READING

Dari Kick Andy, Naked Traveler, Komunitas Hingga R...

Dari Kick Andy, Naked Traveler, Komunitas Hingga Royalti (4)

Baginya, menggarap sebuah desain sampul buku tidak butuh waktu lama.  Tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Untuk satu sampul buku, dia mengaku mampu merampungkan dalam tempo singkat. “Satu sampul buku cukup dua tiga jam, rampung,“ tuturnya.

Itulah Rony Setiyawan desain grafis asal Kota Kediri. Menilik usia dan penampilan, bungsu empat bersaudara itu masih muda. Bahkan sangat muda, 29 tahun. Juga baru empat tahun menggenggam gelar sarjana dari Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Namun jam terbangnya di seni grafis, yakni terutama mendesain cover buku buku  penulis ternama, patut diacungi jempol.

baca juga: Dari Bengkel Rosok Hingga Museum Spanyol

Meski hanya butuh waktu 2-3 jam, dan itupun masih diselingi ngemil, mendengarkan musik, serta kadang disela urusan rumah, Rony tidak pernah main main dalam bekerja.

Kalau tidak begitu, 30-an sampul buku yang diantaranya karya Kick Andy, Soleh Solihun, Chicken Soup, dan beberapa seri buku perjalanan Naked Traveler Trinity tidak akan pernah lahir dari tangannya. “Semua buku itu terbitan Bentang Pustaka,“ tutur Rony kalem.

baca juga: Gerombolan Garasi Pencipta Imaji

Bagi bukuholic, nama Bentang Pustaka tentu tidak asing. Sebuah perusahaan penerbitan yang tergabung dalam grup penerbitan Mizan.

Bentang Pustaka yang sebelumnya bernama Bentang Budaya (berubah nama dan kepemilikan saham tahun 2004) banyak menerbitkan buku karya sastrawan dunia. Ikut terlibat didalamnya adalah capaian yang layak mendapat apresiasi.

baca juga: KHF, Segenggam Dedikasi Kaum Muda Kediri

Siang itu di sebuah sudut cafe shop di Kota Kediri, kami bertemu. Rony mengenakan kaos oblong dengan lapisan luar kemeja flanel yang dibiarkan tak terkancing. Sementara di bagian bawah bercelana jins semi belel dipadu sepatu cat.

Seperti penampilan Kurt Cobain “berfeaturing” dengan Iwa K. Perpaduan gaya grunger dan rapper. Bicaranya rileks, apa adanya, easy going. Khas generasi milenial yang optimis penuh percaya diri.

Ini pertemuan kami yang pertama kali. Sebelumnya, mengenal Rony hanya mengeja dari buku, akun instagram (@ronysetiyawan), serta mendengar beberapa orang yang kebetulan membincang namanya.

“Nama desainer sampul buku memang tidak seterkenal penulis maupun penerbit,“ timpalnya sembari tertawa. Yang disampaikan Rony memang tidak keliru. Meskipun tidak sepenuhnya benar.

Seorang desainer sampul buku memang tidak setenar penulis dan penerbit buku. Karena memang sampul hanya dinisbatkan kepada  judul (buku), penulis, dan penerbit. Kalaupun ada nama desainer yang termuat di sampul, kasusnya jarang jarang.

Tempat desainer selalu di lembar kedua setelah sampul dibuka. Itupun dalam ukuran font yang kecil.  Artinya kerap lolos dari penglihatan pembaca yang ingin segera mengintip daftar isi.

Desainer buku ibarat  manusia yang bekerja dalam gelap. Berkreasi di belakang layar. Namun bukan berarti nama mereka tak bisa berkibar. Siapa tak kenal desainer Ong Harry Wahyu atau Buldanul Khuri?

Ditemani istrinya, Anisa Meylasari, dan Ayasha Gendis Kinasih yang masih berusia 2,5 tahun, Rony Setiyawan menceritakan lika liku perjalanannya sebagai seorang desainer grafis.

Bagaimana seorang Rony Setiyawan bisa bergelut sebagai penggambar sampul? Simak wawancaranya dengan redaksi Jatimplus.ID berikut ini:

Apa enaknya menjadi seorang desainer?

Banyak enaknya. Duduk duduk, santai, bekerja sambil menyalurkan hobi, dan dibayar (tertawa).

Seperti apa kerja desainer buku?

Sederhana. Saya hanya mengeksekusi ide atau gagasan yang disampaikan penulis dan penerbit buku. Misalnya, aku mau sampul bukunya seperti ini. Atau sampul seperti itu. Fungsi saya sebagai desain grafis menuangkan ide tersebut ke dalam bahasa grafis visual.

Selama ini saya bisa menangkap apa yang dimaui penulis dan penerbit. Dan semua komunikasi cukup via phone, email dan sejenisnya. Jarang datang ke kantor (Bentang Pustaka). Awal awal saja dulu.     

Dalam sehari bisa mengerjakan berapa sampul buku?

