Di Balik Islamophobia

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi kantor Pengurus Pusat Muslimat NU, Perpustakaan PBNU dan berdiskusi dengan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di lantai 5 PBNU. Dalam perjalanan tersebut ada satu hal yang menarik pemikiran saya, yaitu Islamophobia. 

Berdasarkan hasil survei Open Soceity Institute (OSI) pada 2004, diketahui delapan dari sepuluh warga Muslim Inggris mengaku merasakan kontradiksi antara menjadi masyarakat yang baik atau menjalankan agamanya.

Survei ini mengambil lebih dari seribu responden. Sebanyak 30 persen responden, merasa tak puas hidup di Inggris, karena media tak secara utuh mengakui Islam. Mereka berpikir bahwa Inggris tak menghormati nilai-nilai keagamaan.

Sejak 2002, Islamophobia semakin terasa di kalangan warga serta pemerintah Inggris. Sebanyak 80 persen umat Islam Inggris mengaku sudah menjadi korban dari Islamophobia sejak serangan 11 September 2011. Serangan ini masih menjadi misteri karena seperti diketahui Amerika punya keamanan super kuat tapi bisa bobol. Banyak yang menduga ini hanya rekayasa untuk dalil menyerang teroris dan menyudutkan Islam. Diskriminasi paling banyak terjadi di bandara Inggris. Mencengangkannya, sejak tahun 2001 sampai 2003, jumlah warga Muslim yang diperiksa berdasarkan UU Anti Terorisme 2000 meningkat sampai 302 persen.

Data yang dipaparkan di atas memang data lama. Namun tujuan utama saya bukan menampilkan data tersebut tapi lebih kepada rentetan peristiwa yang membuat Islamophobia meningkat di Inggris. Negara yang menyebutkan dirinya negara maju tapi dalam praktiknya sering juga melanggar hak kebebasan beragama.

Data aksi intoleransi ini tidak terlalu mengagetkan karena aksi tersebut sudah mulai sejak 1970-1980, saat isu alasan kebencian masyarakat Inggris ke penduduk muslim karena mereka adalah pendatang.

Melihat fakta diatas, kita bisa melihat bagaimana kebencian terhadap penduduk beragama Islam terus dirawat oleh sebagian orang. Meskipun kita tak bisa menutup mata bahwa banyak juga masyarakat Inggris yang toleran. Islamophobia diakui atau tidak memang ada unsur kesengajaan dari beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka membuat serangkaian peristiwa dan kemudian dari peristiwa tersebut dibuat untuk menyerang Islam.

Berawal dari peristiwa WTC, pelabelan terhadap Islam sebagai agama “teroris”, “ekstrimis”, “intoleran”, dan lain-lain yang serupa mulai bermunculan. Ajaran Islam dipandang bahkan dituduh menjadi penyebab dari munculnya tindak kekerasan yang diklaim dilakukan oleh beberapa oknum kelompok Islam yang tidak bertanggungjawab. Munculnya Islamophobia, perasaan anti dan takut terhadap Islam, menjadi begitu terasa di negara-negara Amerika dan Eropa setelah tragedi WTC.

Di Jerman misalnya, setidaknya ada 950 kejadian serangan kepada sejumlah umat muslim dan masjid sepanjang tahun 2017. Lalu di Spanyol, dilaporkan ada 500 kejadian yang menyasar masjid bahkan diantaranya termasuk perempuan dan anak-anak (VIVA, Maret 2018).

Selain itu, propoganda anti-Islamisme juga massif dilakukan oleh media terutama di Eropa. Media mengidentifikasi Islam dengan sosok Osama Bin Laden (Alqaeda) dan ISIS di Timur Tengah.

