READING

Dari Batu Shining Orchid Week 2019, Benang Kusut P...

Dari Batu Shining Orchid Week 2019, Benang Kusut Peranggrekan Indonesia

Indonesia kaya spesies anggrek. Separuh dari jenis anggrek alam dunia ada di Indonesia. Hanya saja, mengapa Indonesia belum menjadi leader dalam bisnis anggrek Indonesia?

BATU– Pameran anggrek tahunan mulai 6-13 Oktober 2019 usai sudah. Event yang dihelat PAI (Perhimpungan Anggrek Indonesia) cabang Malang meliputi Raparnas (Rapat Anggota Nasional) yang diikuti 77 utusan PAI se-Indonesia, lomba anggrek, bursa anggrek puluhan stan, dan diskusi bertemakan Sinergi Membangun Peranggrekan Nasional yang diselenggarakan pada 7 Oktober 2019 justru masih meninggalkan renungan. Apakah akan ada tindak lanjut ataukah permasalahan ini tetap akan menjadi masalah?

Diskusi yang berlangsung satu jam itu memang takkan mampu menjawab semua permasalahan yang ada. Setidaknya, narasumber yang terdiri dari Dr. Liferdi Lukman, SP.,M.Si (Direktur Buah dan Florikultura, Kementerian Pertanian), Hesti Widayani (Ketua Asosiasi Bunga Indonesia/ASBINDO), Novianto (PAI), dan Destario Metusala (LIPI) mengingatkan kembali permasalahan bisnis anggrek yang hingga kini tetap menjadi masalah.

Grammatophyllum speciosum peraih Best Species milik Kebon Anggrek Singosari, Malang. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Adapun permasalahan yang mengemuka antara lain masalah aturan ekspor impor perbenihan yang dirasakan memberatkan para breeder dan grower, ketersediaan anggrek baik pot plant maupun cut flower yang tidak kontinyu, masalah CITES, hingga koordinasi lintas sektoral yang masih saja belum berjalan.

Perbenihan Anggrek Indonesia

Sebelum mengupas permasalahan, Liferdi menyampaikan data ekspor anggrek tahun 2018 mencapai 51 ribu batang, sedangkan impor sebanyak 113 ribu batang. Melihat data Kementan tersebut, maka kebutuhan anggrek sebetulnya masih sangat tinggi, baik dalam dan luar negeri.

“Di PAI, kita mendapatkan kesempatan kerjasama dengan PT. Angkasa Pura untuk mengisi bandara dengan anggrek. Ternyata, untuk mendapatkan anggrek, tak mudah,” kata Novianto. Petani kecil biasanya tak siap untuk menyediakan anggrek dalam jumlah tertentu secara kontinu. Akhirnya peluang tersebut hanya bisa dicukupi oleh petani besar (perusahaan). Jumlah perusahaan anggrek pun tak banyak di Indonesia. Salah satu (untuk tak mengatakan satu-satunya) yang mampu menyuplai anggrek untuk kepentingan display bandara dengan kontinyu adalah PT. Eka Karya.

Menurut F. Rahardi, pengamat agribisnis dan juga pengurus PAI, pada kesempatan terpisah mengatakan bahwa rantai bisnis anggrek di Indonesia masih belum berjalan dengan peran masing-masing.

Ada beberapa permasalahan dalam rantai bisnis anggrek dari mulai penyilangan (menghasilkan benih) hingga anggrek siap dipasarkan dalam bentuk bunga potong (cut flower) maupun tanaman pot (pot plant). Dendrobium dan Phalaenopsis hibrida (anggrek bulan) merupakan dua komoditas anggrek yang banyak diperjualbelikan untuk anggrek potong maupun pot. Anggrek Dendrobium membutuhkan waktu minimal 2 tahun untuk berbunga dari mulai menyilangkan, bahkan bisa lebih.

Dendrobium Lee Siew Hua milik Wahyu Orchid, peraih Best Hybrid. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Anggrek bulan (Phalaenopsis) lebih lama lagi.  Proses tersebut terlalu panjang bila dilakukan oleh satu orang petani terkait biaya produksi dan juga waktu. Oleh sebab itu, untuk petani kecil mestinya berbagi peran. Breeder (penyilang) yang memproduksi seedling botolan berbeda dengan yang mengeluarkan botol hingga pembesaran. Pun bagian yang membungakan ada sendiri. Jika proses ini berjalan, maka tiap-tiap petani memiliki cash flow yang cepat dan agrobisnis anggrek berjalan. Selama ini, hampir semua dilakukan oleh satu orang.

