READING

Daging Kambing, Anjing, dan Babi Merupakan Hidanga...

Daging Kambing, Anjing, dan Babi Merupakan Hidangan Para Raja

Sebentar lagi 10 Dzulhijjah 1440 H, Hari Raya Idul Adha 2019. Umat Islam yang mampu akan menyembelih kambing atau sapi pada Hari Raya Kurban. Tahukah, jauh sebelum era Islam di Nusantara, hanya raja-raja yang boleh mengonsumsi daging kambing? Istilahnya rajamangsa, hidangan para raja.

MALANG– Hal ini disampaikan oleh DR. M. Dwi Cahyono Mhum., arkeolog Universitas Negeri Malang pada diskusi bertema Rajamangsa, Stratifikasi Sosial dalam Tradisi Kuliner Jawa Kuno yang diselenggarakan di Jipedes, Malang, 5 Agustus 2019. Diskusi ini juga disiarkan live melalui akun Facebook Aji Prasetyo, pemilik kafe tersebut.

“Rajamangsa dari bahasa Sansekerta, raja dan mangsa,” kata Dwi Cahyono dalam presentasinya. Secara keseluruhan berarti makanan yang dimakan oleh raja dan keluarga besarnya. Masyarakat di luar benteng kerajaan tidak boleh atau tidak bisa mengonsumsi rajamangsa ini karena beberapa hal. Salah satunya, karena ketidakmampuan mendapatkan akses terhadap bahan makanan/hidangan tersebut. Misalnya karena kesediaan terbatas, sudah didapatkan atau harganya sangat mahal sehingga hanya raja dan kerabatnya yang bisa menikmati. Sementara rakyat jelata hanya bisa mengakses makanan yang mudah didapat dan ketersediaannya melimpah.

Setelah ditelusuri, rajamangsa ini kebanyakan merupakan makanan yang berbahan daging, baik daging dari satwa darat maupun satwa air. Dwi Cahyono mengkaji rajamangsa dari sumber tekstual (prasasti), filologis (susastra), dan visual (relief candi). Dari sana bisa diketahui, proses makanan dari awal pengadaan makanan, memasak, menyajikan, tata cara mengonsumsi, hingga penyimpanan atau pengawetan makanan bisa diketahui. Juga jenis-jenis makanan yang sudah ada sejak zaman dahulu sampai saat ini masih dikonsumsi.

“Daging dari binatang darat antara lain wedhus gunting. Dalam naskahnya tertulis wdus,” kata Dwi Cahyono. Wedhus (bahasa Jawa), sedangkan dalam bahasa Sansekerta tertulis wiwi merujuk pada biri-biri atau domba.

Wedhus gunting secara harfiah berarti kambing yang dipotong/disembelih. Alat pemotong serupa gunting sudah ditemukan. Namun bila dikaji lebih jauh, Dwi menemukan bahwa wedhus gunting berarti kambing yang sudah dikebiri sehingga badannya lebih gemuk sehingga cocok untuk diambil dagingnya. Pada masa itu, daging kambing yang dikonsumsi hanya sebatas leher ke bawah, kepalanya tidak dikonsumsi. Relief sepasang wiwi ini bisa ditemui di salah satu panel Candi Jago.

Relief Candi Jago mengisahkah cerita Tantri, Angling Dharma, Kunjarakarna, dan kisah Sudhanakumara-Awadana.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Menurut Lydia Kieven dalam buku Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit (2014), relief Candi Jago mengisahkah cerita Tantri, Angling Dharma, Kunjarakarna, dan kisah Sudhanakumara-Awadana. Candi Jago dari nama Jajaghu yang disebut dalam kitab Desawarnana. Kitab ini memberitahu bahwa Candi Jago mengabadikan Wisnuwardhana sebagai Dewata Buddhis.

“Di Candi Jago, ada dua domba saling diadu. Konteksnya bukan kurban (sebagaimana Kurban dalam Idul Adha), namun dikorbankan sesama hewan. Ada di kaki pertama, panel sebelah utara. Dimungkinkan kambing, ada yang bilang kerbau/sapi. Tapi kalau dari kisah Tantri, kemungkinannya kambing,” kata M. Lutfi Fauzi, arkeolog di Malang.