Islam dianggap kaku dan tidak sesuai dengan pola hidup bangsa Eropa yang menjunjung tinggi kebebasan, ini menandakan kurangnya referensi Islam yang ramah dan penuh cinta di hati mereka. Media-media ini sering tidak adil dalam memberitakan suatu kejadian. Seperti BBC, media Inggris ini sering membuat narasi bahwa kerusuhan di Suriah adalah kesalahan utama dari Presiden Bashar Al-Assad dan mengatakan ia anti perubahan. Sementara berita dari musuh Bashar tak sekeras itu. Akibatnya, di Indonesia sendiri sempat termakan informasi dari media ini dan membuat gerakan save Aleppo. Peserta aksi menuduh suami dari Asma Al-Assad ini menggunakan senjata kimia. Namun belakangan muncul pernyataan dari warga setempat yang mengucapkan terima kasih kepada Bashar dan mengelukan namanya. Mereka bersyukur karena bisa hidup normal kembali. Suara pendemo itupun hilang dan tak tahu muaranya lagi.

Begitu juga saat memberitakan penembakan membabi buta di Amerika Serikat yang dilakukan oleh oknum beragama Islam maka langsung keluar diksi dalam berita bahwa itu teroris. Namun perlakuan berbeda saat pelakunya non muslim tidak disebutkan agamanya tapi malah mengatakan pelakunya mengalami gangguan mental saja.

Akibatnya, Islamophobia kini menyebar ke seluruh bagian dunia. Islam dalam gambaran mereka hanya dipeluk oleh orang yang mudah marah, miskin, terbelakang dan konservatif.

Persepsi ini diikuti oleh fakta di lapangan adanya sekelompok orang yang bertindak semaunya sendiri dengan membawa label Islam seperti ISIS, Boko Haram. Brigade Abdullah Azzam, Abu Sayyaf, Tentara Islamis Aden-Abyan, Al-Badr, Al-Gama’a Al-Islamiyya, Al-Ittihad Al-Islamiyya, Al-Qaeda, Ansar Al-Islam dan Jabhat Al-Nusra. Padahal menurut Pakar Politik Timur Tengah Dina Sulaiman, kelompok yang dianggap teroris oleh Amerika dan Inggris seperti ISIS dan Jabhat Al-Nusra ternyata memiliki persenjataan yang dibuat oleh Amerika dan Israel. Senjata-senjata itu ditemukan oleh pasukan militer Suriah saat menyerang markas ISIS dan Jabhat Al-Nusra. Pertanyaan selanjutnya, dari mana para penjahat perang ini mendapatkan senjata-senjata itu? Seperti kita ketahui semua bahwa jual beli senjata harus melalui proses yang sangat teliti. Sangat dimungkinkan ada konspirasi di sini.

Apa Itu Phobia?

Phobia atau fobia dapat diartikan ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Rasa ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu tersebut berdampak pada reaksi emosional dan fisik. Islamophobia adalah ketakutan dan kekhawatiran berlebihan kepada umat Islam dan ajarannya. Dewasa ini, Islamophobia tidak lagi hanya menyasar masyarakat Eropa dan Amerika saja, tetapi ia juga telah menyebar ke penjuru dunia, ada di sekeliling kita hari ini.

Bila kita mau kritis, seperti disinggung sedikit sebelumnya, bahwa sebenarnya aksi kekacauan di negara-negara Islam di Timur Tengah tak bisa lepas dari perbuatan atau kebijakan Pemerintahan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis. Amerika misalnya, selalu membela Israel meskipun harus mengorbankan jutaan rakyat Palestina. Israel ibarat anak manja yang selalu dituruti kemauannya oleh Amerika Serikat. Mereka juga tidak menyebutkan kalau agama Yahudi adalah radikal, intoleran dan suka membunuh. Peran Inggris lebih besar lagi, lewat deklarasi Balfour tahun 1948 Israel berdiri di tanah Palestina. Ini suatu bentuk kolonialisasi dengan support Inggris. Hingga saat ini, Israel terus melakukan pembangunan permukiman baru bila tak mau dikatakan pencaplokan.

