READING

Di Rumah Masa Kecil Bung Karno, Seniman Blitar Men...

Di Rumah Masa Kecil Bung Karno, Seniman Blitar Mengukir Epos Ramayana

Pohon Gada di depan Istana Gebang Kota Blitar, yakni rumah masa kecil Bung Karno tiba tiba tumbang.Tidak hanya mengejutkan. Segala tafsir langsung bermunculan. Mulai yang masuk akal, yakni usia pohon yang tua, sampai tafsir paling liar, yakni tanda pergantian kekuasaan.   

BLITAR- Dalam memahat, Amang Pramusudirjo (70) mengaku harus ekstra hati hati. Terutama saat menangani motif yang berukuran kecil. Tetua komunitas seniman Pring Galih Blitar itu harus memilih treatment lembut. Irama pukulan gandennya (martil kayu) harus pas. Begitu juga mata tatahnya, harus tepat sasaran.

“Kalau terlalu keras mukulnya bisa patah. Apalagi sampai meleset, “tutur Amang tanpa mengalihkan pandangan dari permukaan kayu. Meski mulutnya berbicara, tangan Amang tak berhenti bergerak. Setiap ganden terayun, tatah yang ada ditangan kirinya mencongkel kayu lebih dalam. Geraknya teratur sekaligus terukur. Pelan namun pasti.

Selain renyah, menurut dia, kayu Gada juga memiliki serat yang besar. Karenanya pukulan yang terlalu keras hanya akan merusak motif ukiran, yakni terutama ukuran kecil. “Kayu Gada beda dengan kayu jati yang lebih ulet.  Kayu ini seratnya besar dan renyah,  “kata Amang.

Bersama empat orang rekannya sesama seniman Blitar, Amang berusaha menyulap gelondongan kayu Gada di Istana Gebang menjadi sebuah karya seni. Kayu dengan nama latin Kigelia Africana itu diubahnya menjadi kentongan berelief Epos Ramayana.

“Setidaknya lebih bisa dinikmati daripada hanya dibuat mebelair, “katanya sembari tertawa.

Memang masih jauh dari sempurna. Kata Amang garapannya masih dibawah 50 persen. Kendati demikian alur relief Ramayana sudah bisa dibaca. Fragmen cerita dimulai dari ukiran figur Dewi Sinta yang sedang bercakap dengan peminta minta. Pahatan motif pepohonan, ranting, dan dedaunan juga ada disana.

Dalam Epos Ramayana, pengemis yang berdialog dengan Sinta adalah Rahwana yang sedang menyamar. Nampak di bagian lain Sri Rama sedang memburu kijang. Titisan Dewa Wisnu itu tidak menyadari belahan hatinya sedang diincar Raja Alengka Diraja.

“Dalam kisah ini sumber permasalahan berawal dari penculikan, “kata Amang mencoba menafsirkan. Rahwana sukses membawa kabur Sinta. Narasi itu dituangkan ke dalam relief  Rahwana menyampirkan tubuh Sinta dipundaknya. Di  permukaan kayu lebih atas, tampak fragmen Rahwana dihadang jatayu atau burung garuda.

Jatayu yang hendak menyelamatkan Sinta bertempur melawan Rahwana. Namun burung garuda itu berhasil dipukul Raja Alengka hingga tersungkur jatuh ke bumi. “Dewi Sinta saya terjemahkan sebagai ibu pertiwi. Sedangkan jatayu sebagai  Pancasila, “katanya.

Ibu pertiwi telah ternodai. Kata Amang telah dikoyak koyak oleh nafsu angkara. Akibatnya bencana terjadi dimana mana, baik bencana alam gunung meletus, tsunami, gempa bumi, banjir bandang, maupun bencana akibat ulah manusia.

Sementara jatuhnya jatayu ditafsirkan semakin jauhnya masyarakat Indonesia dari nilai Pancasila. “Coba lihat saja bagaimana bencana selalu melanda daerah yang masyarakatnya selalu bertikai, konflik, “paparnya. Pada konteks pilpres 2019, kisah pertempuran Rahwana dengan Rama juga ditafsirkannya sebagai pertarungan dua kubu capres.

Hanya saja dia tidak menyebut satu kubu capres sebagai Rahwana dan kubu capres lain sebagai Sri Rama. Amang hanya mengatakan kedua duanya sama sama memiliki nafsu berkuasa dengan takaran yang berbeda. “Bisa ditafsirkan begitu juga. Ditafsirkan lain juga boleh, silahkan bebas, “katanya.   

Relief epos Ramayana itu dipungkasi dengan pahatan datangnya Anoman. Ksatria kera putih itu ditafsirkan sebagai nom noman atau dalam terminologi Jawa, pemuda. Datangnya pemuda, kata Amang yang akan menyelamatkan ibu pertiwi. Selain itu di akhir cerita juga dipahatkan figur punakawan Petruk yang disimbolkan rakyat jelata.

Amang hanya ingin menyampaikan pesan, kekuasaan harus selalu mendengarkan suara rakyat. Seniman yang selalu terlibat dalam kegiatan acara Haul Bung Karno itu berharap pengerjaan karya seni itu bisa rampung sebelum pemungutan suara 17 April 2019.  

Rencanannya,  kentongan yang diberi nama Bang Bang Wetan Jolosengoro, yakni diambil dari nama Kelurahan Gebang dan Kecamatan Sananwetan akan dipasang disebelah gong perdamaian. Namun sebelum dipasang, dirinya bersama para seniman Blitar akan menyerahkan ke Pemkot Blitar.

“Tujuanya untuk mengingatkan setiap pemangku kekuasaan di Kota Blitar, “katanya.

Pohon Langka

Pohon Gada tergolong tanaman langka. Di Indonesia hanya tumbuh di tiga tempat, yakni Istana Gebang Kota Blitar, Istana Bogor dan Kebun Raya Purwodadi Pasuruan. Di Kota Blitar, penanaman pohon Gada berlangsung 31 Juni 1970, yaitu tepat 40 hari wafatnya Bung Karno.

Tidak ada angin dan tidak ada hujan, pohon yang sudah bertahun tahun meneduhi rumah masa kecil Bung Karno itu roboh. Peristiwa mengagetkan itu terjadi  pada akhir bulan September 2018 lalu. Berbagai tafsir pun bermunculan.

Bahkan ada yang mengaitkan dengan momentum politik tahun 2019. Robohnya pohon gada ditafsirkan sebagai tanda pergantian kekuasaan. Menurut Amang batang kayu Gada yang dipotong potong itu sempat menjadi rebutan orang orang di lingkungan Istana Gebang.  

Tidak sedikit yang digunakan untuk mebelair (meja). Melihat itu dirinya bersama sejumlah seniman Blitar memutuskan ikut ambil bagian. Bukan untuk kepentingan pribadi. Potongan kayu itu dibuat karya seni (kentongan berelief epos Ramayana) yang akan dipasang di Istana Gebang.

“Dan dalam mengerjakan karya seni ini tidak ada campur tangan pemerintah. Kita melakukannya dengan swadaya. Semua kebutuhan operasional kita penuhi dengan cara gotong royong, urunan, “kata Amang yang mengaku pernah kuliah tekhnik mesin di salah satu kampus Malang.

Selain karya seni kentongan berukir epos Ramayana, potongan kayu gada lainnya dipahat menjadi patung Bung Karno. Pengerjaan yang dimulai akhir November 2018 lalu masih berjalan kurang dari 50 persen. Rencananya patung Bung Karno  setengah badan itu akan ditempatkan di dalam rumah induk Istana Gebang. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.