READING

Daun Kratom, Magic Mushroom, Kecubung dan Ganja, B...

Daun Kratom, Magic Mushroom, Kecubung dan Ganja, Benarkah Berbahaya?

Sebanyak 12 ton daun kratom diamankan aparat kepolisian Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Daun kratom yang dianggap mengandung zat narkotika berbahaya itu hendak diusung ke luar negeri.

JAUH sebelum daun kratom dipersoalkan, magic mushroom atau jamur letong atau tletong lebih dulu akrab di kalangan “jamaah mabukiyah”. Tletong merupakan kotoran sapi berwarna pekat, serupa bubur panas, dengan bau khas menyengat.

Di kubangan tinja yang berceceran di sekitar kandang, di rumput rumput lapangan, boomers atau golden tops atau gold caps atau cubes atau jamur tletong, hidup dan tumbuh liar. Bentuknya mungil bulat, dengan warna cokelat.

Setelah dipetik dan dicuci bersih, Basori (bukan nama sebenarnya) biasanya merajang bagian kepala jamur itu kecil kecil. Mengirisinya seperti menyayat bawang merah tipis tipis. Setelah itu mencampurkannya ke dalam telur ayam yang sudah dikopyok.

“Persis cara membuat adonan menu telur dadar. Dulu begitu saat beberapa kali ikut mencicipi, “tuturnya.  

Magic mushroom mengandung senyawa aktif dengan sifat adiktif yang mampu mengacak acak keseimbangan motorik. Setiap penyantap jamur tletong  akan berhalusinasi, didera gangguan persepsi, prilaku, fungsi otonom serta reflek motorik yang goyah.

Gejala tremor, mual, dan sulit tidur biasanya juga akan menyertai. “Efeknya mengikuti suasana hati, “kata Basori yang pernah merasakan bagaimana sensasi mabuk jamur tletong. Bila hati sedang cedera, mata akan sembab karena saking banyaknya cucuran air mata.

Selama efek mabuknya masih bekerja, air mata akan terus tumpah. Sebaliknya jika hati sedang berbunga, rasa bahagia akan terus bermekaran. Bahagia yang lepas kendali, tidak mengenal waktu, tempat, dan situasi.

Efek magic mushroom mengaburkan garis batas ilusi dan kenyataan. Kobaran api terlihat seperti pemantik. Menyaksikan sungai seperti kubangan got, selokan. Melihat tubuh orang seperti kurcaci yang berlalu lalang dan sebagainya. Pada tingkat akut bisa berakibat fatal.

Terpikat oleh kisah keunikan sensasi jamur tletong, sampai sampai sastrawati Ratih Kumala menulis cerita pendek berjudul “Bastian dan Jamur Ajaib”. Dalam prolognya tertuliskan pesan, “Jamur ini bukan sembarang jamur. Jamur ini mampu membuka luka hati siapa pun yang memakanya”.

“Karenannya seringkali disarankan untuk tidak mengkonsumsi magic mushroom bila dalam keadaan susah. Atau lebih baiknya tidak sama sekali, “kata Basori.

Beda lagi dengan daun kecubung yang hanya memiliki sensasi melayang layang. Kecubung yang berbunga warna ungu dan ayu tidak disangka memiliki efek memabukkan.

Penikmat biasanya mencampurkan bubuk kecubung ke dalam adukan secangkir kopi hangat. Sama dengan jamur tletong, kecubung mudah didapat.  

Untuk bisa ngefly, pada tahun 1890 sebagian masyarakat Jember, Bojonegoro, Rembang, Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Besuki memilih menghisap candu atau opium. Candu merupakan tanaman dengan nama latin papaver somniverum.

Getah tumbuhan yang mengandung alkaloid, morfin, codein dan heroin yang berefek memabukkan itu berasal dari Timur Tengah. Orang orang India membawanya ke Siam, daratan Tiongkok dan akhirnya sampai ke Indonesia. 

Penghisap candu selalu merasakan sensasi horny, membayangkan hal hal mesum, jorok dan porno. Seorang dokter kebangsaan Inggris Thomas Sydenham memuji candu sebagai salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

“Diantara obat obatan yang Tuhan Maha Kuasa berkenan untuk memberikannya kepada manusia untuk meringankannya kepada manusia untuk meringankan penderitaan-penderitaanya, tidak ada yang seuniversal dan semanjur opium” (Djember Tempoe Doeloe).

Sementara para penghisap daun ganja akan merasakan sensasi bahagia berlebih. Namun mata akan memerah, tenggorokan mengering, haus, serta perut merasa lapar. Saking mudahnya disergap lapar sampai sampai tercipta anekdot (di kalangan penghisap), cimeng atau ganja sebagai obat peninggi nafsu makan.    

Para ahli botani di dunia bersepakat tanaman ganja muncul pertama kali di Asia, dengan persebaran awal di kawasan Laut Kaspia, Rusia Tengah, Rusia Selatan, sampai India Utara dan pegunungan Himalaya. Tumbuhan yang mengandung zat adiktif ini memiliki banyak nama.

Di Rusia orang orang menyebutnya Anascha. Orang Yunani menamakan Kannabis, Orang Mexico menyebut Marihuana, Arab menyebut Karmab, Afrika Utara menyebut Kif dan lain sebagainya. Nama ganja sendiri berasal dari bahasa sansakerta.

Sebagai tanaman yang mengandung zat serupa narkotika, daun kratom juga dianggap berbahaya. Tanaman kratom memiliki nama latin mitragina speciosa yang tumbuh subur di kawasan Kalimantan hingga Malaysia.

Penduduk lokal biasanya memetik daun kratom untuk obat herbal penyembuh demam, diare dan pereda nyeri. Seperti dilansir dari Liputan6.com, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sudah mengeluarkan surat edaran pada 30 September 2019 tentang larangan penggunaan daun kratom untuk obat tradisional dan suplemen makanan.   

Dalam tesisnya berjudul “Pengembangan Metode Isolasi dan Identifikasi Mitragynine dari Daun Kratom” di kampus Unair Surabaya, Livia Elsa mengatakan daun kratom masuk ke dalam new pshypsychoactive substances (NPS) atau narkotika jenis baru.

“Orang orang dengan mudah saja menggunakan tanaman itu, yang ternyata efeknya bisa lebih besar daripada narkotika yang sudah dilarang, “kata Livia dalam halaman resmi Universitas Airlangga.

Penelitian Manue Guzman yang terbit dalam Journal of Nature Review tahun 2003, senyawa cannabinoid (ganja) memiliki efek menghambat pertumbuhan sel tumor, bahkan membunuhnya dengan memicu apoptosis (bunuh diri sel).

Ganja berpotensi besar mengobati penyakit kanker. Memiliki kemampuan membunuh berbagai jenis sel tumor dan menghambat metastasis (penyebaran) sel baru. Terapi kepada penderita tumor paru paru, tumor glioma, tumor pada tiroid, rahim, payudara dan prostat terbukti sukses.

Manfaat yang sama bisa jadi juga dimiliki daun kratom, magic mushroom, dan kecubung. Hanya saja stigma telah bekerja, dan dengan dingin mengubur hidup hidup sisi manfaat yang ada.

Seperti halnya nasib sayuran genjer dan kata “ganyang”yang akan terus dikutuk dan dijauhi karena stigma sebagai milik pengikut partai terlarang dan berbahaya. (Mas Garendi)    

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.