Beberapa grower memilih untuk mengimpor seedling untuk menyingkat proses produksi. Selain itu, seedling dari luar negeri (biasanya Thailand, Taiwan, dan Singapura) memiliki jaminan pertumbuhan yang pasti. Kualitas bibitnya bagus dan bunganya disukai pasar. Hanya saja, impor bila tak diimbangi dengan ekspor akan memberi iklim buruk terhadap agribisnis dalam negeri. Sehingga pemerintah membuat aturan yang dirasa menyulitkan para grower. Aturan Izin Pemasukan dan Pengeluaran Benih Tanaman diatur dalam Permentan No. 127/Permentan/SR.120/11/2014. Masalah ini yang mengemuka pada diskusi kali ini.

Hesti mengatakan bahwa selama ini ASBINDO membantu para petani/pengusaha untuk mendapatkan rekomendasi ekspor impor ini. Sebab untuk mendapatkan Izin Pemasukan dan Pengeluaran tersebut harus mendapatkan rekomendasi dari asosiasi. Di sini peran ASBINDO selain juga memberi masukan terkait regulasi.

“Masalah benih ini sudah 10 tahun lalu dibahas, sejak saya menjadi ketua PAI Malang. Tapi sampai sekarang tetap saja masih jadi masalah. Tak ada tindak lanjut. Bukankah sudah saatnya kita bertindak, bukan lagi mewacanakan?” keluh Prof. Dr. Titis Adhisarwanto salah satu peserta diskusi yang juga pernah menjabat ketua PAI Malang Raya (2009-2014).

Diakui oleh Liferdi yang baru menjabat 2 bulan sebagai Direktur Buah dan Florikultura, bahwa Litbang Pertanian masih tertinggal untuk memenuhi kebutuhan benih khususnya untuk para petani anggrek.

“Sementara di Litbang baru melakukan proses produksi, permintaan di luar sudah ganti,” kata Liferdi. Anggrek berbeda dengan tanaman sayur. Tren lebih cepat berganti sesuai dengan permintaan pasar. Meski sebetulnya tak secepat industri fashion, hanya saja Litbang belum punya peran besar dalam menghasilkan bibit anggrek sesuai dengan permintaan pasar. Di sisi lain, selama ini pemerintah memang lebih fokus pada bidang pangan, bukan florikultura sehingga secara alokasi dana pun terbatas dan bukan menjadi prioritas.

 “Hanya untuk sekarang, ada perubahan. Ada peningkatan anggaran untuk bidang ini meskipun tak banyak,” kata Liferdi.

Oleh sebab itu, pada kesempatan ini, Liferdi berusaha untuk menginventarisasi permasalahan yang ada. Menurutnya, beberapa UU sedang direvisi. Pemerintahan Presiden Joko Widodo akan menyederhanakan UU terkait dengan dua hal yaitu investasi dan ekspor.

“Selama beberapa bulan ini, kami juga aktif komunikasi dengan Pak Liferdi untuk memberi masukan terkait dengan kepentingan para petani dan pengusaha bunga, anggrek termasuk bunga,” tambah Hesti.

Terkait dengan fokus utama Presiden Joko Widodo pada pemerintahan periode kedua yang ingin meningkatkan investasi dan ekspor, Liferdi optimis bahwa komoditas bunga khususnya anggrek bisa mengambil peluang ini.

“Bila aturannya dibuat lebih sederhana, harapan saya akan meningkatkan investasi di bidang anggrek khususnya perbenihan,” tambah Liferdi.

Pasar masih terbuka untuk anggrek. Sementara itu, potensi anggrek alam Indonesia cukup besar. Bukan hanya soal jumlah spesies, namun juga kekhasan anggrek yang tak dimiliki negara lain merupakan kekuatan Indonesia.

“Indonesia menyimpan separuh dari jenis anggrek alam dunia,” kata Destario Metusala, peneliti anggrek di LIPI. Nama Rio, sapaan akrabnya sudah tersemat di beberapa nama anggrek alam Indonesia misalnya Vanda metusalae anggrek asal Maluku dan Sulawesi.

Menurut Rio, jumlah anggrek alam dunia yang sudah teridentifikasi sejumlah 28.500 jenis. Anggrek alam (spesies yang belum disilangkan) merupakan bisnis yang dilirik khususnya menyasar pada kolektor baik dalam dan luar negeri. Meski jumlahnya tak sebanyak anggrek hibrid, namun para pemburu anggrek alam terkadang tak lagi memperhitungkan harga jika sudah suka. Semakin langka, semakin tinggi harganya.

Phalaenopsis Ultra Premium milik PT. Eka Karya, Bogor, Jawa Barat, peraih Best in Show. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Lika-Liku Transaksi Anggrek Alam

Membahas tentang peluang anggrek alam, kembali bisnis ini mendapatkan tantangan yang lain. Izin usaha anggrek alam ini tak hanya dari Kementerian Pertanian melainkan juga dari Kementerian Kehutanan khususnya terkait CITES.

Menurut Rio, Indonesia menyimpan separuh dari jenis anggrek dunia. “Lima belas persen dari jumlah anggrek alam yang ada di Indonesia merupakan jenis yang masuk daftar IUCN,” kata Rio.