Bergeser ke Yaman, seperti dikutip dari media LiputanIslam.com (Maret 2019), Amerika dan Prancis membantu Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam menembak warga sipil lewat pemasokan senjata dan pengiriman intelijen. Perang Yaman sudah terjadi sejak bulan september 2014. Perang ini antara Ansarullah dengan loyalis Presiden tersingkir Yaman Abdul Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Arab Saudi dan UEA. Menurut laporan PBB pada pertengahan Juni 2019 dan terhitung sejak awal 2016 perang ini sudah menewaskan 70 ribu orang.

Mereka negara adi kuasa ini juga tak menyebutkan aksi ini (membantu Arab Saudi) sebagai kejahatan. Namun yang pasti, narasi yang berkembang di dunia yaitu negara-negara Islam suka berperang dan dekat dengan kekerasan.

Tujuannya tak lain yaitu untuk memberikan pengalaman negatif seorang individu atau kesan buruk saat berinteraksi di ruang publik dengan komunitas muslim. Dan dari sini nanti diharapkan muncul Islamophobia.

Penyebab lain munculnya Islamophobia datang dari orang muslim yang bertindak kaku dan tidak bisa kompromi dengan masyarakat luas. Gerakan ini mudah dijumpai karena biasanya mereka mudah mengkafirkan muslim lain yang berbeda dengan mereka. Kelompok ini sering menampilkan politik identitas. Tujuan politik dan mencari keuntungan duniawi lain acap kali mereka bungkus dengan motif agama.

Penyebab Islamophobia selanjutnya adalah persaingan ekonomi dan pekerjaan. Contoh kecilnya yaitu persaingan dagang antara dua orang yang berbeda agama. Sering kali agama lain dijelekkan agar pelanggannya lari. Contoh besarnya yaitu persaingan penjualan minyak dan pengaruh kawasan antara Iran dan Amerika Serikat lewat Arab Saudi.

Belajar dari sejarah Eropa Timur bisa dipastikan Islamophobia tidak akan menghapus agama Islam dari muka bumi. Hanya saja Islamophobia tak boleh dianggap enteng. Kasihan pemeluk agama Islam hidupnya tak tenang. Menurut Nurcholis Majid dalam buku Islam, Doktrin dan Peradaban menjelaskan bahwa dulu di Eropa Timur pernah ada upaya serius untuk menghapus agama di muka bumi. Usaha ini dipelopori oleh Marxis-Leninis, kelompok ini bersungguh-sungguh sekali untuk menghapus agama dari peranan agama. Meskipun Marx dan pengikutnya mengkalim gerakan ini sangat ilmiah, ternyata mereka tetap gagal dalam menghapus agama.

Ini menandakan bahwa agama merupakan kebutuhan manusia dan tidak bisa hilang dengan pembunuhan dan intimidasi. Dari sini kita juga dapat mengatakan beragama atau percaya kepada suatu wujud Mahatinggi yang mengusai alam sekitar manusia dan hidup manusia sesuatu yang sangat alami pada manusia atau bisa disebut naluri. Hanya saja wujud Mahatinggi ini berbeda dalam penyebutannya sesuai bahasa setempat. Dalam bahasa Indo-Eropa disebut Deva, Theo, Dos, dan Do serta Khoda dan God. Sedangkan dalam bahasa-bahasa semitik disebut dengan Ilah, ILL, El, dan Al. bahasa Ibrani menyebutnya Yahweh.

Berbicara tentang agama memerlukan suatu sikap ekstra hati-hati. Apalagi terkait Islamophobia. Sebab, sekalipun agama merupakan persoalan sosial, penghayatannya amat bersifat individual. Hal ini karena yang dipahami dan dihayati setiap pemeluk agama berbeda-beda. Tergantung latar belakang pendidikan, lingkungan dan bacaan individu tersebut. Sehingga kadang agama menjelma menjadi sesuatu yang sangat pribadi dan menarik emosional.

Namun hal ini bukan berarti pintu untuk mendiskusikan agama sudah tertutup rapat. Masih ada kemungkinan untuk membahas agama sebagai sesuatu yang umum dan obyektif. Dari pembicaraan ini diharapkan nanti muncul kesepakatan para penganut agama atau titik temu, meskipun itu bukan perkara mudah tentunya.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Berangkat dari pengertian tersebut agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama” (religious). Dari sini kita dapat memberikan gambaran bahwa Islamophobia menyalahkan konsep dasar sosial.

