READING

(Cukai Rokok Naik) Tembakau, Rokok Putih, dan Vape...

(Cukai Rokok Naik) Tembakau, Rokok Putih, dan Vape: Kelindan Kenikmatan, Persaingan, dan Ancaman Kesehatan

Since the memory of the man” tulis Dr. L. Lewis mengutip keterangan seorang penulis bahwa di daerah Arfak di Papua Barat, tembakau telah tumbuh, dirokok, dan diperdagangkan kepada penduduk di daerah pantai. Sebagaimana ditulis oleh Amen Budiman dan Onghokham dalam buku Hikayat Kretek (2016), Papua tak dikenal sebagai asal muasal tembakau oleh orang Eropa. Asal muasal tembakau disepakati dari Amerika.

Dengan jenaka, Onghokham menulis bahwa andai orang Eropa mengenal tembakau untuk pertama kalinya dari Papua, maka orang akan mendeskripsikan Papua sebagai negeri di mana Tuhan telah memberikan karunia dan memberkahinya dengan daun penyembuh yang membahagiakan dan suci ini.

Dari kisah di atas tergambar bagaimana tembakau (kemudian menjadi kretek dan rokok) merupakan komoditas yang demikian dipuja sejak orang mengenal sejarah pemujaan. Tembakau pun dicatat oleh National Geographic sebagai salah satu tanaman yang ikut mengubah dunia (Flora Mirabilis: How Plant Shaped World Knowledge, Health, and Beauty- 2009). Sejak kapan Nusantara ini mengenal tembakau?

Baca juga: Kawasan Bebas Asap Rokok di Kota Kediri

Si Seksi Tembakau

Amen Budiman dan Onghokham mencatat berbagai teori dari berbagai sumber yang menarasikan asal muasal tembakau dikenal oleh masyarakat Nusantara (yang pada saat itu tentu belum menjadi Indonesia). Sejarah tertua di Arfak Barat yang lebih tua dari Rumphius (1627-1702), naturalis German yang tinggal di Ambon mencatat tembakau di buku masterpiece-nya, Herbarium Amboinense.

Pendapat yang lebih banyak sejalan adalah tulisan Raffles dalam The History of Java (1817) yang menuliskan bahwa Belanda sebagai bangsa yang telah berjasa memasukkan adat merokok di Pulau Jawa sekitar tahun 1601.

Catatan Raffles ini sejalan dengan naskah Jawa Babad in Sangkala yang menyatakan bahwa tembakau telah dimasukkan ke Pulau Jawa bersamaan dengan kemangkatan Panembahan Senapati (ayah Sultan Agung). Setelah kemangkatan ini, mulailah orang Jawa merokok. Candra sangkala Babad in Sangkala ini tahun 1523 (1601-1602M).

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud.

Setelah masuk ke Pulau Jawa, tak berapa lama asap tembakau ini menembus dinding keraton. Narasi bahwa Sultan Agung merokok dituturkan dengan indah oleh Dr. H. de Haen, utusan VOC yang berkunjung ke Mataram tahun 1622-1623. Rupanya Sang Sultan adalah perokok berat. Ia merokok dengan  pipa berlapis perak selama audiensi. Tembakau dan rokok kemudian melingkupi istana pada pemerintahan selanjutnya.

Suasana pabrik rokok di Sumatra. Foto : Koleksi Tropen Museum.

Dari istana, kebiasaan merokok pun merambah ke rakyat jelata pada akhir abad ke-13. J.W Winter, seorang penerjemah Belanda yang tinggal di Surakarta (1799-1806) menulis Beknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta 1824. Dalam catatan itu dijelaskan bahwa merokok telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Jawa. Prosentase jumlah uang untuk membeli rokok lebih besar dibandingkan jumlah uang untuk membeli kebutuhan hidup lainnya.

Seorang laki-laki yang tidak mempunyai istri bisa hidup dengan 12 duit sehari tanpa perlu memerhatikan makan daging dan ikan. Tiga duit untuk sirih dan tembakau, tiga duit untuk nasi, garam, tempe. Sisanya untuk membeli beras. Mereka merokok dengan tembakau yang dibungkus klobot.

Agaknya, anggaran rokok yang tinggi ini berlaku hingga 3 abad kemudian. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) pada tahun 2018 mencatat bahwa masyarakat miskin mengeluarkan 11% dari pendapatannya untuk membeli rokok. Angka tersebut merupakan jumlah terbesar kedua setelah anggaran untuk membeli beras.

Baca juga: Harga Rokok Naik 2020

Industri Kretek di Kediri

Pada dasawarsa keempat abad ke-20, daerah segitiga Blitar-Kediri-Tulungagung merupakan pusat industri kretek terbesar di Nusantara setelah Kudus. Kini, Kediri menjadi sentra terbesar kretek di Indonesia.

Industri kretek di Kediri baru lahir pada tahun 1911 berupa perusahaan kecil. Baru pada tahun 1926 berdiri perusahaan besar yang kemudian menjadi perusahaan menengah pada tahun 1930 ketika perusahaan besar ini omzetnya turun. Sedangkan di Blitar sebetulnya sudah ada perusahaan kretek yang berdiri pada tahun 1909. Sementara di Tulungangung pada tahun 1922.

