READING

Desa Bangun, Mojokerto, Makmur Berkat Sampah dari ...

Desa Bangun, Mojokerto, Makmur Berkat Sampah dari Berbagai Negara

“Sampah impor” menjadi isu hangat akhir-akhir ini. Bahkan dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya saja, ada 5 kontainer sampah di kirim balik ke negara asal. Tak hanya sekali, pengiriman kembali sampah ekspor itu akan terjadi lagi. Di balik permasalahan sampah negara lain yang masuk ke Indonesia, ada satu desa yang hidupnya tergantung dari sampah tersebut.

MOJOKERTO– Desa itu tampak sibuk ketika Jatimplus.ID memasuki wilayahnya, sore pada akhir bulan Juni 2019. Truk memuat karung-karung besar berwarna putih keluar dari desa. Para perempuan dan manula duduk-duduk di depan rumah mereka, menghadap tumpukan sampah yang menggunung. Betul. Sampah. Hampir di setiap pekarangan, sampah-sampah itu menumpuk. Dilihat dari bangunan fisik, tak ada rumah tak layak di desa ini.

Tangan telanjangnya cekatan memilah sampah. Meski secara visual penuh sampah, desa ini tak memiliki bau tak sedap. Udaranya sebagaimana desa pada umumnya. Berdebu ketika kemarau, namun tak ada aroma busuk dari sampah sebagaimana tampak dari visual. Demikian pemandangan dari Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Truk yang mengangkut karung sampah ke pengepul di Desa Bangun, 27/06/2019.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Akibat pemberitaan yang gencar dari media lokal, nasional maupun internasional, Desa Bangun menjadi waspada dan cenderung resisten terhadap jurnalis. Kabar tentang wartawan yang tak diterima baik memberi catatan bagi tim Jatimplus.ID untuk lebih berhati-hati. Tidak langsung mengeluarkan kamera dan memotret sana-sini.

Akhirnya, M. Ichsan, Kepala Desa Bangun menjadi pintu masuk untuk menceritakan desanya. Laki-laki 63 tahun ini sudah 35 tahun menjadi sekretaris Desa Bangun. Lima tahun terakhir menjabat sebagai kepala desa. Dia punya potensi besar untuk menjabat kepala desa lagi karena kepercayaan masyarakat padanya. Kepercayaan yang tak dibangun dengan instan.

“Desa ini tandus. Tidak ada saluran irigasi,” kata Ichsan mengawali. Ayahnya membawa budaya bertani ke desa ini. Mulai menanam tembakau, gagal. Kemudian menanam kenaf (rami, bahan karung goni) yang memberi warna baru di desa tandus ini. Hingga meletus G 30 S PKI, ayahnya tak ikut gerbong PKI sehingga dipercaya warga menjadi kepala desa. Kepercayaan ini menjadi salah satu kekuatan Ichsan setelah menjadi sekdes lalu kades.

Ladang rezeki di tiap halaman rumah, 28/06/2019
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Tahun 1978-an, PT Pakerin yang berada tak jauh dari desa membutuhkan tanah untuk TPS (Tempat Pengelolaan Sampah Sementara). Ichsan menyerahkan 8 hektar lainnya untuk disewa PT Pakerin. Di sana ia juga mempekerjakan warga untuk memilih sampah. Baru kemudian warga peduli, ternyata sampah PT Pakerin ini bisa menjadi uang.

“Sejak itu, ramai-ramai mereka meminta limbah dari PT Pakerin,” kenang Ichsan. Kemudian diberi sampah satu truk. Dituang ke rumah yang memiliki pekarangan. Karyawan Ichsan pun meningkat, sampai 180 orang untuk memilah sampah. Dalam seminggu, Ichsan bisa menjual 12 truk sampah yang dipilah.

Kisah lain tentang “sampah impor” ada di sini.

Penghasilan yang Menggiurkan

Ichsan menjelaskan, sampah dari PT Pakerin sesungguhnya bahan ikutan. Perusahaan ini mengimpor bahan baku kertas bekas, di dalamnya terdapat campuran sampah plastik. Sampah ini terdiri dari bungkus makanan, kaleng minuman, dan lain-lain.

“Setelah di-hidro, kertas dan plastik terpisah. Plastik ini yang diberikan ke warga,” terang Ichsan. Warga memilah menjadi plastik, kaleng (aluminium). Sampah plastik pun masih dipilah sesuai jenisnya. Dari hasil pemilahan ini, disetor ke pengepul. Truk yang terlihat membawa karung itulah yang mengangkut sampah yang sudah dipilah. Sampah kertas yang tak terambil oleh PT Pakerin, dikumpulkan warga untuk disetor ke Kediri. Di Kediri dijadikan bubur untuk dicetak menjadi wadah telur. Pilahan terakhir berupa sampah yang tak lagi bisa diambil, dijual ke perusahan tahu, krupuk, dan batu bata merah sebagai bahan bakar.

Jannah, salah satu warga Desa Bangun yang bisa naik haji dari sampah.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Semuanya habis tak ada sisa,” kata Ichsan. Ia mengajak Jatimplus.ID untuk berkeliling ke masyarakat desa. Salah satunya ke rumah Siti Maimanah,35 tahun, pemilah sampah sejak lebih dari 20 tahun silam. Siti Maimanah dibantu 5 orang karyawan, semua perempuan, memilah sampah.

