READING

Di Blitar, Kafe Ini Pelayannya Bule dari Berbagai ...

Di Blitar, Kafe Ini Pelayannya Bule dari Berbagai Belahan Dunia

Sebuah kafe terkadang bukan hanya soal menu, tapi juga soal pengalaman dan kenangan. Ons Grootouders Kafé, Blitar menyuguhkan itu.

BLITAR– Terletak kira-kira 3km dari Candi Penataran, Kabupaten Blitar. Berada di dalam kebun kopi seluas 250 hektar, Ons Grootouders Kafé menyuguhkan menu dan kenangan. Kenangan ketika noni-noni Belanda ngopi-ngopi cantik dan para toean keboen sedang membicarakan kenaikan hasil panen kopi di Hindia Belanda. Lokasi yang sama persis dengan kebun kopi, gudang, hingga pabrik kopi zaman Belanda. Pun pelayannya datang dari berbagai belahan dunia. Oleh sebab itu, nama kafe ini kurang lebih berarti kafe kakek nenek kita.

Seorang pelayan dari luar negeri sedang menyeduh kopi di kafe. Salah satu program Keboen Kopi Karanganjar untuk belajar tentang kopi.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Mbak, boleh minta tisu?” kata Sausan (12tahun), salah satu pelanggan asal Kota Kediri.
Pardon me?” kata perempuan yang melayani. Seorang berkulit terang dengan rambut ikal kemerahan.
“Boleh minta tisu?” kata bocah itu mengulangi.
I’m so sorry. I can not speak Bahasa Indonesia,” katanya dengan sopan dan meminta pelayan lain untuk menerjemahkan. Merasa tak mengerti bahasanya, justru malah menjadikan bocah itu takjub ketika pelayannya orang asing dan ramah. Itu pengalaman sederhana yang disuguhkan oleh kafe ini.

“Kami memang membuka magang orang luar negeri belajar kopi di sini. Salah satu caranya ya dengan jadi pelayan kafe,” kata Wima Brahmantya, pendiri sekaligus pemilik Ons Grootouders Kafé. Ketika pelayannya bule, ada hal menarik yang kerap terjadi. Selain pelayannya berbahasa asing, juga pelanggannya menjadi salah tingkah. Bahkan malu-malu untuk memesan. Padahal sebagai pelayan, mereka profesional melayani pelanggan.

Pizza dengan kopi dan gula merah menjadi salah satu menu coffee pairing yang layak dicoba.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Kafe ini dibangun dengan semangat untuk memberi pengalaman minum kopi di kebun kopi zaman Belanda. Berada di dalam De Karanganjar Koffieplantage, sebuah kebun kopi yang dibangun zaman Belanda dan masih berproduksi hingga kini. Mulai dari budidaya, panen, hingga menjadi green bean yang siap diroasting. Menurut Wima, hasil panen dari kebun ini tak semua untuk kafe, tapi banyak yang dijual ke luar. Pun kafe ini tak hanya menyajikan kopi dari kebun, juga mengambil green bean dari luar untuk menambah keragaman single origine.

“Di sini unggulannya Robusta kualitas bagus. Selain itu ada Arabica dan Excelsa,” kata Wima. Excelsa merupakan salah satu varietas dari kopi Liberica (Coffea liberica) dengan nama C. liberica var. Dewevrei. Di Indonesia, jenis Liberica termasuk yang jarang dibudidayakan dibandingkan dengan Robusta dan Arabica. Di Keboen Kopi Karanganjar, Excelsa salah satu produk unggulan yang ditawarkan selain Blitar Robusta dengan citarasa khas. Kopi Blitar Robusta yang disajikan di sini terasa kuat. Maka jika pelanggan yang ingin mendapatkan cita rasa lebih ringan, Excelsa bisa menjadi pilihan.

Sebuah kafe yang menyuguhnkan masa lalu.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Penyajian dengan 6 Teknik Seduh

Kafe ini sudah beroperasi sekitar 3 tahun dengan menu utama kopi. Bila ingin memesan kopi, pengunjung akan disodori menu beragam single origine yang bisa dipilih berikut 6 teknik seduh yaitu tubruk, V dripp, frenchpress, V60, Mokapot, dan Syphon. Bila pengunjung bingung dengan teknik tersebut, silakan menanyakan pada pelayan yang akan menjelaskan dengan senang hati. Sebab kafe ini selain menyajikan kopi juga ingin memberi literasi tentang kopi. Masing-masing single origine kopi Nusantara akan optimal dengan teknik seduh yang berbeda. Optimal dari aroma, rasa, dan after taste-nya. Meski kemudian soal rasa, akan kembali pada individu untuk menyukainya.

Untuk mencicipi kopi, cukup dengan Rp 10.000,-/cangkir untuk kopi tubruk. Sedangkan untuk teknik seduh lainnya mulai dari Rp 12.000,-/cangkir hingga Rp 45.000,-/cangkir tergantung jenis kopinya. Harga paling tinggi untuk kopi Papua Wamena dengan teknik seduh Syphon. Selain harga bahan dasar kopinya juga lebih tinggi dibanding jenis kopi yang lain yang tersedia, teknik seduh ini membutuhkan kopi lebih banyak dan hasilnya pun lebih banyak. Jika ingin menambahkan susu dan es, cukup dengan Rp 3.000,-.

Bagi peminum kopi yang ingin menyelami rasa kopi, tak membutuhkan gula atau tambahan apapun. Tapi bagi pengunjung yang ingin citarasa lain, kafe ini juga menyajikan gula merah dan menu kopi blend lainnya yaitu cappuccino dan frappuccino.

Waffle dan kopi salah satu menu yang bisa dipilih.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Camilan Lokal dan Internasional

Minum kopi tak afdol tanpa camilan. Di sini tersedia beragam menu lain baik main menu maupun makanan ringan. Main menu bisa mencicipi pizza. Sedangkan menu Nusantara mulai dari nasi goreng, bihun goreng, dan kwetiau. Harganya pun terjangkau, antara Rp 15.000,-/porsi hingga Rp 25.000,-/porsi sudah plus PPN.

Sedangkan makanan ringan, bisa memilih waffle dengan berbagai topping, pisang goreng, dan lain-lain. Bila kurang, bisa memesan menu di kafe sebelahnya yang menyediakan menu Nusantara dan bisa dimakan di kafe ini. Ko Res Resto, berasal dari Perangko dan Resto, sebuah restoran yang menyediakan menu Nusantara beserta koleksi perangko yang ditempel di dindingnya, layaknya museum perangko. Bagi penggemar filateli akan bahagia mampir di kafe yang bersebelahan dengan Grootouders. Beda manajemen namun masih dalam satu kawasan.

Selamat mencoba. (Titik Kartitiani)

print

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.