Lahirnya industri kretek di karesidenan Kediri dan daerah-daerah lain di Jawa Timur disebabkan karena keterbatasan kapasitas produksi pabrik-pabrik kretek di Kudus. Pada awalnya, perusahaan kretek di Kediri dan sekitarnya tak menjadi ancaman bagi perusahaan kretek di Kudus meski perusahaan kretek di Kediri menjual kretek lebih murah. Kretek Kudus memilih bahan-bahan unggul dan sehingga produknya digemari.

Sampai pada tahun 1928-1929 ketika harga cengkih naik, perusahaan kretek di Kudus menurunkan kualitas. Akibatnya, pelanggan di Jawa Timur betul-betul terlepas dan memilih produk Jawa Timur yang menjadikan perusahaan kretek di Jawa Timur berkembang hingga bisa mengirim ke Madura, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Meski tahun 1933 perusahaan kretek di Kudus mulai bangkit lagi, namun perusahaan kretek di Jawa Timur yang sudah berkembang mampu menjadi pesaingnya.

Zaman mencatat persaingan itu hingga kretek pun mendapat saingan baru, rokok putih. Pada dasarnya pemerintah Hindia Belanda ingin melindungi perusahaan kretek. Selain banyak menyerap tenaga kerja juga menjadi menyumbang pajak yang tinggi bagi pemerintah.

Hanya saja masuknya rokok putih ini tak bisa dibendung. Awalnya, impor rokok putih dilakukan untuk menstabilkan persaingan antarperusahaan kretek namun justru mengancam perusahaan kretek. Tahun 1923, impor rokok putih mencapai  1 juta batang/tahun.

Tahun 1925, perusahaan patungan Inggris-Amerika mendirikan pabrik di Cirebon, kemudian tahun 1928 di Surabaya. Hingga tahun 1931, jumlah rokok yang dihasilkan mencapai 7 juta batang/tahun. Sementara, produksi kretek dan rokok lokal lainnya hanya 6,2 juta batang/tahun.

Penikmat kretek di Tumpang, Malang sedang menikmati rokok klobot. Kulit jagung masih digunakan industri kretek hingga kini. Foto: Jatimplus.ID/Titik Kartitiani

Di sinilah, terjadi sabotase dan persaingan tak sehat antara rokok putih vs kretek. Pada masa itu, kretek tak hanya dibungkus dengan klobot (pelepah jagung) tapi juga daun kawung/daun aren (Arenga pinnata). Seorang karyawan rokok putih mengaku diminta menebangi pohon kawung dengan imbalan tertentu. Harapannya, jika pohon kawung langka, maka produsen kretek terhambat. Namun upaya ini tak berhasil sebab kretek sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Pun pohon kawung ditanam sebagai bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Jawa, bukan sebagai tanaman skala industri besar.

Pemerintah Hindia Belanda berupaya membuat aturan agar kretek tetap ada. Misalnya dengan menaikkan harga rokok putih yang lebih mahal dengan Staatsblad no. 427 tahun 1915 hingga lahirlah stigma bahwa kretek untuk rakyak kecil dan rokok putih untuk golongan menengah.

Pada perkembangan selanjutnya, baik rokok putih maupun kretek pun menghadapi berbagai aturan pembatasan ruang gerak yang sama. Mulai dari pembatasan tayangan iklan, pembatasan promosi hingga cukai yang sangat tinggi ketika isu kesehatan semakin menjadi kesadaran masyarakat.

Sebuah toko Vape di Kota Kediri. Foto : Jatimplus.ID/Adhi Kusumo

Vape, Sehatkah?

Isu kesehatan yang menerpa rokok dan kretek itulah yang menjadikan perokok mencari cara untuk menemukan cara alternatif merokok. Ingat film The Tourist (2010) yang dibintangi Johnny Deep? Dalam film itu ditampilkan bagaimana Frank Tupello (Johnny Deep) mengisap vape sebagai rokok elektrik yang bagus untuk kesehatan. Pada tahun itulah rokok elektrik (vape) ini diklaim menjadi alternatif pengganti rokok mulai tren di Indonesia dan merebut hati anak-anak muda milenial.

Vape ditemukan pertama kali 70 tahun lalu. Tepatnya pada tahun 1930 oleh Helbert A. Gilbert. Temuan ini kemudian dikembangkan oleh Hon Lik dan dialah yang mempatenkan rokok elektrik ini hingga tahun 2006, vape mulai berkembang.

Anak-anak muda milenial menggemari Vape karena terlihat keren dan kekinian. Foto : Jatimplus.ID/Adhi Kusumo.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa vape mulai masuk ke Indonesia tahun 2012 hanya belum tren sebab terganjal banyak isu termasuk isu kesehatan itu sendiri. Sebagaimana dilansir VOA Indonesia (18/11/2019) WHO Christian Lindmeier, klaim kesehatan yang diajukan oleh para pembuat rokok elektronik itu tidak ada buktinya. Perangkat vaping itu menghasilkan gas aerosol yang mengandung berbagai racun yang bisa mengakibatkan sejumlah perubahan pathologis pada penggunanya. Gas ini juga merupakan risiko bagi orang-orang yang tidak merokok, pada anak-anak, dan perempuan hamil.

Polemik tentang bahaya vape dan kenikmatannya pun sama dengan polemik tentang kretek dan rokok terhadap kesehatan. Polemik ini terus berlangsung hingga saat ini. Sementara itu, diakui atau tidak, cukai rokok merupakan sumber pendapatan negara yang tinggi (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.