Rumahnya, seperti rumah warga yang lain, penuh dengan tumpukan sampah. Sampah itu berupa sobekan kertas, pecahan plastik, dan kaleng minuman yang sudah gepeng. Sampah yang sampai ke warga dari PT Pakerin memang sudah masuk mesin pencucian dan pemilahan. Itu sebabnya tidak bau.

Menurut Ichsan, sejak tahun 2007, sampah dari PT Pakerin sudah berubah. “Kotorannya” atau bahan-bahan yang bisa dijual sudah sangat sedikit. Yang ia tahu, di dalam PT Pakerin pun sudah dipilah. Sejumlah 100-an pemilah bekerja mengambil plastik untuk disetor ke anak perusahaannya. Sejak itu, karyawan Ichsan berkurang. Kini tinggal 30 orang saja. Pun beberapa truknya rusak dan tak ada ongkos untuk memperbaiki.

Sampah dari makanan kemasan dan kaleng dipisahkan untuk dikirim ke pengepul.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Soal sampah plastik dari PT Pakerin yang sudah “bersih” ini dibenarkan oleh Siti Maimanah. Sehingga ia dan warga desanya mendatangkan sampah dari pabrik kertas lain.

“Kalau dari PT Pakerin gratis, giliran. Dusun Bangun dapat jatah hari Minggu. Kalau Senin dan Kamis ke Dusun Kalitengah dan ke Dusun Ploso. Tapi sekarang kami beli dari pabrik lain untuk menambah,” kata Siti Maimanah.

Menurut catatan ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation), terdapat 22 pabrik kertas di Jawa Timur, 12 di antanya menggunakan bahan baku kerrtas bekas impor. Skema yang sama dengan PT Pakerin. Sampah ikutan inilah yang dimanfaatkan warga.

“Kalau banyak kotorannya, harganya Rp 300 ribu/truk. Dapatnya Rp 1,5 juta bersih. Kalau sedikit kotorannya bayar Rp 100 ribu, dapatnya Rp 500 ribu. Itu semua dikerjakan per minggu,” terang Siti Maimanah, ibu beranak dua yang membiayai keluarganya dari sampah ini. Pun karyawan yang bekerja padanya.

“Kalau ndak kerja di sini, mengharap dari suami saja, tidak cukup,” katanya. Pekerjaan ini juga dilakukan para manula yang kemungkinan tak lagi bisa mengerjakan pekerjaan berat lainnya. Sampah menjadi jalan keluar kesulitan ekonomi di desa ini.

Air Limbah Hingga Penukaran Uang Asing

Kisah-kisah menemukan harta karun di dalam tumpukan sampah impor juga melengkapi cerita mereka. Untuk sampah yang berisi popok sekali pakai, warga menolak.
“Dulu juga pernah ada. Dulu sekali. Tapi warga menolak. Kami kotor tapi ya jangan kotor-kotor banget,” kata Siti.
Warga Desa Bangun hanya menerima sampah yang relatif bersih. Siti pernah menemukan uang asing bila dirupiahkan bernilai jutaan. Kadang juga menemukan emas dan perak. Ketika Jatimplus.ID sedang wawancara, Siti sedang mengikat uang logam di ujung bajunya.

Rezeki ini sudah sangat umum menjadi kisah di desa ini. Tak heran, jika di desa ini pun ada jasa penukaran uang saking seringnya uang asing ditemukan.

“Karyawan saya pernah dapat sampai Rp 30 juta,” kata Ichsan. Penyelenggara jasa tukar uang asing ini yang untung. Bahkan kata Ichsan, sampai memiliki beberapa armada bus.

Bana, seorang petani di Desa Bangun sedang menjaga padi dari serangan burung. Sawah Desa Bangun mengandalkan air dari hujan dan limbah yang sudah melalui UPL.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Kalau dibanding bertani, ya jauh. Kalau sampah, uangnya langsung. Kalau tani, nunggu setahun. Itu pun belum tentu ada hasil,” kata Siti Maimanah mantap. Ia pun tak minat bertani, memilih menjadi pemilah sampah.

Di sisi lain, air limbah dari proses produksi kertas ini pun mengairi sawah warga. Bana, salah satu petani di Desa Bangun menuturkan, ia bisa panen padi 2-3 kali dalam setahun karena ada air dari pabrik. Sebab Desa Bangun tak memiliki saluran irigasi dan hanya mengandalkan air hujan (sawah tadah hujan). Setahun hanya bisa panen sekali.

“Sudah menjadi perjanjian di awal, air yang mengalir ke desa ini sudah diolah dari UPL,” tambah Ichsan. Sejauh ini, peruntukan air limbah tersebut digunakan untuk irigasi saja. Beberapa warga juga menggunakan untuk mandi dan mencuci pakaian.

Hanya permasalahan tentu tak sampai di sini. Bagaimana pun, sampah plastik bukan sampah yang bisa terurai di alam melainkan hanya remuk menjadi mikroplastik yang bisa menyusup ke berbagai tempat. Saluran air hingga tubuh manusia.

“Kami akui, soal penanganan sampah masih perlu banyak perbaikan. Terutama sarana dan prasarana pengolahan limbah. Perlu pendampingan lebih lanjut bagi masyarakat dan UKM yang memanfaatkan sampah agar tetap aman,” kata Dr. Ir Diah Susilowati, MT, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur saat ditemui di kantornya. Sarana dan prasarana ini agar sampah yang dibakar aman, tak menimbulkan pencemaran udara yang membahayakan. Juga tempat pengelolaan sampah yang bagus sehingga tak mencemari tanah dan air.

Reporter: Titik Kartitiani
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.