Desa Penari Bernama Olehsari

BANYUWANGI – Suasana magis terasa sekali di ruangan sebuah rumah milik pepunden desa Oleh sari, Glagah, Banyuwangi. Seorang gadis muda berperawakan kurus berkulit sawo matang nampak dikerumuni teman-teman sebayanya. Sementara seorang perempuan parobaya sedang sibuk mendandaninya. Ia memasangkan gelang kaki, sewek (Jarik), kemben, gelang tangan, dan terakhir ia tutupi kepala si gadis dengan kerudung tipis berwarna kuning. Aroma dupa menyeruak masuk di hidung. Agak takut-takut saya memotret Saudah, gadis di depan saya. Seolah saya sedang berada di salah satu scene film horor. Kepalanya menunduk, wajahnya tertutupi kerudung. Tiba-tiba wajahnya terangkat. Kerudung ia sibakkan, dan nampak wajah polosnya menatap keluar jendela. Di mata saya, Saudah tak lebih dari gadis usia belasan yang “ketiban sampur” menggantikan sepupunya, Tika Anjarsari, untuk menari Seblang. Sebuah tanggung jawab berat yang harus ia sandang beberapa tahun ke depan, demi ritual adat yang telah berusia ratusan tahun.

Mbah Asiyah sedang meronce bunga untuk omprok (mahkota) Seblang.

Kehebohan cerita mistis “KKN di desa penari” yang sedang viral di dunia maya, turut mengusik kenangan saya, melemparkan saya ke pengalaman 11 tahun lalu saat bersama dengan seorang teman berkunjung ke Banyuwangi, ke desa penari Seblang. Menurut cerita yang konon nyata itu, kejadiannya ada di kota B, yang langsung dikaitkan dengan Banyuwangi. Tak salah juga, karena sejak dulu kota di ujung timur pulau Jawa itu memang identik dengan hal-hal mistis.

Saudah sedang didandani oleh Mbah Asiyah.

Seperti orang Tengger yang tak mau disebut sebagai orang Jawa, pun juga penduduk asli sini lebih suka menyebut dirinya Osing, bukan Jawa. Osing merupakan leburan kata dari “Sing” yang berarti tidak, menunjukkan sikap tegas mereka dalam menolak penguasaan pihak luar terhadap tanah dan kehidupan mereka. Hal tersebut berlaku sejak jaman penjajahan Belanda hingga Orde Baru. Namun kini Osing mulai melunak, mulai banyak orang dari suku asli Banyuwangi ini yang bekerja menjadi pegawai negeri di instansi pemerintahan.

Gambuh atau pawang meniupkan asap dupa ke wajah penari supaya kerasukan roh halus.

Kami tujuh hari tinggal di Banyuwangi, menginap di rumah salah satu penduduk di desa Kemiren, tetangga desa Olehsari. Sebagian besar rumah penduduk belum mempunyai kamar mandi pribadi, jadi saya harus membiasakan diri mandi di sungai selama disitu. Penduduknya ramah-ramah. Kemanapun kami bertamu, pasti akan disambut dengan hangat, ditawari kopi, makan, hingga tempat menginap, seolah kami sudah lama menjadi bagian dari mereka. Selain keramahan tersebut, ada hal lain yang tak mungkin saya lupakan dari Banyuwangi, yaitu melihat pertunjukkan tari Seblang.

Penari Seblang bergerak mengikuti irama tetabuhan sambil berkeliling mengitari arena, dipandu oleh empat orang tetua desa.

Seblang mengandung arti “sebele ilang” atau “sialnya hilang”. Ritual tarian ini terdapat di dua desa di Banyuwangi, yaitu di Olehsari dan Bakungan. Kedua desa itu mempunyai tata cara ritual yang sedikit berbeda, walaupun sama-sama menarikan Seblang. Olehsari ditarikan seminggu setelah hari raya Idul Fitri, waktunya siang hingga menjelang Magrib, dan penarinya harus gadis yang masih perawan. Sedangkan Bakungan ditarikan seminggu setelah hari raya Idul Adha, waktunya malam hingga menjelang Subuh, dan penarinya harus perempuan yang sudah menopouse. Namun keduanya juga mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama ditarikan selama tujuh hari berturut-turut dalam kondisi sang penari kerasukan (trance) roh leluhur dan bertujuan sebagai wujud syukur atas hasil bumi, upacara bersih desa, dan mengusir bala (bencana).

Penari mengibaskan tangannya ke kiri dan kanan dengan maksud untuk membuang marabahaya dari desa.