Menurut Dwi, kisah tentang kambing dan kurban tertera dalam kitab Pararaton. Dalam kitab ini dikisahkan tentang anak laki-laki yang sangat bandel dari seorang janda dari Jiput. Dalam sebuah upacara akan dikorbankan wedhus bang (kambing merah). Sang anak bandel ini bersikeras menggantikan posisi kambing tersebut untuk dikorbankan. Tujuannya agar kelak ketika terlahir kembali, anak janda dari Jiput ini akan terlahir sebagai manusia yang lebih baik. Demikianlah, akhirnya kambing ini selamat dan sang anaklah yang dikorbankan. Kelak, dalam kisah selanjutnya, sang anak inilah yang akan dikenal sebagai Ken Angrok.

Domba yang dipelihara penduduk desa Ranupani dibiarkan lepas di sekitar danau Ranaupani. Domba dalam bahasa Sansekerta disebut “wiwi”, asal mula kata biri-biri.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Selain kambing dan domba, literatur kuno juga mengenal asu tugel (anjing yang dipotong). Sama dengan kambing, daging anjing hanya dikonsumsi sebatas leher ke bawah, kepala tidak dikonsumsi.

“Hal ini memberikan petunjuk pada kita, bahwa daging anjing memang dikonsumsi sebagai lauk yang terhormat,” tambah Dwi.

Setelah daging anjing, daging celeng (babi hutan) juga merupakan hidangan rajamangsa. Dwi menyebutkan dua istilah yaitu karung pulih dan karung mati ing gantungan. Karung pulih diartikan sebagai babi hutan yang sudah dikebiri sehingga lebih gemuk dan banyak dagingnya. Hal ini menunjukkan, pada zaman dulu, babi hutan sudah didomestikasi sehingga bisa dikebiri untuk digemukkan.

Sedangkan karung mati ing gantungan menurut Dwi, mendeskripsikan tentang perburuan karung (babi hutan) yang masih liar dengan cara dijerat. Teknik ini memungkinkan celeng mati tanpa darah keluar dari tubuhnya sehingga dagingnya lebih enak.

“Candi Surowono, ada relief cara menangkap babi dengan jiret (jerat),” kata Dwi. Pada zaman dulu, penangkapan babi hutan dengan cara menjerat biasanya digunakan untuk celeng yang masih kecil atau dalam bahasa Jawa disebut genjik.

Relief tersebut menunjukkan cara-cara berburu celeng pada masanya. Celeng merupakan daging favorot yang dikonsumsi semuanya bagian tubuhnya termasuk kepala. Sebab kepala pun masih banyak dagingnya, berbeda dengan anjing dan kambing.

Sementara itu, relief berburuan celeng dalam konteksnya sebagaimana dijelaskan oleh Lydia Kieven, bahwa relief Candi Surowono di Desa Canggu, Kabupaten Kediri mengisahkan tentang Sri Tanjung, Arjunawiwaha, dan Bubuksah.

Adegan pembunuhan celeng merupakan adegan ketika Raksasa Muka, salah satu penggoda kekuatan bertapa Arjuna, berubah wujud menjadi celeng yang mendekati Arjuna untuk menyerang. Kemudian tiba-tiba celeng tersebut terpanah. Pada relief selanjutnya merupakan pertengkaran antara pemburu (jelmaan Dewa Siwa) dan Arjuna yang memperebutkan siapa yang telah membunuh celeng tersebut.

Dalam hal pembacaan relief memang tak harus tafsir tunggal. Banyak pendapat yang memperkaya sehingga narasi-narasi tersebut memperkaya khasanah pengetahuan tentang masa silam. Khususnya tentang rajamangsa, tak hanya daging yang sudah disebutkan di atas. Dwi juga menambahkan adanya sato kewan (binatang) ternak yang juga dikonsumsi oleh para raja. Antara lain itik dan ayam yang sudah didomestikasi pada masa itu.

“Itulah kenapa kita mengenal istilah soto. Awalnya sauto dari kata sato kewan (kelompok binatang). Sebab komponen utama soto selain kuat adalah daging (dari sato),” terang Dwi. Kata sauto atau saoto masih kerap disebut untuk menyebut soto di kawasan Jawa Tengah, salah satunya di Kabupaten Klaten.

Sedangkan untuk daging dari binatang air, Dwi menyebutkan istilah badhawak (bulus) dan baning (penyu) yang juga dikonsumsi para raja pada zamannya. Tentu hal ini tak lagi relevan kini sebab kedua satwa tersebut sudah dilindungi karena kelangkaannya.

Kekayaan khasanah kuliner yang bisa dibaca dari relief dan kitab-kitab kuno merupakan pengetahuan yang harus terus digali. Meski tak semua harus dikonsumsi terkait perkembangan zaman, perbedaan kepercayaan, dan juga ketersediaan di alam (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.