READING

Dianggap Mengganggu, Penggunaan Sound System Ronda...

Dianggap Mengganggu, Penggunaan Sound System Ronda Sahur di Blitar Dilarang

BLITAR- Semua umat Islam yang berpuasa di bulan ramadan berharap bisa melaksanakan sahur dengan nyaman. Tidak hanya menikmati menu makanan yang sudah disiapkan. Umat juga berharap bisa berdoa sahur dengan khusyuk dan tenang.

Berangkat dari kenyamanan itu Pemerintah Kabupaten Blitar melarang para peronda sahur menggunakan sound system. Alih alih menggugah. Irama musik yang disetel keras keras itu justru dianggap merusak kenyamanan waktu makan sahur.

Gelegar sound system peronda sahur itu juga dianggap menganggu istirahat masyarakat lain, yakni mereka yang tidak berkewajiban berpuasa ramadan. “Karenannya kami melarang penggunaan sound system dalam ronda sahur, “ujar Bupati Blitar Rijanto.

Sudah tiga tahun terakhir ini sahur ramadan diramaikan dentum sound system. Celakanya tidak hanya sekedar menggugah. Sound system yang ditempatkan diatas truk itu juga digunakan untuk jor joran.  Ronda sahur sengaja dijadikan ajang kompetisi suara.

Tidak hanya membuat orang terjaga. Suara yang kelewat berisik itu juga menganggu, yakni terutama bagi manula dan balita. Karena pengaruh hobi miniatur truk kayu yang lagi booming, para peronda sahur berganti mengusung miniatur. Kendati demikian daya berisiknya tetap  sama. “Dan faktanya memang menganggu, “tuturnya.

Larangan ini disampaikan Pemkab Blitar melalui surat edaran resmi yang disebarkan ke seluruh kepala desa dan camat. Dengan menggandeng pihak berwajib, pemkab mengancam adanya tindakan tegas bagi para pelanggar. Kepada para peronda sahur Rijanto menyarankan digunakannya kembali peralatan tradisional.

Seperti jaman dulu, peronda cukup memainkan irama kentongan bambu dan semacamnya. “Lebih baik kembali menggunakan peralatan tradisional, “kata Rijanto.

Dalam kesempatan itu Rijanto juga menghimbau pedagang makanan dan minuman yang berdagang siang hari untuk memasang tabir atau satir di warungnya. Kepada mereka yang mendaras ayat suci Al Quran (tadarus) dengan pengeras suara, Pemkab Blitar membatasi hingga pukul 10 malam. 

Anggraeni (32) warga Kecamatan Wonodadi mendukung larangan penggunaan sound system dalam kegiatan ronda sahur. Sebagai ibu rumah tangga dengan dua balita, dirinya merasa terganggu. Bahkan menurutnya aktivitas mengingatkan sahur tidak perlu dilakukan berkeliling. Tapi cukup disuarakan melalui pengeras suara di masjid atau mushola. 

“Sebab sound system keliling itu kenyataanya sudah sangat menganggu. Namun selama ini masyarakat, terutama orang tua yang memiliki anak kecil hanya bisa mengeluh, “katanya. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.