READING

Di depan Pusara Sarinah Guruh Bersimpuh

Di depan Pusara Sarinah Guruh Bersimpuh

TULUNGAGUNG- Dengan bersimpuh Guruh Soekarno Putra (66) tenggelam dalam doa. Kepalanya tertunduk larut dalam suasana. Doa yang didaraskan memang tidak terdengar. Namun mimik muka putra ragil Bung Karno dengan Fatwamati itu terlihat begitu khidmat. Seiring rampungnya doa, kedua matanya mengerjap, terbuka.

Dari pusara Raden Hardjodikromo, kakek Soekarno dari garis ayah, yakni Raden Soekemi Sosrodihardjo, pendiri grup kesenian Gencar Swara Perkasa (GSP), Swara Mahardhika, Guruh Gipsy dan Gang Pegangsaan itu beralih ke makam Sarinah. Di depan pusara pengemong Bung Karno kecil itu, Guruh kembali berdoa.

“Kemarin saya juga berziarah ke makam Bapak (Soekarno) di Blitar, “kata Guruh ditempat pemakaman umum Kelurahan Kepatihan, Kabupaten Tulungagung Jumat (5/4/2019). Meski dimata Bung Karno memiliki kedudukan istimewa, kuburan Sarinah tidak berada dalam satu komplek cungkup makam leluhur Soekarno. Makam Sarinah menjadi satu dengan kuburan warga umum lainya.

Guruh mengatakan ziarahnya tidak terkait dengan pencalonannya sebagai anggota legislatif DPR RI tahun 2019 dari Daerah Pemilihan VI (Kediri, Tulungagung dan Blitar). Apa yang dilakukannya merupakan tradisi rutin keluarga.”Enggaklah (bukan ritual jelang pemilu), “bantahnya. Ziarah ditutup dengan menabur bunga ke atas pusara.

Selain nyekar adik kandung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri itu juga bertemu dengan pendukung dan simpatisannya. Dari internal partai yang memberangkatkannya (PDI P), Guruh akan melawan sejumlah nama beken yang tidak enteng. Sebut saja Arteria Dahlan yang saat ini menjadi anggota DPR RI. Kemudian Eva Kusuma Sundari dan Budi Yuwono.

Termasuk juga personil grup Trio Libels, Ronny Sianturi juga menjadi kompetitornya. Dalam kunjungan di Kota Marmer kali ini Guruh juga menyempatkan mampir ke sejumlah tempat wisata.

Sarinah Sang Mentor Jelata

“Pengasuh saya bernama Sarinah. Ia “Mbok” saya. Ia membantu ibu saya, dan dari dia saya banyak menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiripun orang kecil. Tetapi budinya selalu besar”.

Dalam kata pendahuluan buku “Sarinah, Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia” yang ditulis 3 November 1947, paparan Bung Karno tampak begitu menghormati Sarinah. Saking hormatnya, buah pikirnya itu dinamainya kitab Sarinah.

“Atas permintaan banyak orang, apa yang saya kursuskan itu kemudian saya tuliskan, dan saya lengkapkan pula. Buku “Sarinah” inilah hasilnya, “tulis Bung Karno.

Tidak hanya itu. Atas prakarsa Bung Karno, sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Menteng Jakarta juga diberinya nama Sarinah. Gedung departement store setinggi 74 meter yang terdiri dari 15 lantai itu berdiri pada tanggal 17 Agustus 1962. Saat itu Sarinah menjadi gedung pencakar langit pertama di Jakarta.

Meski telah menjadi presiden pertama RI, Soekarno tidak bisa melupakan Sarinah. Ingatan kecilnya tentang bagaimana mengenal dan mencintai massa rakyat atau rakyat jelata dari Sarinah, terpatri demikian kuat.

“Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia pada umumnya”.

Dalam buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adam, Bung Karno mengatakan bagaimana dirinya begitu memegang pesan Sarinah. Gemblengan petuah itu selalu diutarakan Sarinah setiap pembantu rumah tangga itu sedang memasak dan Soekarno kecil duduk disebelahnya.

“Sarinah bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku,”kata Soekarno (Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, hal : 34).

Selain Blitar, masa kecil hingga remaja Bung Karno memiliki irisan sejarah dengan wilayah Mojokerto, Tulungagung dan Surabaya. Pada usia 4-5 tahun Bung Karno pernah diasuh kakeknya di wilayah Kelurahan Kepatihan Kabupaten Tulungagung.

“Mbok Sarinah itu mbok mban (pengasuh) eyang Soekarno (Bung Karno). Kalau zaman now semacam suster atau encus,kata Puti Guntur Soekarno pada 27 Februari 2018 lalu. Usai menziarahi makam leluhurnya, Puti yang kala itu mencalonkan diri sebagai wakil gubernur Jawa Timur juga bersimpuh di depan pusara makam Sarinah.

Bahkan melalui pemerintah daerah setempat (pemkab Tulungagung), saat itu sempat muncul wacana memugar makam Sarinah. Hal itu mengingat besarnya jasa dan peran Sarinah terhadap Bung Karno. Namun sayang, dalam pertarungan pemilihan gubernur Jawa Timur 2018 itu nasib cucu Bung Karno dari Guntur Soekarno Putra kurang beruntung. (Mas Garendi)


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.