang diwawancara Jatimplus.id, 3/1/2020.

Kawasan bebas rokok di RW 4 Kelurahan Kampung Dalem yang justru diinisiasi oleh bapak-bapak perokok berat. Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

Di balik deretan alasan-alasan jenaka dan kadang sungguh petaka itu, ada sekelompok perokok berat yang justru “insyaf”, berbalik menjadi inisiator berdirinya sebuah kawasan bebas asap rokok. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Suyono.

Baca juga: Tembakau, Rokok Putih, dan Vape

Suyono adalah salah satu perokok berat yang menjadi inisiator lahirnya kawasan bebas asap rokok di RW IV, Kampung Dalem, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Ketika ditemui Jatimplus.id, Suyono dan rekan-rekannya sesama perokok mengaku sadar akan bahaya rokok khususnya bagi perokok pasif. Oleh sebab itu, ia dan rekan-rekannya bersama dengan para perangkat RW mencetuskan kawasan bebas asap rokok di kampungnya.

Beberapa foto dokumentasi kegiatan “Satgas Bebas Asap Rokok” yang terpasang di tembok dekat pos kamling warga. Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

Konsepnya, asap rokok tak boleh masuk rumah. Warga membuat asbak bersama-sama kemudian meletakkannya di pintu rumah masing-masing. Perokok yang akan memasuki rumah harus mematikan rokoknya di asbak tersebut sehingga ketika masuk rumah, tak ada aktivitas merokok.

Aktivitas merokok hanya diperbolehkan di tempat-tempat tertentu di antaranya salah satu Poskamling. Warga sudah sepakat menjalankan aturan itu sejak 31 Mei 2018 bertepatan dengan Hari Tembakau Sedunia. Selain itu juga bertepatan dengan berlakunya Perwali Kota Kediri.

Untuk mengawasinya, Kampung Dalem memiliki 20 orang Satgas yang akan menegur ketika ada warga yang melanggar aturan. Memang tak ada hukuman, namun teguran ini cukup membuat malu sehingga warga segan untuk melanggar kesepakatan yang sudah dibuat oleh warga sendiri.

Asbak yang dibuat secara kolektif oleh warga, diletakkan di depan pintu rumah. Rokok wajib dimatikan sebelum memasuki rumah. Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

Suyono menuturkan, pernah suatu ketika ada warga yang kena tegur Satgas karena merokok di dalam rumah. Rupanya, warga tersebut bukan warga setempat melainkan tamu. Teguran itu sudah cukup membuat tuan rumah sangat malu. Demikianlah aturan itu bekerja. Hanya saja, apakah kemudian Suyono berhenti merokok? Sampai saat berita ini diturunkan, Suyono masih perokok berat yang menghabiskan lebih dari 1 pak/hari. Jadi memang belum insyaf, masih “insyaf” dengan kesadarannya melindungi para perokok pasif. (Titik Kartitiani)

Kesepakatan bertanda tangan yang dibuat oleh warga untuk tidak merokok di dalam rumah. Foto: Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.