READING

Di Jombang Film The Santri disebut Tayang Setahun ...

Di Jombang Film The Santri disebut Tayang Setahun Lagi. Penonton Indonesia Urutan Paling Belakang

JOMBANG- Teka teki kapan pecinta film tanah air bisa menikmati film The Santri terjawab sudah. Film besutan sutradara muda Livi Zheng dipastikan baru bisa dinikmati di layar perak secara massif pada Oktober 2020 atau setahun lagi.

Dan masyarakat Indonesia bukan menjadi penonton pertama. Begitu penggarapan selesai April 2020, rencananya film The Santri akan “berjalan jalan“ dulu ke mancanegara, untuk dicicipi lebih dulu oleh masyarakat  film Amerika Serikat, Korea dan Cina.  

“Pemutaran di Indonesia kira-kira bulan Oktober 2020, “ujar Eksekutif  Produser Film The Santri Imam Pituduh saat ditemui di Pesantren Darul Ulum Peterongan, Senin (21/10).

Adapun pengambilan gambar (syuting) film The Santri baru akan dimulai November 2019. Syuting kali ini  untuk mengambil gambar secara penuh. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan teaser atau cuplikan yang kemudian meramaikan media sosial.

Untuk itu Tim Managemen The Santri terus mendatangi sejumlah pondok pesantren guna mencari calon pemain. Di Pesantren Kempek Cirebon, Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, dan Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang, mereka mengcasting banyak santri yang dinilai berbakat main film.

Seleksi santri Jawa Timur berlangsung di Kantor PWNU Jawa Timur. Menurut Imam Pituduh, Selasa ini (22/10) tim managemen juga akan mengunjungi kampus Universitas Islam Malang (Unisma).

Selain silaturahmi sekaligus casting calon pemain, kehadiran tim managemen juga dalam rangka merayakan Hari Santri bersama ribuan santri.

“Ada casting, tumpengan dan doa bersama ribuan santri. Kita ini kan mencari barakah doa juga, “terang Imam Pituduh. Film The Santri menargetkan mayoritas pemain berasal dari kalangan santri.

Karenanya pesantren menjadi jujukan utama. Menurut Imam Pituduh, saat ini sudah ada 160 santri yang mengikuti casting di PWNU Jatim. Di Ponpes Darul Umum Jombang casting berlangsung di gedung Undar (Universitas Darul Ulum) yang diikuti sekitar 50 santri putra dan putri.  

Baik di PWNU Jatim maupun di Jombang, Livi Zheng bersama saudara kandungnya Ken Zheng, menurut Imam ikut memantau langsung jalannya casting.

“The santri kan memerankan tentang santri, diharapkan sebagian besar pemainnya adalah santri. Ini tujuan casting di pesantren dan kampus-kampus NU. Meskipun tidak seratus persen. Untuk mencari talenta-talenta santri maka kita harus datang ke pesantren dan kantor NU, “jelas Imam.

Dalam kesempatan itu Imam juga mengatakan pihaknya sudah berkomunkasi dengan Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum KH Hasib Wahab. Hanya saja pihak Bahrul Ulum belum memberikan waktu untuk casting.

Begitu juga dengan pihak ponpes Tebuireng. Imam mengaku sudah bertemu dengan KH Abdul Hakim selaku wakil Ponpes Tebuireng. Namun tim managemen tidak akan melakukan casting di Ponpes Tebuireng dengan pertimbangan Tebuireng juga sedang proses membuat film.

“Untuk Tebuireng kemarin saya sudah ketemu sama Gus Kikin (KH Abdul Hakim, Wakil Pengasuh Tebuireng. Saya bilang tidak enak melakukan casting karena Tebuireng juga proses buat film, “jelasnya.

Di depan para santri Darul Ulum Jombag,  Imam Pituduh menyebut mereka yang nyinyir dengan film The Santri sebagai golongan minhum, yakni golongan syirik.

“Yang membully itu minhum.  Itu tandanya tidak mampu atau mereka takut filmnya tersaingi oleh The Santri. Gitu aja kok repot, “kata Imam yang juga alumni Ponpes Tebuireng.

Livi Zheng mengaku senang saat pertama kali ditawari menggarap film The Santri. Ajakan itu langsung diiyakan. “Senang banget dipercaya PBNU untuk menjadi sutradara The Santri, “cerita Livi saat berada di Darul Ulum Jombang.

Livi juga curhat, bagaimana dirinya saat hendak menjadi sutradara, banyak orang yang meragukan kemampuannya. Sebagai perempuan dan orang Asia, menurut dia menjadi salah satu faktor penyebabnya. Apalagi di Amerika Serikat persaingan film sangat ketat.

“Tapi kita harus tetap fokus pada cita-cita dan jalan terus, “paparnya. Livi juga mengaku selalu tertarik mempromosikansegala hal yang berbau Indonesia ke masyarakat dunia. Hasrat itu ia wujudkan dalam karya sinema yang selalu mengikutsertakan unsur Indonesia.

Livi mencotohkan sulitnya mencari nasi pecel dan rawon di negara Cina. Fenomena itu menurut dia menunjukkan Indonesia itu kaya, namun promosi kekayaan itu ke dunia masih kurang. Ia juga mengambil contoh masih banyak masyarakat Amerika yang tidak mengerti dengan budaya Indonesia.

“Makanya kita sering masukkan unsur Indonesia dalam film-film kita, “jelasnya.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.