Seblang sudah ada di Olehsari sejak tahun 1930, namun dipercaya, Tari Seblang sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, berusia ratusan tahun, hingga sulit dilacak bagaimana asal usul dimulainya. Saya berkesempatan melihat ritual tari Seblang yang dilaksanakan di desa Olehsari. Waktu itu masih suasana lebaran, kami berjalan kaki menyusuri persawahan dan hutan bambu menuju desa Olehsari. Terik panas siang hari tak begitu terasa karena sepanjang jalan setapak banyak rerimbunan pohon meneduhkan suasana. Setelah setengah jam berjalan kaki, akhirnya kami sampai di rumah pepunden desa. Saya langsung masuk ke dalam rumah dan disanalah saya bertemu dengan Saudah, sang penari Seblang. Gadis manis itu menggantikan penari sebelumnya yang juga sepupunya, Tika, yang tidak bisa melanjutkan tariannya hingga hari ketujuh.

Ibu-ibu melantunkan gending Seblang Lukinto yang merupakan gending pertama dan utama dalam Tari Seblang.

Saat itu di hari pertama Tika menari dengan lancar. Namun memasuki hari kedua, keanehan terjadi. Roh leluhur yang dipanggil tak kunjung datang, Tika pun tak juga bisa menari, meski alunan gamelan setia mengiringinya. Hal tersebut berlangsung hingga tiga hari berturut-turut. Padahal kalau sampai ritual ini tidak tuntas, dipercaya akan mendatangkan malapetaka di desa Olehsari. Konon kadang ritual Seblang “diganggu” oleh orang-orang yang tidak ingin Desa ini menjadi aman dan tentram. Akhirnya para tetua desa memutuskan untuk mengganti Tika dengan penari lain, dan disitulah awal Saudah mulai menjadi penari Seblang. Tika dan Saudah masih mempunyai hubungan darah karena dipercaya, penari Seblang haruslah dari keturunan penari-penari Seblang sebelumnya.

Bunga dermo, bunga yang ditancapkan pada lidi yang konon bisa mendatangkan kemakmuran bagi yang memilikinya

Ritual siang itu telah terlebih dulu diawali oleh selamatan di empat titik desa, dua di antaranya adalah makam sesepuh desa, yaitu Ki Buyut Ketut dan Ki Buyut Cili. Setelah itu, barulah ritual puncak dimulai. Beberapa sesepuh menggiring penari ke arena Seblang di pusat desa Olehsari, sambil membawa bara asap dupa, omprok atau mahkota, dan payung peneduh. Sang gambuh atau pawang lalu memasang omprok di kepala penari. Omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Setelah omprok terpasang, mata penari lalu ditutup dan kedua tangannya diminta untuk memegang tampah. Asap dupa kemudian ditiupkan ke wajah penari sembari pawang merapal mantra pemanggil roh halus. Apabila tampah itu terjatuh, berarti roh halus telah memasuki badan si penari. Tak lama tampah itu pun jatuh, dan sang penari yang telah kerasukan (kejiman) itu pun mulai menari dengan mata tertutup diiringi tetabuhan, berkeliling mengitari arena, didampingi ketua adat, dua pengiring laki-laki dan perempuan. Gerakan tariannya monoton seperti membuang tangan ke kanan dan kiri yang mempunyai makna untuk mengusir bala petaka dari desa.

Tundik, yaitu penari Seblang melemparkan selendangnya ke penonton, dan siapapun yang kena, wajib ikut menari.

Musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Ibu-ibu melantunkan gending berbahasa Osing. mengiringi gerak tarian yang kadang menyayat hati. Gending Seblang Lukinto merupakan Gending pertama dan utama dalam Tari Seblang. Di dalam gending ini penuh dengan wangsalan yang mengiris perasaan. Simbolisasi tragedi kehidupan itu lantas terus mengalir dengan dramatis dari tarian demi tarian yang disuguhkan oleh penari Seblang hingga adegan Seblang yang keduabelas. Sebuah simbolisasi tragedi yang sukar untuk dilukiskan.

Setelah selama 4 jam menari Seblang dalam keadaan tidak sadarkan diri, Saudah pun pingsan dan dibopong pulang oleh kerabatnya.

Setelah beberapa lama menari, sampailah pada ritual tundik, yaitu penari melempar selendang ke arah penonton. Siapa yang menerima selendang itu harus mau menemaninya menari di atas pentas. Apabila dia tidak mau atau menghindar, maka si penari akan terus mengejar-ngejar si penerima selendang sampai mau menari, hingga membuat penonton lain pun tertawa terpingkal-pingkal. Selama ritual berlangsung, penonton juga bisa membeli bunga dermo, bunga yang ditancapkan pada lidi yang konon bisa mendatangkan kemakmuran bagi yang memilikinya. Di hari ketujuh atau terakhir, ritual seblang akan ditutup dengan prosesi Ider Bumi atau berkeliling desa.

Sayang saya tidak bisa mengikuti ritual Seblang hingga selesai, karena saya harus pulang ke kota asal keesokan harinya. Namun pengalaman sehari menonton ritual Seblang cukup membuat perasaan saya campur aduk, di antara takut, takjub, tapi juga terselip rasa puas di hati.

Foto dan Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.