Bila dilihat dari sisi bisnis, masuknya anggrek ke dalam daftar IUCN (International Union for Conversation of Nature) merupakan kendala yang harus dihadapi. Meski di dalam IUCN ada beberapa kategori, tak semua daftar merah yang artinya tak boleh diperdagangkan.

“Salah satu penyebab meningkatnya jumlah yang masuk daftar IUCN ini karena kerusakan hutan yang menjadi habitat anggrek,” tambah Rio yang kini bertugas di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur.

Jenis anggrek yang masuk dalam daftar ini bisa berubah bila ketersediaan di alam meningkat. Keberhasilan pembiakan anggrek-anggrek yang masuk daftar IUCN dan upaya pengembalian ke habitat asal  bisa mengeluarkan jenis anggrek ini dari daftar IUCN.

“Oleh sebab itu, kami yang bergerak di bidang konservasi harus kerjasama dengan para hobiis. Hobiis yang punya kemampuan untuk merawat dan membiakkan anggrek-anggrek langka ini,” kata Rio. Hobiis inilah yang terkadang bergerak untuk menyelamatkan anggrek-anggrek akibat deforestasi. Beberapa pun membiakkan.

Memang ada juga hobiis yang kadang langsung menjual anggrek hutan ini. Di kalangan para pecinta anggrek, mereka yang melakukan ini lama-lama akan tersisih juga. Sebab anggrek dari hutan yang langsung dijual, tingkat kematiannya sangat tinggi.

“Kami mendorong para hobiis untuk membiakkan anggrek alam. Jadi mereka menjual hasil dari budidaya. Sebab salah satu prinsip konservasi tak hanya melindungi tapi juga pemanfaatan,” tambah Rio. Konservasi memiliki tiga asas yaitu learn (mempelajari), use (memanfaatkan), dan save (melindungi).

Membahas soal konservasi anggrek, Lucky dari PAI Papua mengeluhkan bahwa izin membawa keluar negeri anggrek spesies untuk pameran hanya beberapa batang saja.

“Izinnya untuk souvenir, sementara kami harus bawa ke pameran,” keluh Lucky yang hadir sebagai peserta diskusi. Papua merupakan salah satu wilayah terkaya Indonesia dalam hal anggrek spesies khusunya Dendrobium section Spatulata (jenis dendro keriting).

Keluhan Lucky tersebut dijawab oleh Joko Asa’ad dari PT. Eka Karya Graha Flora, yang sudah biasa mengirim anggrek ke luar negeri. Menurut pengalamannya, jika anggrek-anggrek tersebut memang untuk pameran (termasuk anggrek spesies), tidak ada masalah dengan izinnya.

“Tapi biasanya ada pencatatan, jenis anggrek yang keluar sama dengan anggrek yang masuk,” kata Joko yang juga sebagai peserta. Artinya, anggrek yang dibawa keluar ke pameran harus dibawa pulang kembali dan tak boleh diperdagangkan. Lain halnya jika anggrek spesies yang dibawa keluar dengan tujuan untuk dijual. Izinnya tentu bukan izin pameran dan tak termasuk jenis IUCN red list. Jadi anggrek hasil budidaya yang dibutikan dengan surat izin penangkaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan. Demikianlah prosedur niaga dari anggrek spesies, melibatkan lintas sektoral.

Di sisi lain, Rio memberikan gambaran bahwa bisnis anggrek spesies tak melulu soal jualan anggrek, tapi bisa dialokasikan ke wisata anggrek. PAI Jakarta misalnya, kerap mengadakan tur untuk melihat anggrek di habitat aslinya. Agrowisata ini merupakan peluang yang bisa digarap tanpa harus berurusan dengan izin perniagaan dan anggrek tetap utuh di habitat asalnya.

“Kami di LIPI siap membantu untuk identifikasi anggrek sehingga informasinya betul. Selain itu, kami juga siap membantu bila ada satu daerah yang ingin mengidentifikasikan anggrek di wilayahnya sehingga bisa menjadi ciri khas wilayah tersebut,” terang Rio. Misalnya, Kalimantan memiliki ciri khas anggrek hitam (Coelogyne pandurata) sebagai endemik Kersik Luway. Daerah-daerah lain juga bisa memiliki anggrek khas yang diangkat sehingga merupakan daya tarik wisata.

Demikian tantangan dan potensi anggrek Indonesia. Tentu saja, pembahasannya memerlukan tindak lanjut yang konkret untuk membangun sinergi ini. Paling tidak, menurut Rio, akhir tahun ini akan ada pembahasan terkait sinergi para pemangku kepentingan terkait dengan anggrek yang akan dilaksanakan di Kebun Raya Purwodadi.

Reporter: Titik Kartitiani
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.