Tergantung berapa banyak ordernya. Untuk satu sampul buku, saya hanya butuh waktu 2-3 jam. Rampung. Mengerjakannya juga santai, cukup di rumah. Sejauh ini dalam sebulan Alhamdulillah selalu ada order (tertawa).

Seorang desainer tidak setenar penulis dan penerbit. Betulkah demikian?

Faktanya memang demikian. Pembaca seringkali hanya melihat penulis dan penerbit. Itu yang membuat nama desainer sampul buku tidak bisa setenar mereka. Padahal sampul memiliki fungsi marketing yang kuat. Menjadi unsur penting dalam menentukan laku tidaknya sebuah buku. Karena sampul buku menjadi bagian yang dilihat pertama kali pembaca.   

Bagaimana dengan perhitungan royalti?

Tidak ada. Keuntungan royalti hanya berlaku kepada penulis. Tidak berlaku untuk desain sampul buku. Seberapapun banyaknya penjualan buku, desain sampul buku tidak mendapat apa apa. Bahkan pernah sampul karya saya di sebuah novel digunakan untuk promo film. Karena novel itu diangkat ke layar lebar. Dan saya sebagai pemilik karya juga tidak mendapat apa apa.

Apakah ketentuan itu hanya berlaku pada Anda saja atau seluruh desain sampul?   

Setahu saya berlaku untuk semua desainer buku. Idealnya dapat ya. Karena setiap buku yang laku melekat karya si desainer. Harapannya ke depan sih bisa dapat. 

Masih ingat buku yang pertama kali Anda garap sampulnya?

Sebentar (sambil memandang keatas, berfikir keras). Iya masih ingat. Buku Kick Andy. Judulnya Kreatifitas Tanpa Batas. Itu buku pertama terbitan Bentang Pustaka yang saya kerjakan lima tahun silam. Saya juga menggarap beberapa buku Kick Andy judul lain. Totalnya ada empat buku yang desain sampulnya memakai karya saya.

Mulai kapan bekerja sebagai desainer buku?

Saya kuliah di ISI Yogyakarta jurusan Desain Komunikasi Visual. Biasa disebut desain grafis. Pada tahun 2014, yakni sebelum lulus kuliah, saya sudah bekerja freelance di penerbit Bentang. Artinya saya menjadi desainer ketika masih kuliah. Oh ya, saya masuk kuliah tahun 2009, dan lulus 2015. Dan karena bekerja itu, lulus kuliah saya jadi molor.

Dari sekian desain sampul buku, mana yang paling berkesan?

Naked Traveler. Kenapa Naked Traveler? Dulu pertama kali tahu buku itu waktu SMA, dipinjami  kakak saya. Lihat pertama kali langsung berkesan. Buku ini oke banget. Tidak tahunya saat bekerja di Bentang Pustaka ditawari garap sampul buku keenamnya. Rasannya senang banget. Langsung saya iyakan.

Pernah punya pengalaman desain ditolak?

Pernah. Setelah 8 kali bikin desain, ujung ujungnya si penulis bilang, “yang kayak gini sudah banyak. Cari orang lain saja”. Untungnya di Bentang Pustaka, meski desain tidak dipakai pendesainer masih dapat honor separuh. Semacam pengganti uang lelah.

(Wawancara berhenti sementara. Gendis Kinasih yang sebelumnya duduk sama ibunya tiba tiba datang. Gendis yang langsung menggelendoti Rony, merengek meminta digambarkan kucing. Setelah diberi contoh di buku notes, Rony membiarkan Gendis melanjutkan sendiri.

Maaf, kalau boleh tahu berapa honor mendesain sampul buku?

Antara satu penerbit dan penerbit lain tidak sama. Kalau di Bentang Pustaka Rp 500 ribu untuk satu desain sampul. Ini sudah relatif bagus. Setidaknya lebih tinggi dibanding penerbit lain. Tapi jangan dibandingkan dengan penerbit kelompok Kompas Gramedia. Lebih besar disana.

Kenapa nggak mencoba masuk ke Gramedia?

Pingin sih bisa bekerja di sana (Gramedia). Namun selama ini belum punya jaringan disana. Karena selain kemampuan, bagaimanapun rekomendasi masih juga diperlukan.

Selain mendesain sampul buku, apa yang dikerjakan saat ini?

Saat ini saya lagi membuat desain grafis semacam logo dan sejenisnya. Bekerja di perusahaan asing Amerika. Istilahnya membikin vectors. Saya dijatah bikin 110 file per bulan, dengan satu file dihargai 10 dollar. Artinya justru ini pekerjaan utama saya. Sedangkan garap sampul buku itu sampingan.

Tidak tertarik membuat komunitas desain grafis di Kediri, lalu membuat usaha bersama?

Itu angan angan saya. Membuat komunitas, bikin work shop dan mendirikan usaha bareng bareng. Entah bentuknya membuat merchandise dan sejenisnya. Tidak sekedar mencetak produk, tapi ada edukasinya. Dulu pernah iseng iseng bikin kaos untuk komunitas. Harusnya bisa berkembang ya. (*)  

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.