READING

Cukup Satu Kali Demo, Maxi Brilian Penyaji Stripti...

Cukup Satu Kali Demo, Maxi Brilian Penyaji Striptis Blitar KO

BLITAR- Secara tekhnis, usaha karaoke Maxi Brilian Live Musik di Kota Blitar tamat sudah. Tidak hanya disegel paksa. Izin usaha (SIUP) milik Heru Sugeng Priyono itu juga dibredel. Nama Maxi Brilian juga dicoret dari daftar Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Pemerintah Kota Blitar.

“Melalui Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu, SIUP Maxi Brilian dicabut. Daftar perusahaanya juga dihapus,”papar Plt Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Blitar Juari disela memasang segel di pintu utama dan pos penjagaan Maxi Brilian.

Juari dengan tegas mengatakan penyegelan yang dilakukanya dalam rangka menegakkan Perda No 1 Tahun 2017 tentang ketertiban dan ketentraman Umum. Tergerebeknya Maxi Brilian karena menyajikan tarian telanjang (striptis) dan seks bebas oleh Polda Jatim telah menimbulkan keresahan sosial.

Keputusan “radikal” Wakil Walikota Blitar Santoso yang disalurkan melalui tangan anak buahnya itu tidak lepas dari aksi massa sejumlah ormas keagamaan. Ada Ansor Banser NU, ada FPI, ada Jamaah Anshorut Syariah (JAS), Pemuda Muhammadiyah, dan ikut juga PMII serta tokoh masyarakat.

Semuanya kompak beramai ramai “bertamu” ke gedung DPRD Kota Blitar. Mereka menuntut penutupan total Maxi Brilian. Legislatif yang biasanya berkebiasaan menampung aspirasi, kali ini langsung menyepakati. Tidak tanggung tanggung. Bulat seluruh fraksi, tidak terkecuali Fraksi PDI Perjuangan.

Dan hanya selang 24 jam kemudian, rekomendasi penutupan Maxi Brilian dikirim ke eksekutif. “Surat rekomendasi legislatif menjadi pertimbangan penting eksekutif mencabut izin Maxi Brilian, “kata Juari.

Maxi Brilian ibarat pencuri sembako yang kepergok, lalu dimassa sampai koma. Ibarat perang, Maxi Brilian telah tumpas setumpas tumpasnya. Atau ibarat tinju telah mencium kanvas, knock out (KO), dibopong keluar ring dengan kondisi  kejet kejet, sekarat.

Menanggapi pemberangusan itu Heru Sugeng Priyono, owner Maxi Brilian seperti terserang lesu darah. Lemas. Kepada wartawan dia mengatakan hanya bisa pasrah. Ini bertolak belakang dengan sikapnya sehari sebelumnya, yakni siap beroperasi kembali menyusul dilepasnya segel police line oleh Polda Jawa Timur.

“Kami pasrah atas keputusan yang dibuat Pemkot Blitar, “tuturnya singkat.

Karena Tak Ada Lagi Samanhudi  

Ormas memang bergerak kompak dan massif. Begitu juga dengan legislatif yang langsung bersikap bulat. Mudahnya mengakhiri bisnis karaoke Maxi Brilian itu diduga tidak lepas dari faktor tidak adanya Walikota Blitar Muh Samanhudi Anwar.

Andai Samanhudi tidak dikrangkeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tentu Maxi Brilian masih tetap beroperasi. Heru Sugeng Priyono tidak akan lemas. Hari ini pasti masih bisa gagah tertawa, membayangkan usahanya tak lama lagi beroperasi kembali.

Andai Samanhudi tidak terjerat kasus suap proyek infrastruktur pendidikan, fraksi di DPRD Kota Blitar tentu tidak akan kompak satu kata. Ormas juga tidak mudah kompak bersama.

Kalaupun Maxi Brilian berhasil ditutup, tentu akan muncul skenario baru, yakni berganti nama, dimana usaha karaoke masih terus beroperasi.

Rasan rasan itu menguar seiring penutupan Maxi Brilian. Namun semua itu hanya asumsi. Sebab bisa jadi Maxi Brilian tetap ditutup. Bahkan bisa jadi, demi keadilan, karaoke lain yang diindikasikan berpraktik sama, juga ditutup Samanhudi.

Ada pertanyaan, kenapa Fraksi DPRD Kota Blitar begitu kompak, cepat merespon aspirasi dan membuat keputusan bulat?. Ada yang menjawab, ya karena ini tahun politik, dimana para anggota dewan kembali mencalonkan diri (caleg) sebagai anggota legislatif tahun 2019.

Mereka tentu tidak ingin kehilangan konstituen dalam pemungutan suara nanti. Karenannya lebih baik menuruti. Coba kalau tidak ada momentum pemilu legislatif, apakah aspirasi juga akan direspon cepat?.

Ah, tentu ini juga asumsi yang terlalu under estimate. Tentu dari sebanyak 25 anggota dewan yang ada, masih banyak yang menolak kemaksiatan.

Penutupan Maxi Brilian tentu juga tidak ngaruh dengan index kebahagiaan masyarakat Blitar Raya, Kota Blitar khususnya. Meski pengunjung Maxi Brilian terkenal padat, dimana kabarnya penghasilan bruto manajemen (Maxi Brilian) mencapai ratusan juta hingga angka milyar per bulan, penutupan tidak akan berpengaruh dengan tingkat kebahagiaan masyarakat Kota Blitar.

Lebay jika ada yang berfikiran penutupan Maxi Brilian membuat banyak laki laki di Kota Blitar berkabung. Bersedih, bermuram durja, tidak bahagia. Sebab faktanya, penikmat fasilitas hiburan  Maxi Brilian bukan hanya warga Kota Blitar. Bahkan banyak yang berasal dari luar daerah.

Disisi lain masih banyak alternatif tempat karaoke lain di Kota Blitar. Masih ada mall town square dengan fasilitas gedung bioskop baru. Masih ada Taman Pecut yang setiap malam minggu menyuguhkan air mancur berjoget. Belum lagi  kafe, warung kopi, tempat nongkrong gratis dan sebagainya.

Apakah penutupan Maxi Brilian sama halnya menciptakan pengangguran baru?. Tentu tidak juga. Para pemandu lagu (Maxi Brilian) yang jumlahnya sampai puluhan orang, kemudian ditambah tenaga tekhnis lain itu, tentu bisa hijrah ke tempat karaoke lainnya.

Toh, pergeseran pemandu lagu dari satu tempat karaoke ke tempat karaoke lain hal yang lumrah.

Kecuali desakan Ketua Komisi III DPRD Kota Blitar Agus Zunaidi kepada eksekutif untuk mengevaluasi semua tempat karaoke di Kota Blitar, yakni juga harus ditutup jika terbukti melakukan praktik serupa Maxi Brilian, direalisasi.

Yang terjadi akan muncul pengangguran baru, meskipun kemungkinan itu kecil, mengingat mereka masih bisa bergeser ke tempat karaoke di Tulungagung atau Kediri.

“Tempat hiburan lain sejenis (karaoke) harus dievaluasi juga. Karena bisa jadi melakukan praktik (striptis dan seks bebas) yang sama, “tegasnya.

Jika desakan itu betul betul direalisasi Pemkot Blitar, maka asumsi bahwa persoalan Maxi Brilian  diduga sejatinya  hanya masalah  persaingan usaha sejenis akan patah dengan sendirinya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.