READING

Didi Kempot, Kebanggaan Warga Ngawi di Perantauan

Didi Kempot, Kebanggaan Warga Ngawi di Perantauan

“ Di pita suara Didi Kempot lagu campursari begitu populer. Menembus jaman dan genre penikmat musik, Didi Kempot menjadi harta sekaligus warisan kebanggaan masyarakat Ngawi. ”

Lelaki berseragam biru itu serius memandang laptop. Matanya nanar membaca lirik lagu Banyu Langit yang tertera di mode karaoke.

sworo angin angin sing ngeridu ati
ngelingake sliramu sing tak tresnani
pingin nangis ngetoke eluh neng pipi
suwe ra weruh senadyan mung ono mimpi

ngalemo ngalem neng dadaku
tambanono roso kangen neng atiku
ngalemo ngalem neng aku
ben ra adem kesiram udan ing dalu

“Setiap mendengar lagu ini, sebagian jiwa saya terlempar ke masa lalu. Saat masih terjebak cinta monyet di SMA Ngawi,” tutur Kelik Ardiansyah, staf Kantor Imigrasi Kediri kepada Jatimplus.ID, Rabu 24 Juli 2019.

Kelik Ardiansyah tak memiliki ikatan kekerabatan dengan Didi Kempot, penyanyi sekaligus pencipta lagu Banyu Langit. Namun Kelik menganggap punya ikatan emosional dengan penyanyi campursari ini lantaran sama-sama berasal dari Ngawi, Jawa Timur.

Kelik lahir di Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Sedangkan Didi Prasetyo atau Didi Kempot lahir di Dusun Sidowayah, Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Keduanya hanya berjarak 10 kilometer.  

Tempat kelahiran Didi Kempot ini dia ulang berkali-kali untuk menegaskan jika sang maestro bukan berasal dari Solo. Sebab selama ini banyak media massa yang menulis Didi Kempot sebagai penyanyi asal Solo. Klaim ini diduga berdasar lagu-lagu Didi Kempot yang banyak bercerita tentang tempat-tempat di Solo. “Padahal dia asli Ngawi, sama seperti Mamik (Srimulat) yang lahir di Ngawi,” tegas Kelik.

Sebagai anak muda yang lahir di era industri pop – rock, Kelik Ardiansyah selalu menyelipkan kaset pita campursari Didi Kempot di antara deretan kaset Sheila on 7, D’Masiv, Ungu, dan Peterpan. Meski berbeda genre, lagu Didi Kempot paling menyentuh jika bicara soal kesedihan dan patah hati. Bahkan lirik  D’Masiv yang dianggap paling frustasi pun tak mampu menandingi kepedihan Didi Kempot yang dilantunkan dalam bahasa Jawa.

Entah karena kedekatan primordial atau kosakata bahasa Jawa yang jauh lebih kaya di banding bahasa Indonesia, lagu Didi Kempot lebih nendang bagi Kelik. Bahkan lagu lama seperti Stasiun Balapan yang diciptakan Didi Kempot bertahun-tahun silam masih menggetarkan hati saat diputar kembali.

Kelik Ardiansyah warga Ngawi mendengarkan lagu Didi Kempot di Kantor Imigrasi Kediri. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

Sebelum bekerja di Kantor Imigrasi dan hijrah ke Kediri, Kelik dan kawan-kawannya kerap memainkan lagu Didi Kempot. Bersama band mereka yang dinamai Coint, grup ini menyelipkan campursari Didi Kempot meski telah memproduksi lagu sendiri bergenre rock. “Lagu Didi Kempot lebih gampang menarik penonton menyanyi bersama,” katanya.

Nama Didi Kempot kembali populer setelah penyiar radio dan content creator Youtube Goman Hilman mengundangnya di acara Ngobam (ngobrol bareng musisi) beberapa waktu lalu. Berbeda dengan acara sebelumnya yang dilakukan secara on-air, kali ini wawancara Didi Kempot di Cafe Gulo Klopo Solo dilakukan dengan off-air.

Acara ini sukses besar dan sempat menjadi trending twitter lantaran dihadiri banyak sekali sad boy dan sad girl, panggilan bagi para fans Didi Kempot. Mereka pun menyematkan julukan kepada sang maestro sebagai Godfather of Broken Heart.

Lantas apa komentar Didi Kempot?

“Ya kalau anak-anak muda njenengke aku atau nobatne aku nggih monggo mawon. Tujuan saya berseni. Saya nggak nyangka kalau cah enom-enom memperhatikan lagunya Didi Kempot. Ternyata Solo kota budaya, anak-anak mudanya betul-betul pemerhati seni. Sangat luar biasa,” ungkap Didi Kempot seperti diunggah akun Radar Solo TV di Youtube 15 Juni 2019.

Sejarah Kempot

Banyak yang menafsirkan jika kata Kempot yang melekat pada penyanyi kelahiran 31 Desember 1966 ini berhubungan dengan bentuk pipi yang melesak ke dalam. Kempot juga melekat pada penggambaran wajah perempuan tua yang telah ompong. Padahal bukan.

Kempot adalah sebuah singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup pengamen asal Solo yang membawa Didi hijrah ke Jakarta.

Tak langsung terkenal dan masuk dapur rekaman, perjuangan Didi menjadi musisi di ibu kota sangat keras. Bahkan dia menginjakkan kaki di Jakarta pada medio 1984 – 1985 sebagai pengamen, profesi yang telah dia lakoni sejak di Solo.

“Saya berangkat dari pengamen jalanan pada 1986, dari 1984 hingga 1985 saya ngamen di Solo. 1987 sampai 1989 mencoba mengadu nasib di Jakarta. Saya berkumpul dengan teman-teman di Slipi, Palmerah, terkadang di Cakung atau di Senen,” kata Didi seperti ditulis Okezone.com.

Kala itu, musisi jalanan seperti dirinya masih menggunakan cara tradisional untuk menawarkan lagu ke produser. Yakni merekam sendiri lagu mereka ke dalam kaset pita melalui tape recorder. Jika lagu mereka diterima, nasib baik sudah membentang di depan mata. Jika tertolak, kehidupan jalanan telah menanti sebagai pengamen.

Kini Didi Kempot telah berjaya. Melewati kerasnya hidup sebagai pengamen jalanan, seniman asal Ngawi ini sukses membalik nasib. Lagu-lagunya tak lekang oleh zaman. “Didi Kempot adalah salah satu alasan untuk mencintai Ngawi,” ungkap Kelik Ardiansyah.

Print Friendly, PDF & Email

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.