Para pakar memiliki beragam pengertian tentang agama. Secara etimologi, menurut Moqsid Ghozali kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sanskerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.

Kembali ke Islamophobia, setelah kita memahami bahwa gejala Islamophobia tidak muncul secara tiba-tiba dan tujuan beragama untuk mendatangkan kedamaian serta menjadi kebutuhan maka kita perlu memahami juga cara menolak Islamophobia. Melawan Islamophobia harus dilakukan secara masif dan terstruktur, tentunya tak boleh lepas dari kerangka ilmiah.

Cara yang efektif menurut saya dalam mengurangi Islamophobia adalah menawarkan konsep Islam yang terbuka, toleran, dan tidak berlebihan dalam bersikap alias fanatik buta. Konsep-konsep ini tidak boleh berhenti pada rencana saja tapi juga harus disosialisasikan ke seluruh penjuru dunia melalui berbagai media modern seperti website, facebook, instagram, twitter dan lainnya.

Bagi akademisi Islam, mereka harus aktif memperjuangkan konsep ini di kampus-kampus bersama mahasiswa dan menulis buku atau jurnal dalam berbagai bahasa. Buku-buku tersebut dikirim ke berbagai negara sebagai bukti persahabatan. Begitu juga menulis di jurnal, baik jurnal nasional maupun jurnal internasional. Tujuannya adalah mempermudah semua kalangan untuk mengakses informasi Islam yang damai dan penuh cinta.

Di samping itu, peran mubalig juga tak kalah penting. Organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah perlu memperbanyak tokoh mudanya yang ahli dalam berbagai bahasa dunia. Hal ini supaya mereka bisa bergaul dengan banyak orang untuk membawa misi Islam Rahmatal Lil Alamin. NU punya contoh dalam hal ini yaitu KH Yahya Cholil Tsaquf yang sering bicara di kancah Internasional. Ada juga Yenny Wahid yang memiliki masa depan cerah untuk pergaulan Internasional. Namun untuk ukuran NU dengan jumlah massa ratusan juta, ini jauh dari ideal atau masih sangat sedikit.

Muhammadiyah juga punya tokoh sekelas Din Syamsudin dan Haedar Natsir yang punya jaringan luas. Modal lain Muhammadiyah yaitu mereka memiliki kampus besar seperti Universitas Muhammadiyah Malang yang bisa mencetak ratusan kader dengan pergaulan Internasional.

Ini bagi saya belum cukup, Indonesia punya peluang jauh lebih besar dalam melawan Islamophobia di dunia. Bekalnya sebenarnya cukup besar yaitu puluhan ribu pesantren-pesantren di Nusantara. Pesantren bisa berperan dengan cara mengajak pemuda lintas agama dan negara mengunjungi pesantren. Pesantren, terutama yang berkaitan dengan NU punya kecintaan luar biasa pada negaranya dan kedamaian. Ambil contoh Pesantren Tebuireng melakukan program pertukaran pelajar dengan lembaga pendidikan Finlandia. Secara tak langsung ini sudah memberikan pandangan baru tentang Islam kepada masyarakarat dunia.

Semua yang termaktub di atas adalah konsep, yang terpenting dari konsep adalah penggeraknya. Penggeraknya adalah tokoh muslim yang punya wawasan luas tentang Islam. Sehingga dalam tindak tanduknya sudah tercermin ajaran Islam yang cinta damai. Dalam bahasa lain, melawan Islamophobia itu penting tapi yang tak kalah penting adalah keinginan dari setiap pribadi untuk menerapkan ajaran Islam dalam dirinya dan pastinya tidak merugikan pihak lain. Banyak ajaran kasih sayang dalam Islam yang bisa dijadikan model ajaran Islam. Allahu Ma’i. Waallahu A’lam Bisshowaf.

Penulis : Syarif Abdurrahman

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.