READING

Dari Bengkel Sederhana, Gitar Bambu Jawa asal Kedi...

Dari Bengkel Sederhana, Gitar Bambu Jawa asal Kediri Diminati Hingga Mancanegara

KEDIRI- Pada umumnya gitar terbuat dari berbagai jenis kayu. Namun berbeda dengan gitar buatan Kusnan. Pria asal Kelurahan Banjaran, Kota Kediri tersebut lebih memilih bambu jawa sebagai bahan dasar gitarnya. Makanya hasil karyanya banyak diminati masyarakat luas bahkan hingga mancanegara.“Yang terbaru kemarin dibeli bule dari Australi (Australia, red). Dia datang dari Jakarta, mampir ke sini bersama teman-temannya,” terang Kusnan kepada Jatimplus.ID.

Meski hasil produksinya telah melanglang buana, gitar produksi Kusnan dihasilkan dari tempat yang  sederhana. Memanfaatkan sela samping rumah dengan lebar tak kurang dari satu meter, pria 62 tahun ini melakukan proses produksi mulai dari memotong hingga mengelem bahan baku.

Gitar-gitar yang sudah jadi maupun yang setengah jadi disimpan di ruang tamu rumahnya yang berada di Kelurahan Banjaran Gang 1 No 277 Kota Kediri. Di ruang yang tidak seberapa luas tersebut, gitar-gitar tampak rapi tergantung.

Kusnan sebenarnya sudah memproduksi gitar sejak tahun 1977. Namun karena bosan dengan gitar yang sudah ada, Kusnan mulai berinovasi dengan membuat gitar dari bahan bambu. Usahanya sempat gagal beberapa kali dan bahkan ditertawakan orang sekitarnya. Namun dengan tekad yang bulat, pria yang juga gemar bermain musik tersebut akhirnya berhasil.

“Saya belajar sendiri cara buat gitar. Dulu saya senang main gitar tapi karena nggak punya, saya buat sendiri. Nggak enak kalau pinjam-pinjam,” ujarnya.

Memang cukup sulit membuat gitar dari bambu dibandingkan dengan gitar kayu. Pasalnya ada banyak hal yang harus dilalui agar hasilnya bagus. Kusnan tidak boleh asal-asalan sejak pemilihan bahan hingga proses perakitan.

Menurutnya, bambu jawa yang bagus untuk gitar harus yang benar-benar tua dan kering. Bukan bambu yang masih muda yang mengering. Setiap ruas dari satu batang bambu utuh juga terkadang memiliki kualitas yang berbeda. Makanya proses pemilihan bahan baku sudah harus cermat sejak awal.

“Jadi tidak boleh asal,” ujar pria kelahiran tahun 1957 tersebut.

Dalam prosesnya bahan baku yang didapatkan dipotong-potong di bagian buku batangnya. Potongan tersebut kemudian dikeringkan secara alami menggunakan sinar matahari. Di musim penghujan, Kusnan lebih senang menyetok bahan baku sejak awal sehingga proses produksi tidak tersendat.

Bambu yang siap digunakan harus dihaluskan dulu, baru kemudian dirakit. Untuk membuat satu gitar, Kusnan bisa menghabiskan waktu sepuluh hari. “Kalau gitar biasa paling tiga hari jadi,” terangnya.

Meski prosesnya lebih lama dan sulit, gitar bambu memiliki kualitas yang jauh lebih baik. Nada yang dihasilkan gitar bambu lebih nyaring. Selain itu, gitar juga lebih awet. Ini dikarenakan gitar bambu tidak ada kadar airnya. Sedangkan kayu lebih sulit untuk dikeringkan hingga kadar airnya 0 persen.

Gitar bambu buatan Kusnan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo.

Kadar air inilah yang seringkali merusak kualitas gitar karena rawan melengkung jika dibawa ke daerah yang berbeda cuaca dan suhunya. “Kalau gitar asal negara yang dingin dibawa ke sini pasti jadi jelek karena perbedaan cuaca,” terang bapak dari empat anak tersebut.

Karena sulitnya proses pembuatannya, harga gitar bambu juga lebih mahal. Untuk gitar 3/4 dibanderol harga Rp 800 ribu. Sedangkan untuk gitar 4/4 dijual dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.

“Disesuaikan dengan kualitas bahannya,” jelasnya.

Rata-rata pembeliannya berasal dari pemesanan secara online. Kusnan juga memiliki banyak teman yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sehingga penjualan bisa lewat mereka. Saat ini konsumennya tidak hanya dari  Indonesia saja. Ada pula pesanan dari negara-negara tetangga.

“Pesanan sudah dari mana-mana seperti Batam, Medan, Jakarta. Beberapa kali juga ada pesanan dari Malaysia dan Brunei,” urainya.

Kusnan optimis bahwa gitar bambunya akan terus diminati konsumen karena kualitasnya yang baik dan belum ada yang membuat produk serupa. Dia berharap ada dukungan dari pemerintah setempat untuk membantu promosi sehingga pesanan bisa lebih stabil.

“Semoga saja usaha ini bisa semakin berkembang ke depannya,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.