READING

Cukup 45 Menit, Status Pasien Corona Bisa Diketahu...

Cukup 45 Menit, Status Pasien Corona Bisa Diketahui di RSUD Gambiran

KEDIRI – Kabar gembira untuk warga Kota Kediri dan sekitarnya. Kini Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran mampu melakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) secara mandiri. Hanya dalam waktu 45 menit, para ODP atau PDP bisa ketahui apakah positif virus covid-19 atau tidak.

“Ini akan mempercepat pemeriksaan swab karena tak perlu lagi mengantre di Surabaya,” terang Direktur RSUD Gambiran dr. Fauzan Adima (14/05).

Fauzan Adima menjelaskan bahwa laboratorium RSUD Gambiran dinyatakan memenuhi standar Biosafety Level (BSL) II oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Status ini menunjukkan bahwa lab Gambiran dinyatakan layak untuk melakukan pemeriksaan spesimen dengan metode PCR.

“Setelah ditinjau langsung oleh pihak terkait, Alhamdulillah Gambiran mendapat status layak,” tambahnya.

Menurut Fauzan tidak semua rumah sakit rujukan bisa mendapatkan status ini. Kemenkes sendiri sangat ketat dalam mengawasi tingkat kelayakan sarana prasarana laboratorium maupun kesiapan sumber daya manusia rumah sakit.

Di Jawa Timur sendiri, selama ini pemeriksaan swab hanya dilakukan di tiga laboratorium. Tepatnya di Institute of Tropical Disease (ITD) Unair, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Surabaya, dan Rumah Sakit Universitas Brawijaya.

Karena keterbatasan jumlah lab, proses pemeriksaan spesimen ODP maupun PDP membutuhkan waktu 1 – 2 minggu karena panjangnya antrean. Lamanya proses pemeriksaan ini kerap menjadi persoalan bagi rumah sakit di daerah. Mereka harus menahan pasien di ruang isolasi rumah sakit hingga hasil swab keluar. Bahkan tak jarang hasil tersebut keluar setelah pasien meninggal dunia.

“Dengan kemampuan baru ini, petugas medis bisa langsung mengecek spesimen yang masuk sehingga status pasien bisa langsung diketahui dan diberikan pengobatan lebih lanjut,” tambahnya.

Dr. Qoirida Vinahari, Sp.PK yang bertugas di ruang Laboratorium RSUD Gambiran menjelaskan peralatan PCR yang dimiliki telah beroperasi secara mekanis (bukan manual).  Satu unit mesin PCR bisa mengerjakan 4 spesimen sekaligus. Jika mesin bekerja dalam 6 jam akan mampu mengerjakan 20 spesimen Covid-19 dengan akurat.

“Makin cepat kita memeriksa spesimen pasien akan makin baik. Karena usia spesimen untuk layak diperiksa hanya 1 – 2 minggu, tergantung kondisi virusnya. Jika antrean pemeriksaannya lebih dari itu dikhawatirkan mempengaruhi akurasi hasilnya,” terang Qoirida.

Dokter spesialis patologi klinik ini menambahkan pemeriksaan swab di laboratoriumnya menggunakan spesimen yang diambil dari rongga hidung (nashofaring). Bagian ini dinilai paling banyak mengandung virus Covid-19 hingga mencapai 89 persen dibandingkan di rongga bawah. Sampel lendir yang diambil dengan metode swab selanjutnya diperiksa menggunakan metode PCR. Hasil akhir dari pemeriksaan ini akan benar-benar memperlihatkan keberadaan virus SARS-COV2 di tubuh seseorang.

Cara kerja PCR berbeda dengan rapid test yang saat ini banyak digunakan. Rapid test memeriksa antibodi IgG dan IgM dalam darah. Antibodi itu akan terbentuk di dalam tubuh ketika mengalami infeksi virus. Jika ada, hasil rapid test dinyatakan positif terjadi infeksi. Namun hasil itu bukanlah diagnosis yang menggambarkan infeksi Covid-19.

Makanya para pasien dengan hasil rapid test positif dianjurkan menjalani pemeriksaan lanjutan dengan swab tenggorokan atau hidung. “Pemeriksaan ini diprioritaskan kepada ODP atau PDP dengan resiko tinggi,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.