READING

Didalam Lapas Aktivis Anti Korupsi Sebut Banyak Or...

Didalam Lapas Aktivis Anti Korupsi Sebut Banyak Orang Tidak Bersalah Dipenjara

BUTUH waktu kurang lebih setengah jam untuk antri menunggu. Mau membezuk siapa sepertinya menjadi pertanyaan wajib petugas pelayanan Lembaga Pemasyarakatan. Begitu juga saat hendak membezuk aktivis anti korupsi Moh Triyanto di Lapas Klas II B Blitar.  

Pemeriksaan berlangsung ketat dan berlapis. Usai kartu identitas  (KTP atau SIM) diserahkan, sidik jari pembezuk langsung dipindai. Jari ditempelkan ke atas piranti yang  otomatis merekam.

“Setelah ini foto dulu ya, “tutur petugas mengarahkan dengan nada ramah. Sebelum dimulai, pandangan mata diminta menghadap kamera mungil yang nangkring diatas layar monitor komputer.

Tidak ada bunyi spesifik apapun. Juga tidak ada cahaya blitz. Pada monitor komputer terlihat jepretan foto setengah badan. “Sudah selesai. Silahkan ditunggu, nanti akan dipanggil, “kata petugas yang sama.

Setelah proses foto dan pengambilan sidik jari selesai, pembezuk diminta menunggu di ruangan yang sama. Petugas akan memanggil untuk diberikan surat pengantar masuk ke dalam lapas.

Barang barang seperti ponsel, dompet, dan termasuk uang diharuskan ditinggal di dalam loker yang disediakan. Kunci loker dibawa pembezuk sendiri. Untuk barang bawaan dimasukkan dulu ke ruangan khusus melalui jendela kaca mirip loket karcis berukuran lebih besar.

Semisal nasi bungkus, bungkusnya pun dibuka. Begitu juga dengan makanan lain. Juga dibongkar. Semua itu sebagai antisipasi penyelundupan.

“Kalau rokok gak usah. Ditaruh saku sendiri saja, “kata petugas memberi tahu dua orang lelaki berusia paruh baya yang tengah membezuk keluarganya.  

Sesuai nomor urut surat pengantar, pembezuk masuk lima lima. Di pintu pertama menyambut empat sipir. Di dalam ruangan sebesar room smoking area di bandara, sekujur tubuh diperiksa. Juga rokok dan barang apapun yang berada di saku.

Begitu dianggap klir, keplek kunjungan langsung diberikan, artinya pengunjung bisa langsung menuju ruang kunjungan. Sebuah ruangan memanjang dengan pondasi semen menonjol di bagian tengah. Pondasi berfungsi sebagai sekat pemisah tempat duduk pembezuk dengan penghuni lapas.

Saat Jatimplus tiba di ruang bezuk, Triyanto belum ada. Tidak selang lama, terdengar suara loud speaker memanggil namanya. Triyanto datang mengenakan kaus oranye bertuliskan warga binaan. Juga mengenakan peci. Badan aktivis anti korupsi itu memang lebih kurus. Namun senyumnya tetap sumringah. Tegar.

Sebatang rokok putihan disulutnya. Dihisapnya dalam dalam. “Gak papa. Namanya perjalanan hidup, “kata Triyanto santai sambil menghembuskan asap ke udara.

Triyanto disel bersama 15 orang pesakitan lainnya. Hubungannya dengan sesama penghuni lapas terjalin baik. Begitu juga dengan sipir penjara dan tamping, juga baik.  Karenanya dia membantah desas desus bahwa di dalam penjara dirinya sempat dihajar sampai babak belur. “Disini semuanya baik. Bahkan saya menjadi tempat curhat penghuni lainnya. Kabar kalau saya dipukuli itu tidak benar, “katanya.

Kendati demikian Triyanto tetap bersiteguh tidak bersalah. Kalaupun tetap dianggap menyalahi UU ITE, pihak pemberi informasi Bupati Blitar mendapat surat panggilan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), yakni kontraktor dan staf dinas PUPR Kabupaten Blitar, kata dia juga harus ditangkap.

“Saya berharap polisi bisa bersikap adil, “tegasnya.

Dari penjara Triyanto juga menulis surat terbuka. Dua lembar surat itu diunggah aktivis Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK) di media sosial facebook. Ditulisnya bahwa tidak semua penghuni lapas orang yang bersalah. Diduga banyak orang yang menjadi pesakitan karena korban rekayasa hukum.

“Tidak semua penghuni lapas orang jahat. Diduga banyak orang baik yang terdampar disini karena rekayasa hukum, “tulis Triyanto. Dalam suratnya dia juga banyak memuji perlakuan petugas lapas yang menurutnya baik dan tidak membedakan.

Praktek pemalakan, kekerasan, perjudian dan narkoba dipastikan bersih dari Lapas Blitar. Menu makanan yang diberikan juga baik. Kesempatan menimba ilmu agama diberikan seluas luasnya. Pengajian, diskusi ilmu agama rutin  digelar di masjid lapas.

”Tak pernah aku duga sebelumnya, penjara disini mirip pondok pesantren, “tulisnya.     

Dalam suratnya Triyanto juga menuliskan, surat terbuka itu segera akan disusul surat surat berikutnya. Waktu bezuk hanya 15 menit. Sebelum dua batang rokok habis, melalui pengeras suara petugas memberitahu waktu bezuk telah habis.

Sebelum berpisah Triyanto menegaskan, meski dirinya berada di dalam penjara, gerakan perlawanan anti korupsi di Blitar Raya tidak akan pernah mati. “Di luar para aktivis KRPK akan terus menyuarakan sikap anti korupsi. Gerakan kami tidak akan mati, “tegas Triyanto.

Moh Triyanto merupakan aktivis anti korupsi Blitar. Dia juga salah aktivis program kehutanan rakyat Jawa Timur, yakni program pemerintahan Presiden Joko Widodo. Triyanto dianggap melanggar UU ITE setelah unggahan informasi adanya surat panggilan KPK untuk Bupati Blitar dipastikan palsu.

Informasi yang dia peroleh dari kontraktor dan staf Dinas PUPR Kabupaten Blitar itu dia unggah di akun facebooknya. Merasa tidak terima, Bupati Blitar Rijanto melalui Kepala Bagian Hukum melapor ke Polres Blitar.

Saat menjalani wajib lapor sebagai tersangka, Triyanto tiba tiba ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Hingga kini dia tetap menuntut polisi menangkap pemberi informasi dan pembuat surat palsu KPK. (*)   

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.